<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180</id><updated>2011-04-21T15:14:32.662-07:00</updated><category term='Cerpen'/><category term='Aboutme'/><category term='Novel'/><category term='esai'/><title type='text'>ABIMANYU WAHYU PALAGAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-5380683746901240934</id><published>2008-02-23T22:44:00.000-08:00</published><updated>2008-02-23T22:45:25.906-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Belajar Membaca dan Menulis (Sastra)</title><content type='html'>Catatan Kecil Hary B Kori’un &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;DALAM acara diskusi tiga novel pemenang Ganti Award II 2005 (Getah Bunga Rimba [Marhalim Zaini], Jembatan [Olyrinson] dan Malam, Hujan [Hary B Kori’un, pen])  yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Pekanbaru di Aula Perpustakaan Wilayah, Sabtu (11/6) lalu, salah seorang peserta yang masih sangat muda,  bertanya kepada pembicara; Deded Er Moerad,  Marhalim Zaini, Olyrinson dan saya sendiri (penulis). “Tadi, para pembicara mengatakan bahwa ketiga novel yang sedang didiskusikan ini berusaha membumi dan mudah dipahami oleh siapapun. Tetapi bagi saya, karya sastra, termasuk ketiga novel ini, tetap berat dan saya tidak paham apa yang dimaksudkan oleh para pengarangnya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu sebenarnya ditujukan kepada saya, karena sebelum gadis muda yang masih berseragam sekoah itu bertanya, saya memaparkan dan meyakinkan bahwa novel Malam, Hujan, adalah novel yang mudah dipahami, berusaha menggambarkan waktu dan tempat sedetail mungkin seolah-olah pembaca sedang menonton sebuah film, dan dengan bahasa yang tak perlu mengerutkan dahi. Namun, mendengar itu,  saya menjadi mafhum dan berusaha untuk memahami kondisi masyarakat kita secara umum yang memang masih asing dengan buku. Meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma, kita menulis di sebuah masyarakat  yang tidak membaca (sesuatu yang juga dikatakan oleh Marhalim dalam peluncuran novel-novel ini di Bandar Serai beberapa waktu yang lalu). &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi tersebut, banyak hal yang dipaparkan baik oleh Marhalim, Deded maupun Olyrinson. Marhalim mengejaskan bahwa proses penciptaan novelnya yang kemudian menjadi novel terbaik tersebut, berawal dari kehidupan rutin ketika dia masih berada di kampung halamannya di Teluk Pambang, Bengkalis. Suasana perkampungan, kebun karet, kehidupan yang sederhana dan tenang dan ornamen-ornamen kampung lainnya, merupakan ihwal dari terciptanya ide novel itu. “Saya menulis berawal dari hal-hal biasa di sekitar saya dan ini yang selalu menjadi sumber inspirasi saya, dan untuk menambah pengayaan ide, saya membaca buku dan mempelajari lingkungan yang lain,” jelas pengajar teater di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) ini. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sama dengan Marhalim, Olyrinson juga menciptakan karya dengan ide dari kehidupan sehari-hari.  Ide dari novel Jembatan didapatnya ketika dia pulang-pergi dari Pekanbaru-Siak dengan melewati penyeberangan di Perawang. Cerita tentang kehidupan yang biasa ini menjadi istimewa di tangan Oly karena banyak sisi humanis yang dipaparkan. “Saya tidak bisa menulis novel bagus, saya hanya bicara tentang keseharian,” jelas pegawai sebuah perusahaan kontraktor perminyakan ini. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Deded, seniman senior yang pernah lama tinggal di Jogjakarta, Jakarta dan Belanda, menjelaskan bahwa ketiga novel tersebut telah mampu melakukan eksplorasi estetika baik dalam bentuk maupun isi cerita. Deded mengatakan, seorang pengarang harus selalu mencari ide dan estetika dan memberikan pemikiran-pemikiran baru kepada pembacanya. “Kalau seorang pengarang tidak melakukan itu, maka ia akan ditinggalkan pembacanya,” jelas lelaki yang dekat dengan WS Rendra ini.*** &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BULAN Mei lalu, ketika punya kesempatan ke Surabaya, saya bertemu dengan tiga orang yang sudah eksis di dunia sastra. Mereka adalah mahaguru sastra Pak Budi Darma (saya memanggilnya “Pak” sebagai rasa hormat saya), pengarang produktif Kurnia Effendi yang sedang ada acara di Surabaya dan pengarang wanita Lan Fang yang memang tinggal di Surabaya. Kami ngobrol di rumah Pak  Budi di komplek perumahan IKIP Surabaya bersama beberapa rekan yang lain. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat beruntung, untuk keduakalinya saya bisa bercengkrama begitu lama dengan Pak Budi. Pertemuan pertama terjadi di Kayu Tanam, Sumatera Barat pada tahun 1997  saat Pertemuan Sastrawan Nusantara di klompleks INS Kayu Tanam. Ketika itu, saya masih hijau dan baru tumbuh sehingga saya merasa apa yang dijelaskan oleh Pak Budi dan teman-teman lainnya saat itu, terasa sulit saya cerna. Maklumlah, belum banyak buku yang saya baca karena susahnya mendapatkan buku yang bermutu baik di universitas maupun di toko buku. Untuk membeli harganya tak terjangkau oleh kantong mahasiswa, sementara tidak ada kawan yang mau meminjamkan. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kondisi ini tidak membuat saya patah semangat. Pelan tapi pasti, akhirnya saya mendapatkan beberapa buku Pak Budi seperti Olenka, Rafilus, Ny. Talis  dan  Orang-orang Bloomington.  Belakangan cerpen-cerpennya juga mulai saya gemari seperti Mata yang Indah  dan Derabat yang pernah menjadi cerpen terbaik Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, apa yang dikatakan Pak Budi ini ada manfaatnya bagi kita. Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andai kata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.” &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perbincangan di rumahnya di malam yang hujan itu, Pak Budi lebih banyak menjadi moderator dan penyimpul diskusi, namun dengan bernas kata-katanya benar-benar mencengangkan. Misalnya, ketika kami diskusi tentang wacana muatan lokal dalam sastra Indonesia, Pak Budi mengatakan bahwa lokalitas sebuah karya itu tak bisa dipaksakan antara lokalitas daerah, lokalitas budaya atau lokalitas pemikiran. “Belum tentu seseorang yang hidup di lokalitas budaya dan daerah yang sama, memiliki lokalitas pemikiran yang sama juga,” katanya. Dia mencontohkan, pluralisme yang tumbuh di Riau. Menurutnya, lokalitas yang bisa diciptakan dengan baik di Riau adalah lokalitas daerah, tetapi tidak bisa dipaksakan lokalitas budaya dan pikiran. “Lokalitas daerah ya Riau itu. Tak bisa dipaksakan orang Minangkabau, Batak, Banjar atau Jawa yang hidup di sana, harus menulis sastra dengan latar belakang lokalitas budaya Melayu,” kata Pak Budi ketika itu. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pokok awal masalah tadi, bahwa apa yang dijelaskan oleh Pak Budi bagaimana proses penciptaannya, merupakan contoh bagaimana seorang pengarang menggarap ide-ide yang berbeda. Pak Budi sendiri mengakui, meski dia sudah lama tinggal dan menetap di Surabaya, namun dia sangat tidak fasih berbicara tentang kebudayaan yang berkembang di Surabaya, termasuk persoalan sosiologis masyarakat Jawa Timur yang berbeda dengan masyarakat Jawa Tengah di mana dia lahir di Rembang.  Tipe masyarakat Jawa Timur cenderung terus terang dan keras, sementara Jawa Tengah lebih tertutup, mengutamakan sopan-santun dan bicara dengan lembut. “Tapi dalam proses penciptaan, saya kira seharusnya pengarang tidak harus memikirkan batasan-batasan karena itu akan memasung proses kreatifnya,” kata Guru Besar IKIP Surabaya ini.*** &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEGITU keluar dari rumah Pak Budi, baik saya, Kurnia Effendi maupun Lan Fang sepanjang jalan merasakan ada hal besar dan banyak yang kami dapatkan. “Ini bedanya orang-orang muda dengan mereka yang sudah lama makan asam-garam hidup. Pak Budi banyak berkarya, dan sedikit bicara,” kata Kurnia, pengarang yang sudah menerbitkan banyak buku novel maupun kumpulan cerpen seperti Senapan Cinta, Bercinta di Bawah Bulan, Selembut Lumut Gunung, Aura Negri Cinta dan sebagainya itu. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurnia Effendi adalah generasi pengarang seangkatan Gus tf Sakai yang memulai menulis cerita remaja dan dimuat di Majalah Gadis, Anita Cemerlang, Aneka Ria atau Ceria Remaja. Seperti juga Gus, Kurnia juga sering memenangkan berbagai sayembara penulisan cerita (cerpen dan novel) remaja. Seiring pertumbuhan usia, keduanya juga merambah sastra serius dan karya-karyanya mulai menembus media serius seperti Horison, Kompas, Republika, Media Indonesia dan akhirnya mendapat pengakuan secara luas. “Bagi saya, menulis tak perlu memilih genre. Saya menulis apa saja yang bisa ditulis dan dikirimkan ke media yang sesuai dengan tulisan itu,” katanya suatu kali. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya Lan Fang. Perempuan berdarah Cina ini selama ini eksis dengan dunia kepengarangan ketika cerpen maupun cerita bersambungnya memenangkan lomba yang diadakan oleh Majalah Wanita Femina atau Kartini dan beberapa novelnya yang telah menjadi buku seperti Kembang Gunung Purei, Pai Yin hingga kumpulan cerpen terbarunya, Lelaki yang Salah. Wanita kelahiran Banjarmasin ini mengakui bahwa proses kepengarangannya dilalui tanpa mencari kerumitan. “Pokoknya saya menulis cerita, banyak yang dimuat media, banyak juga yang ditolak. Tetapi saya terus menulis,” katanya. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, apa yang saya tulis ini, hanya ingin memberi gambaran bahwa dunia kepenulisan itu tidak terlalu rumit, asal kita terus mau mencoba dan mencoba, termasuk membaca dan membaca. Seorang pengarang yang baik adalah ketika karyanya bisa berkomunikasi dengan pembacanya, sementara seorang pembaca yang baik adalah ketika dia bisa berkomunikasi dengan bacaannya tanpa harus mencari pemahaman dari yang lain. Semakin bingung, kan?***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-5380683746901240934?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/5380683746901240934/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=5380683746901240934' title='31 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/5380683746901240934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/5380683746901240934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2008/02/belajar-membaca-dan-menulis-sastra.html' title='Belajar Membaca dan Menulis (Sastra)'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>31</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-1820088487931631305</id><published>2008-02-23T22:40:00.000-08:00</published><updated>2008-02-23T22:41:13.132-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Cerita Remaja yang "Serius"</title><content type='html'>* Diskusi dan Bedah Novel “Jejak Hujan”     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABTU (12/9) lalu bertempat di Geleri Buku Ibrahami Sattah Kompleks Bandar Serai Pekanbaru, sebuah diskusi dan bedah novel berjudul Jejak Hujan karya Hary B Kori’un, diselenggarakan oleh Komunitas Paragraf. Kegiatan ini merupakan sebuah ruang bagi peminat sastra di kota ini untuk bertukar pikiran setelah kegiatan-kegiatan seperti ini akhir-akhir ini sepi. Tampil sebagai pembedah adalah Olyrinson, sastrawan muda “spesialis lomba” yang belakangan karya-karya prosanya cukup mendapat tempat di media nasional. Terakhir, cerpennya dimuat di Majalah Horison. Di awal pembicaraannya Oly mengatakan bahwa ia merasa tertantang ketika ditawari menjadi pembedah novel ini, sebab meski “hanya” berlabel novel remaja, tetapi novel ini adalah novel unggulan (10 Besar) dalam Lomba Mengarang Novel Remaja Nasional 2005 yang diselenggarakan oleh Penerbit Grasindo dan Radio Belanda. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya Oly menyangka bahwa novel ini sama dengan kebanyakan novel remaja saat ini yang bergenre teenlit atau chicklit dengan cerita cinta biasa dan hanya mengandalkan dialog tanpa penokohan dan plot yang kuat. Namun ternyata, kata Oly, “Ketika saya membaca novel ini, semua yang saya  itu tak ada. Ini novel yang serius dengan penokohan dan plot yang kuat dan sangat pantas menjadi 10 Besar dari 621 naskah yang masuk dalam lomba tersebut,” jelas menulis novel Sinambela Dua Digit dan Jalan Menurun ini. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makalah panjang berjudul Jejak Hujan: Novel Remaja dengan Prespektif Dewasa, Oly membahas banyak hal yang membedakan novel ini dari novel remaja kebanyakan. Misalnya, jika biasanya novel remaja ditulis dengan ringan dengan plot linier, Jejak Hujan ditulis dengan bahasa serius, cerita yang serius dan dengan alur cerita bolak-balik sehingga kalangan remaja yang terbiasa membaca novel remaja ringan, menjadi agak berat ketika membaca novel ini. “Kita tak akan menemukan kata-kata yang sering dipakai dalam sastra remaja seperti gitu lho, dong, deh, lo, gue dan sebagainya yang selama ini menjadi pakem dalam sastra remaja,” jelas Oly yang menjadi salah satu nominator Ganti Award 2005 ini. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi tersebut, Alang Rizal justru mengatakan, barangkali karena memakai bahasa serius dan cerita yang serius itu, novel ini tidak menjadi pemenang dalam lomba tersebut. “Karena mungkin yang diinginkan penyelenggara adalah karya yang ringan dan encer, sehingga novel ini gagal menjadi pemenangnya,” jelas Alang. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta diskusi lainnya, sastrawan muda Griven H Putra, melihat bahwa novel Jejak Hujan memiliki kekuatan yang memang tidak dimiliki oleh novel remaja lainnya. “Keditailan penulis dalam menulis novel ini adalah salah satu kekuatannya, karena dengan begitu pengarang tidak asal menulis cerita,” jelas Griven. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murparsaulian mempertanyakan mengapa pengarang memakai puisi Goenawan Mohammad dalam novelnya, hal yang sama juga dipertanyakan Oly dalam makalahnya. “Apakah puisi itu menguatkan atau malah melemahkan cerita? Mengapa harus puisi Goenawan, mengapa bukan puisi Marhalim Zaini atau Hang Kafrawi yang lebih dekat dengan pengarang?” tanya presenter Rtv yang juga salah seorang sastrawan perempuan Riau itu. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembahasan sekitar penggunaan puisi berjudul “Senja pun Jadi Kecil Kota pun Jadi Putih” yang ditulis Goenawan tahun 1966 itu, Hang Kafrawi memberi pembelaan. “Bisa jadi, puisi Goenawan itu yang lebih pas mendukung cerita,” jelas Direktur Akademi Kesenian Melayu Riau  (AKMR) ini. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi berdurasi dua jam yang dipandu moderator Budy Utamy itu, Marhalim Zaini justru “menggugat” kesadaran para penulis prosa di Riau, terutama yang masih remaja, yang tidak ikut ambil bagian dalam “pesta” novel chicklit dan teenlit yang bisa menjadi proses untuk pencapaian ke sastra serius. “Saya tidak tahu apakah memang minat penulis kita yang tidak ada atau kesalahan para senior yang tak bisa membimbing para yuniornya,” jelas penulis novel Getah Bunga Rimba  yang mendapatkan penghargaan utama Ganti Award 2005 ini dan juga koordinator Komunitas Paragraf yang baru saja terbentuk ini. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sesi “menjawab”, penulis novel Jejak Hujan, Hary B Kori’un menjelaskan alasannya mengutip puisi Goenawan Mohammad dalam novelnya bukan semata-mata untuk gagah-gagahan, tetapi memang karena kebutuhan cerita. “Dalam cerita itu, tokoh utama perempuan, Weny, adalah seorang anak yang cerdas dan menyukai sastra sejak kecil. Maka menurut saya, sangat wajar kalau dia sudah membaca puisi Goenawan ketika masih duduk di bangku SMP,” jelas penulis yang sudah menerbitkan empat novelnya ini. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain, Hary juga menjelaskan bahwa ketika dia mengikuti lomba mengarang novel tersebut, dia tidak yakin novelnya akan masuk penilaian, karena novel Jejak Hujan bukanlah novel genre remaja, tetapi novel serius. Maka, menurutnya, ketika dia tahu novelnya masuk nominasi, itu sebuah kejutan baginya. “Dan ketika saya bertemu dengan dua orang jurinya, yakni Veven SP Wardana dan Maman S Mahayana, baru saya yakin bahwa juri memang bekerja keras dalam lomba ini. Menurut mereka, novel saya memang tak bergenre remaja, tetapi sayang kalau dimasukkan dalam tong sampah dalam lomba itu karena katanya secara kualitas lumayan,” jelasnya.(riau pos)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-1820088487931631305?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/1820088487931631305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=1820088487931631305' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/1820088487931631305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/1820088487931631305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2008/02/cerita-remaja-yang-serius.html' title='Cerita Remaja yang &quot;Serius&quot;'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-7907941495744826262</id><published>2008-02-23T22:35:00.000-08:00</published><updated>2008-02-23T22:37:44.290-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>esai</title><content type='html'>Belajar Membaca dan Menulis (Sastra) &lt;br /&gt;Catatan Kecil Hary B Kori’un &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;DALAM acara diskusi tiga novel pemenang Ganti Award II 2005 (Getah Bunga Rimba [Marhalim Zaini], [Olyrinson] dan Malam, Hujan [Hary B Kori’un, pen])  yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Pekanbaru di Aula Perpustakaan Wilayah, Sabtu (11/6) lalu, salah seorang peserta yang masih sangat muda,  bertanya kepada pembicara; Deded Er Moerad,  Marhalim Zaini, Olyrinson dan saya sendiri (penulis). “Tadi, para pembicara mengatakan bahwa ketiga novel yang sedang didiskusikan ini berusaha membumi dan mudah dipahami oleh siapapun. Tetapi bagi saya, karya sastra, termasuk ketiga novel ini, tetap berat dan saya tidak paham apa yang dimaksudkan oleh para pengarangnya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu sebenarnya ditujukan kepada saya, karena sebelum gadis muda yang masih berseragam sekoah itu bertanya, saya memaparkan dan meyakinkan bahwa novel Malam, Hujan, adalah novel yang mudah dipahami, berusaha menggambarkan waktu dan tempat sedetail mungkin seolah-olah pembaca sedang menonton sebuah film, dan dengan bahasa yang tak perlu mengerutkan dahi. Namun, mendengar itu,  saya menjadi mafhum dan berusaha untuk memahami kondisi masyarakat kita secara umum yang memang masih asing dengan buku. Meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma, kita menulis di sebuah masyarakat  yang tidak membaca (sesuatu yang juga dikatakan oleh Marhalim dalam peluncuran novel-novel ini di Bandar Serai beberapa waktu yang lalu). &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi tersebut, banyak hal yang dipaparkan baik oleh Marhalim, Deded maupun Olyrinson. Marhalim mengejaskan bahwa proses penciptaan novelnya yang kemudian menjadi novel terbaik tersebut, berawal dari kehidupan rutin ketika dia masih berada di kampung halamannya di Teluk Pambang, Bengkalis. Suasana perkampungan, kebun karet, kehidupan yang sederhana dan tenang dan ornamen-ornamen kampung lainnya, merupakan ihwal dari terciptanya ide novel itu. “Saya menulis berawal dari hal-hal biasa di sekitar saya dan ini yang selalu menjadi sumber inspirasi saya, dan untuk menambah pengayaan ide, saya membaca buku dan mempelajari lingkungan yang lain,” jelas pengajar teater di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) ini. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sama dengan Marhalim, Olyrinson juga menciptakan karya dengan ide dari kehidupan sehari-hari.  Ide dari novel Jembatan didapatnya ketika dia pulang-pergi dari Pekanbaru-Siak dengan melewati penyeberangan di Perawang. Cerita tentang kehidupan yang biasa ini menjadi istimewa di tangan Oly karena banyak sisi humanis yang dipaparkan. “Saya tidak bisa menulis novel bagus, saya hanya bicara tentang keseharian,” jelas pegawai sebuah perusahaan kontraktor perminyakan ini. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Deded, seniman senior yang pernah lama tinggal di Jogjakarta, Jakarta dan Belanda, menjelaskan bahwa ketiga novel tersebut telah mampu melakukan eksplorasi estetika baik dalam bentuk maupun isi cerita. Deded mengatakan, seorang pengarang harus selalu mencari ide dan estetika dan memberikan pemikiran-pemikiran baru kepada pembacanya. “Kalau seorang pengarang tidak melakukan itu, maka ia akan ditinggalkan pembacanya,” jelas lelaki yang dekat dengan WS Rendra ini.*** &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BULAN Mei lalu, ketika punya kesempatan ke Surabaya, saya bertemu dengan tiga orang yang sudah eksis di dunia sastra. Mereka adalah mahaguru sastra Pak Budi Darma (saya memanggilnya “Pak” sebagai rasa hormat saya), pengarang produktif Kurnia Effendi yang sedang ada acara di Surabaya dan pengarang wanita Lan Fang yang memang tinggal di Surabaya. Kami ngobrol di rumah Pak  Budi di komplek perumahan IKIP Surabaya bersama beberapa rekan yang lain. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat beruntung, untuk keduakalinya saya bisa bercengkrama begitu lama dengan Pak Budi. Pertemuan pertama terjadi di Kayu Tanam, Sumatera Barat pada tahun 1997  saat Pertemuan Sastrawan Nusantara di klompleks INS Kayu Tanam. Ketika itu, saya masih hijau dan baru tumbuh sehingga saya merasa apa yang dijelaskan oleh Pak Budi dan teman-teman lainnya saat itu, terasa sulit saya cerna. Maklumlah, belum banyak buku yang saya baca karena susahnya mendapatkan buku yang bermutu baik di universitas maupun di toko buku. Untuk membeli harganya tak terjangkau oleh kantong mahasiswa, sementara tidak ada kawan yang mau meminjamkan. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kondisi ini tidak membuat saya patah semangat. Pelan tapi pasti, akhirnya saya mendapatkan beberapa buku Pak Budi seperti Olenka, Rafilus, Ny. Talis  dan  Orang-orang Bloomington.  Belakangan cerpen-cerpennya juga mulai saya gemari seperti Mata yang Indah  dan Derabat yang pernah menjadi cerpen terbaik Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, apa yang dikatakan Pak Budi ini ada manfaatnya bagi kita. Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andai kata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.” &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perbincangan di rumahnya di malam yang hujan itu, Pak Budi lebih banyak menjadi moderator dan penyimpul diskusi, namun dengan bernas kata-katanya benar-benar mencengangkan. Misalnya, ketika kami diskusi tentang wacana muatan lokal dalam sastra Indonesia, Pak Budi mengatakan bahwa lokalitas sebuah karya itu tak bisa dipaksakan antara lokalitas daerah, lokalitas budaya atau lokalitas pemikiran. “Belum tentu seseorang yang hidup di lokalitas budaya dan daerah yang sama, memiliki lokalitas pemikiran yang sama juga,” katanya. Dia mencontohkan, pluralisme yang tumbuh di Riau. Menurutnya, lokalitas yang bisa diciptakan dengan baik di Riau adalah lokalitas daerah, tetapi tidak bisa dipaksakan lokalitas budaya dan pikiran. “Lokalitas daerah ya Riau itu. Tak bisa dipaksakan orang Minangkabau, Batak, Banjar atau Jawa yang hidup di sana, harus menulis sastra dengan latar belakang lokalitas budaya Melayu,” kata Pak Budi ketika itu. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pokok awal masalah tadi, bahwa apa yang dijelaskan oleh Pak Budi bagaimana proses penciptaannya, merupakan contoh bagaimana seorang pengarang menggarap ide-ide yang berbeda. Pak Budi sendiri mengakui, meski dia sudah lama tinggal dan menetap di Surabaya, namun dia sangat tidak fasih berbicara tentang kebudayaan yang berkembang di Surabaya, termasuk persoalan sosiologis masyarakat Jawa Timur yang berbeda dengan masyarakat Jawa Tengah di mana dia lahir di Rembang.  Tipe masyarakat Jawa Timur cenderung terus terang dan keras, sementara Jawa Tengah lebih tertutup, mengutamakan sopan-santun dan bicara dengan lembut. “Tapi dalam proses penciptaan, saya kira seharusnya pengarang tidak harus memikirkan batasan-batasan karena itu akan memasung proses kreatifnya,” kata Guru Besar IKIP Surabaya ini.*** &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEGITU keluar dari rumah Pak Budi, baik saya, Kurnia Effendi maupun Lan Fang sepanjang jalan merasakan ada hal besar dan banyak yang kami dapatkan. “Ini bedanya orang-orang muda dengan mereka yang sudah lama makan asam-garam hidup. Pak Budi banyak berkarya, dan sedikit bicara,” kata Kurnia, pengarang yang sudah menerbitkan banyak buku novel maupun kumpulan cerpen seperti Senapan Cinta, Bercinta di Bawah Bulan, Selembut Lumut Gunung, Aura Negri Cinta dan sebagainya itu. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurnia Effendi adalah generasi pengarang seangkatan Gus tf Sakai yang memulai menulis cerita remaja dan dimuat di Majalah Gadis, Anita Cemerlang, Aneka Ria atau Ceria Remaja. Seperti juga Gus, Kurnia juga sering memenangkan berbagai sayembara penulisan cerita (cerpen dan novel) remaja. Seiring pertumbuhan usia, keduanya juga merambah sastra serius dan karya-karyanya mulai menembus media serius seperti Horison, Kompas, Republika, Media Indonesia dan akhirnya mendapat pengakuan secara luas. “Bagi saya, menulis tak perlu memilih genre. Saya menulis apa saja yang bisa ditulis dan dikirimkan ke media yang sesuai dengan tulisan itu,” katanya suatu kali. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya Lan Fang. Perempuan berdarah Cina ini selama ini eksis dengan dunia kepengarangan ketika cerpen maupun cerita bersambungnya memenangkan lomba yang diadakan oleh Majalah Wanita Femina atau Kartini dan beberapa novelnya yang telah menjadi buku seperti Kembang Gunung Purei, Pai Yin hingga kumpulan cerpen terbarunya, Lelaki yang Salah. Wanita kelahiran Banjarmasin ini mengakui bahwa proses kepengarangannya dilalui tanpa mencari kerumitan. “Pokoknya saya menulis cerita, banyak yang dimuat media, banyak juga yang ditolak. Tetapi saya terus menulis,” katanya. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, apa yang saya tulis ini, hanya ingin memberi gambaran bahwa dunia kepenulisan itu tidak terlalu rumit, asal kita terus mau mencoba dan mencoba, termasuk membaca dan membaca. Seorang pengarang yang baik adalah ketika karyanya bisa berkomunikasi dengan pembacanya, sementara seorang pembaca yang baik adalah ketika dia bisa berkomunikasi dengan bacaannya tanpa harus mencari pemahaman dari yang lain. Semakin bingung, kan?***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-7907941495744826262?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/7907941495744826262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=7907941495744826262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/7907941495744826262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/7907941495744826262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2008/02/esai.html' title='esai'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-1728736201718179263</id><published>2008-02-23T22:23:00.000-08:00</published><updated>2008-02-23T22:26:57.695-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Novel'/><title type='text'>Novel</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FW6KKQ_ZZ2s/R8EN4FdfPoI/AAAAAAAAAAM/b8Y1nufdWJ4/s1600-h/malam%252Chujan1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FW6KKQ_ZZ2s/R8EN4FdfPoI/AAAAAAAAAAM/b8Y1nufdWJ4/s320/malam%252Chujan1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170429104387735170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Malam, Hujan&lt;br /&gt;Oleh Hary B Kori'un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prolog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATA orang, hidup adalah sebuah proses memenuhi takdir yang memang sudah dari awal digariskan kepada seseorang. Takdir dan nasib, adalah dua kata yang sama maknanya, tetapi ternyata berbeda dalam penjabarannya. Takdir datang tanpa bisa kita mencegahnya dan dia adalah sebuah bagian dari hidup sampai ke muara akhirnya. Berbeda dengan nasib, dia adalah putaran peristiwa-peristiwa yang muncul dalam fase-fase tertentu hidup manusia yang kita bisa dan boleh menawar dan melawannya. Manusia tidak boleh menyerah pada nasib, karena nasib bisa dirubah. Tetapi, melawan takdir adalah suatu hal yang sulit dilakukan. Entahlah, kadang aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi. Lalu, mengapa aku harus mendifinisikan dua kata itu?&lt;br /&gt;Aku ingin bercerita kepadamu, tentang takdir dan nasib itu. Tentang takdir dan nasib yang membuat aku kemudian menjadi paham bahwa hidup ternyata hanya bisa kita jalani, tanpa bisa kita miliki sepenuhnya. Takdir dan nasib yang membawaku pada sebuah kesimpulan, bahwa kadang-kadang kita harus kompromi dengan keadaan, dengan kenyataan dan dengan takdir itu sendiri. Aku ingin bercerita tentang seseorang yang berusaha melawan takdir dan nasibnya, tetapi menjalani hidupnya dengan mengalir bersama air. Kadang mulus dalam aliran, kadang tersangkut akar atau semak belukar. Dia menerima masa lalu buruknya tanpa harus dendam dan membenci sesiapa. Dia ingin mengubah masa depannya, namun tidak tahu jalan apa yang harus dilaluinya untuk menuju ke sana. Aku pernah memiliki keinginan untuk menuntunnya, atau bersama-sama menuju masa di depan itu, tetapi ternyata dia memiliki dunianya sendiri, dunia yang kadang-kadang tak tersentuh oleh pikiran, juga logika-logikaku, meski aku berusaha untuk menjadi paham dengan apa yang dilakukannya.&lt;br /&gt;Aku ingin bercerita tentang malam dan hujan, dan seorang Iman yang berada di dalamnya, terseret dalam arus deras yang membuatnya kemudian berpikir bahwa takdir memang benar-benar tak bisa dicegah dan dilawan dengan apapun. Dia hanya bisa melawan nasib dan membelok-belokkannya, tetapi dia tak kuasa melawan takdir, sebuah kenyataan dalam dirinya bahwa manusia hanya bisa melakukan, tanpa bisa memastikan hasil akhirnya.&lt;br /&gt;Seorang Iman, yang pernah datang dalam duniaku, saat malam dan hujan yang benar-benar menjadi cerita-cerita yang mengerikan baginya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU memanggilmu kekasih. Tidak seperti lelaki yang datang sebelum dirimu, aku memberi panggilan khusus bagimu. Aku tak tahu apakah ini akan menjadi penting bagimu, tetapi aku sangat paham bahwa kehidupanmu yang tak teratur dan membingungkan bagiku, membuatku harus memberikan ingatan khusus di pikiranku bahwa kamu memang berbeda dari laki-laki lain yang pernah kukenal. Aku tak peduli apapun, bahkan ketika semua orang tak percaya bahwa aku bisa jatuh cinta kepada laki-laki seperti kamu: gondrong, kumal, kadang bau dan tak beraturan. Tetapi kamu adalah pilihanku, dan aku tak peduli apapun.&lt;br /&gt;“Apa tidak ada laki-laki lain yang mau sama kamu, sampai kamu harus mati-matian mempertahankan dan membela dia?” Itu kata Rahayu, redaktur life style, orang yang memang selalu melihat seseorang dari penampilannya, gaya hidupnya dan segala yang berhubungan dengan penampakan dari luar. Aku bisa maklum. Aku hanya tersenyum mendengar itu.&lt;br /&gt;“Flo yang cantik, coba deh kamu pikirkan lagi, dibanding dengan cowok-cowokmu sebelumnya, dia toh tak ada apa-apanya. Masa depan nampaknya suram: mobil atau motor gak ada, pakaian kumal, bau badan kacau... aduh, bisa buram duniamu...” yang ini kalimat Lili Darmasari, reporter yang setiap hari memang meliput tentang fashion show dan segala jenis selebritis. Kata orang, bahkan gaya hidupnya lebih selebritis dari selebritis sendiri.&lt;br /&gt;Aku sebenarnya marah mereka memperlakukan kamu seperti itu. Tetapi aku tak akan melakukannya di depan mereka, toh mereka tidak mengenalmu, aku yang mengenalmu. Aku ingin katakan kepada mereka bahwa aku benar-benar menginginkanmu dengan semua yang kamu miliki. Bukan hanya sekedar kepemilikan tubuh, tetapi lebih dari itu, sesuatu yang tak kupahami bentuknya. Aku tak peduli dengan apa yang mereka katakan. Sungguh, aku benar-benar tak peduli, aku hanya peduli dengan jalan hidupmu dan segala cita-citamu yang hingga kini hanya menjadi batu, tak bergerak. Diam. Kamu tak bisa menentukan jalan mana yang harus kamu tapaki sehingga kamu terus berjalan dan dalam siklus tertentu, jalanmu akhirnya juga sampai ke rumahku. Aku sedih sebenarnya, tetapi aku tak ingin terjadi apa-apa denganmu. Aku hanya ingin mengatakan kepadamu bahwa aku benar-benar mencintaimu tanpa latar belakang apapun. Kamu sangat berbeda dengan laki-laki lain yang kukenal, dan aku ingin mengenangmu lebih dalam dari sekedar percintaan di malam-malam yang sering kita lalui.&lt;br /&gt;“Maafkan aku. Aku tak bisa memberi ketenangan bagimu,” katamu suatu ketika.&lt;br /&gt;“Kau bisa memberi ketenangan, asal kau bisa menetap di sebuah tempat di mana aku bisa menemukanmu ketika aku ingin bertemu denganmu. Aku bisa mencari dan menemukanmu, bukan hanya kamu yang datang padaku tanpa kabar sebelumnya...”&lt;br /&gt;“Aku harus hidup berpindah-pindah, Flo...”&lt;br /&gt;“Aku bisa paham...”&lt;br /&gt;“Mereka masih mencariku dan aku belum siap masuk penjara.”&lt;br /&gt;“Aku bisa mengerti...”&lt;br /&gt;Di kesempatan lain, kau pernah bercerita tentang Wang Dan, lelaki kumal yang berada di belakang demonstrasi mahasiswa besar-besaran di Tiananmen yang membuat ratusan mahasiswa terbunuh oleh tentara pemerintah, termasuk Wang sendiri yang akhirnya tertangkap di kemudian hari. “Orang seperti Wang tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Yang dipikirkannya adalah pembebasan untuk semua...”&lt;br /&gt;“Kau ingin pembebasan untuk siapa?”&lt;br /&gt;“Orang-orang kampungku. Mereka telah berjuang bertahun-tahun untuk mempertahankan tanahnya, tetapi mereka tak mampu karena mereka tidak memiliki kekuatan...”&lt;br /&gt;“Itu kasusnya berbeda. Wang didukung oleh ribuan mahasiswa dan pejuang pro demokrasi di seluruh dunia, sedang kamu hanya di sini, ribuan kilometer dari kampungmu dan kamu tak bisa berbuat apa-apa...”&lt;br /&gt;“Ya. Aku tak bisa berbuat apa-apa di sini. Tetapi aku yakin suatu saat mereka akan berhasil mendapatkankan kembali tanah-tanah mereka yang kini dikuasai perusahaan perkebunan...”&lt;br /&gt;Suaramu halus, sopan dan sangat santun. Tetapi aku menemukan sebuah cita-cita besar yang sebenarnya tak pernah kuyakini sebelumnya bahwa kamu merelakan dirimu seperti itu, menjadi pelarian, dikejar intel pemerintah dan hidup berpindah-pindah di kota besar seperti Jakarta ini. Aku tak tahu apakah kamu bisa makan setiap hari tiga kali dalam pelarian ketika kamu benar-benar dalam kesulitan dan terdesak.&lt;br /&gt;“Aku akan datang ke kampungmu, aku akan membuat liputan tentang itu...” kataku suatu kali.&lt;br /&gt;“Sangat jauh di Sumatera. Bahkan sangat jauh dari Pekanbaru. Tidak ada penginapan di sana.”&lt;br /&gt;“Tidak apa, mungkin dengan ditulis di koran, pemerintah setempat sadar bahwa ada hak masyarakat yang selama ini dikuasai oleh orang-orang yang tidak berhak.”&lt;br /&gt;“Aku tak bisa mengantarmu ke sana...”&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, aku bisa datang sendiri. Aku sudah terbiasa liputan di daerah pedalaman, meski itu hanya di sekitar Jawa.”&lt;br /&gt;“Di Sumatera berbeda Flo. Di Jawa sudah tidak ada hutan, di Sumatera, dari satu kota kabupaten ke kota kabupaten lain, hampir sepanjang jalan harus melewati hutan lebat. Perumahan penduduk jarang di pinggir jalan besar.”&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa...”&lt;br /&gt;Kamu kemudian memelukku, menciumku. Aku terpesona, aku benar-benar berharap suatu saat masalahmu selesai dan kita bisa merencanakan untuk sesuatu, untuk sebuah masa yang akan datang. Untuk kita berdua. Meski aku tidak meyakini itu. Meski aku benar-benar tidak meyakini itu. Meski yang ada dalam pikiranku hanyalah harapan-harapan yang mungkin akan tetap menjadi harapan hingga pada akhirnya nanti. Tetapi, tetaplah kau sebagai kekasihku. Tetaplah datang dalam setiap keinginanmu tanpa mempedulikan keinginanku apa. Aku bisa menerimanya, bisa menerima semua yang akan dan sudah terjadi di antara kita, di antara pilihan-pilihan yang kemudian muncul dan meskipun itu benar-benar membingungkanku. Kau pasti tak percaya, bahwa aku selama ini tidak memiliki pikiran seperti itu, pikiran yang bagiku sangat tidak rasional. Pikiran yang selama ini tak pernah terlintas dalam kehidupanku. Menunggu laki-laki yang tak pasti? Bahkan mengatakannya sebagai kekasih?&lt;br /&gt;Tetapi salahkah? Salahkah jika kemudian pikiran itu ada dan meskipun bertolak belakang dengan segala kenyataan yang selama ini ada dalam pikiran dan kehidupanku sebelum kehadiranmu? Tak bisakah semua orang yang merasa peduli padaku memahami bahwa apa yang kulakukan –dengan mencintaimu—adalah sebuah kenyataan yang masuk akal? Apa salahnya mencintai lelaki seperti kamu?&lt;br /&gt;“Yang salah mungkin takdir, Flo...” itu katamu dulu.&lt;br /&gt;“Aku tak percaya takdir. Manusia harus bekerja dan berusaha terlebih dahulu, baru setelah itu bicara tentang takdir.”&lt;br /&gt;“Itulah yang kumaksud...”&lt;br /&gt;“Takdir baru kita simpulkan setelah kita melaluinya...”&lt;br /&gt;“Misalnya?”&lt;br /&gt;“Misalnya? Misalnya, mengapa aku memilih mencintai laki-laki seperti kamu. Hahaha...”&lt;br /&gt;Kita tertawa setelah itu dan kau mengatakan bahwa cinta yang muncul dalam hatiku bukan takdir. “Jika itu sebuah takdir, apakah selama ini semua laki-laki yang pernah singgah dalam kehidupanmu juga sebuah takdir? Begitu banyak takdir kalau begitu...”&lt;br /&gt;“Juga beberapa perempuan yang ada dalam kehidupanmu sebelum aku datang?” Kali ini aku bicara serius.&lt;br /&gt;Kau kemudian berjalan ke arah jendela. Di luar basah. Hujan. Tempiasnya membuat kaca jendela berkabut. “Aku tak tahu, apakah ada wanita yang benar-benar mencintaiku selain ibuku. Tetapi, ibuku pun tidak mampu berbuat apa-apa ketika itu...”&lt;br /&gt;“Ketika itu?”&lt;br /&gt;“Ya. Ketika itu. Ketika hujan deras dan badai, dan aku harus tetap berada di bawahnya, dalam gelap, dalam kilatan petir. Ibuku tak bisa melakukan apa-apa selain menangis bersama kedua adikku. Dan aku sendiri, bahkan tidak berani menawar...”&lt;br /&gt;Aku mendekatinya, memeluknya dari belakang. Melingkarkan tanganku pada perutnya yang keras. Dia tidak kelihatan berdaging, tetapi seluruh otot di tubuhnya mengeras. Aku suka itu. Otot yang mengeras... “Kau tak pernah mau bercerita tentang itu kepadaku...”&lt;br /&gt;“Suatu saat aku akan bercerita. Tetapi tidak saat ini. Aku ingin bercinta denganmu...”&lt;br /&gt;Kemudian kami benar-benar bercinta sepanjang malam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAU memang selalu pergi tanpa harus permisi padaku. Ini yang sering kukatakan bahwa apapun tak akan bisa mengikatmu, termasuk cinta. Cinta. Cinta? Apakah aku memang benar-benar jatuh cinta? Jatuh cinta kepada laki-laki seperti kamu? Laki-laki dengan masa lalu suram dan mungkin tanpa masa depan? Tanpa masa depan? Siapa yang tahu dengan masa depan seseorang? Siapa yang bisa menentukan nasib? Takdir? Lagi-lagi takdir. Mengapa setiap bercerita tentang kamu, dengan segala apa yang kamu miliki, aku selalu menghubungkannya dengan takdir? Fullfil your destiny, is there within the child...[1]&lt;br /&gt;Memenuhi takdir?&lt;br /&gt;“Apakah seorang laki-laki harus memiliki masa depan, Flo?”&lt;br /&gt;Suatu saat kau bertanya.&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Masa depan yang seperti apa?”&lt;br /&gt;“Kau tak tahu arti masa depan? Tentu bukan masa depan yang buruk. Cita-cita maksudku, karena dengan cita-cita itulah manusia akan bekerja keras untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;“Untuk apa?”&lt;br /&gt;“Mungkin untuk dirinya sendiri. Mungkin untuk kekasihnya. Mungkin untuk anak atau istrinya...”&lt;br /&gt;“Untuk anak, istri dan kekasih? Hahaha...”&lt;br /&gt;“Untuk anak dan istri, jika ia sudah berkeluarga. Untuk kekasihnya, jika dia memang ingin memiliki kekasih.”&lt;br /&gt;Tetapi kau memang membuatku bingung. Pada suatu malam yang hujan, kau tiba-tiba sudah berdiri di pintu setelah sekian lama tak pernah berkabar. Rambutmu basah, meneteskan air. Jaket lusuhmu juga basah, meneteskan air. Celanamu yang kumal, basah dan air mengalir. “Aku akan mengambilkan handuk,” kataku cepat-cepat masuk kamar dan sudah keluar dengan handuk putih, handuk yang memang sering kau pakai ketika berada di rumahku.&lt;br /&gt;Kau tak mau menerima handuk itu. “Aku tidak memerlukan handuk ini. Aku memerlukan tubuhmu...” Kau kemudian memelukku dalam segala basah seperti itu. Gaun tidur yang kupakai akhirnya juga ikut basah. Agak lama kau memelukku dan aku terlena. Tetapi ketika kusadari tak ada gerakan apa-apa, aku mulai mengurai pelukan. Kau diam, tanpa gigil. Tuhanku, kau pingsan. Kau pingsan saat memelukku. Aku panik, tetapi cepat kuangkat tubuhmu dengan segala kekuatanku. Kubawa ke kamar, kubuka seluruh kain yang melekat di tubuhmu. Aku juga membuka seluruh kain yang ada di tubuhku. Aku memelukmu dalam selimut tebal setelah kumatikan AC. Lama aku memelukmu, tetapi kau tak siuman juga. Aku menunggu, tetap memelukkmu dengan menempelkan tubuh telanjangku pada tubuh telanjangmu, tetapi kau juga tak siuman. Aku tetap memelukmu dalam selimut tebal. Aku mulai berkeringat dan membasahi seluruh tubuhku, tetapi kau tetap beku. Lama-lama aku menyadari, bukan hanya keringat yang membasahi tubuhku –juga tubuhmu— tetapi juga air mataku sudah membuat aliran kecil di pipiku. Aku menangis. Aku benar-benar menangis. Tak maukah kau mencair? Kenapa seluruh hawa panas yang keluar dari tubuhku juga tak bisa menghangatkanmu? Tetap membuatmu beku?&lt;br /&gt;Aku kemudian keluar dari selimut, memakai baju tidur lagi dan mengambil air hangat dari dispenser dan kain kompres. Aku mulai mengompres. Beberapa saat, tetapi kau tetap beku. Hingga akhirnya aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan untuk membuatmu siuman. Aku menangis di atas selimut yang menutup tubuhmu, sampai akhirnya aku tak sadar beberapa waktu, mungkin aku tertidur, sebelum tiba-tiba aku merasakan jemarimu mengelus rambutku. Ketika aku terbangun, kulihat kau tersenyum meski bibirmu masih kelihatan pucat dan matamu sayu. “Sudah lama aku pingsan?” tanyamu lirih.&lt;br /&gt;“Lama sekali, hingga aku menunggu seperti seratus tahun...” Aku memelukmu erat, tanpa bisa menghentikan air mataku yang terus mengalir.&lt;br /&gt;“Aku sering seperti ini?”&lt;br /&gt;“Tidak, baru sekali ini.”&lt;br /&gt;“Aku merasakan sering, tetapi mungkin baru sekali ini ketika bersamamu.”&lt;br /&gt;“Benarkah?”&lt;br /&gt;“Aku suka hujan, suka berhujan-hujan, apa lagi kalau malam hari. Malam dan hujan...” Kau seperti bergumam.&lt;br /&gt;“Tak ada rama-rama kalau hujan...” Aku menimpali sambil meraba pipimu.&lt;br /&gt;“Tak ada rama-rama. Di kota besar tak ada rama-rama.”&lt;br /&gt;“Apakah di kampungmu yang katamu jauh sekali itu, setiap malam masih banyak rama-rama?”&lt;br /&gt;“Banyak sekali, apalagi kalau musim gelap. Maksudku, ketika tak ada rembulan. Tetapi rama-rama tetap tak ada bila hujan. Aku suka malam dan hujan, aku juga suka rama-rama...”&lt;br /&gt;“Aku ingin ke kampungmu yang katamu jauh itu...”&lt;br /&gt;“Suatu saat aku akan mengajakmu ke sana.”&lt;br /&gt;“Kapankah suatu saat itu?”&lt;br /&gt;“Kapan-kapan...”&lt;br /&gt;Di lain waktu, kau mengatakan tentang kerinduan-kerinduanmu pada tanah kelahiranmu. Katamu, kau rindu bau getah karet. Kukatakan, bukankah itu bau bacin seperti air got yang menghitam atau kotoran binatang? Ya. Tetapi kau tetap merindukannya. Kau merindukan saat remaja di sebuah kebun karet di pedalaman. “Aku melarikan diri dari sana, dari masa laluku, dari duniaku yang sesungguhnya. Aku merindukannya...”&lt;br /&gt;Kau memang lelaki yang lahir dan kemudian lari dari masa lalu. Tetapi kemudian aku mengatakan bahwa semua manusia lahir dari masa lalu, sebab tidak ada masa kini dan masa depan kalau tidak ada masa lalu. Itu hukum waktu. “Tetapi aku benar-benar merindukan pohon-pohon karet yang terjajar rapi, bau bacin getahnya yang sudah berhari-hari, saat hujan yang mengerikan...”&lt;br /&gt;“Hujan yang mengerikan?” sergahku.&lt;br /&gt;“Hujan yang mengerikan...”&lt;br /&gt;“Ceritakanlah padaku tentang hujanmu yang mengerikan itu...”&lt;br /&gt;Tiba-tiba, seperti sebelum-sebelumnya, kau kedinginan dan dalam waktu yang sangat cepat berubah menjadi gigil yang membuat seluruh tubuhmu memucat: bibirmu, pipimu, dan seluruh tubuhmu dan tiba-tiba aku menangis. Bibirmu berkali-kali ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak terucap apa-apa dan aku kemudian memelukmu, mendekapmu dengan sangat erat. “Aku membutuhkan jiwamu, cintamu...” dan untuk kesekiankalinya, kau pingsan di hadapanku. Kau pingsan dan aku panik. Kuambil minyak angin, kompres dan kulakukan segala apa yang bisa kulakukan. Hingga menjelang Subuh, kau terbangun setelah tubuhmu berkeringat. Malam itu, aku menjagamu dalam diam, dan menangis juga dalam diam. Aku merasa tak mengerti apa-apa tentang dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMUDIAN aku memanggilmu lelaki hujan. Aku tak memaknai apa-apa dengan nama panggilan itu sebelum aku akhirnya memahami semuanya tentang satu cerita yang ingin engkau ceritakan tentang hujan yang mengerikan bagimu itu. Hujan yang mengerikan, katamu, tetapi kemudian membuatmu tumbuh menjadi pengembara yang belajar kuat meneruskan semua mimpi-mimpimu.&lt;br /&gt;“Bau bacin getah itu lama-lama menjadi seharum mawar seperti yang sering kuberikan padamu,” katamu suatu kali.&lt;br /&gt;“Mawar yang kau berikan padaku sering sudah layu meskipun sudah basah oleh hujan.”&lt;br /&gt;“Maafkan, aku harus naik-turun kereta api untuk sampai rumahmu. Dan mawar itu kubeli dari penjual bunga di dekat stasiun, ketika kubeli, dia masih segar...”&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa. Aku suka apapun pemberianmu...”&lt;br /&gt;Lalu kau cerita tentang bau bacin getah karet yang sudah direndam di dalam air berhari-hari itu. Bau bacin yang katamu berubah menjadi seharum mawar dan membuatmu selalu terkenang pada masa lalumu, pada tanah kelahiranmu, pada masa kanak-kanak dan remaja yang kemudian engkau tinggalkan.&lt;br /&gt;Aku masih ingat persis ceritamu: “Senja itu hujan lebat Flo. Tetapi aku harus keluar rumah tanpa payung atau mantel hujan...” Bapakmu menginginkan kau jadi laki-laki kuat dan harus tahan segala cuaca. Kau pergi ke hutan karet saat hujan lebat dan petir menyambar-nyambar untuk mengangkut getah yang beku, bau dan masih basah itu. Malam nanti toke getah akan menimbangnya dan getah itu sudah harus ada di rumah sebelum malam.&lt;br /&gt;“Tapi hujan deras sekali, Bapak...” katamu mencoba menawar kepada bapakmu.&lt;br /&gt;“Kau tak akan mati oleh hujan.”&lt;br /&gt;Dan kau kemudian berlari ke belakang rumah, mengikuti jalan setapak yang masuk ke belukar di hutan karet yang sudah tua dan tidak terawat itu. Tapi itulah sumber kehidupan keluargamu. Kau memang masih sangat remaja ketika itu, dan harus menapak pada jalan licin menurun dan mendaki untuk sampai ke rawa di mana getah bacin itu berada. Getah itu sudah dicetak menjadi bantalan dan ditenggelamkan di lumpur yang berair untuk menjaga kadar airnya yang akan mempengaruhi timbangan, dan kau harus mengangkatnya satu persatu sejauh hampir 400 meter dengan pundak atau punggungmu sampai di belakang rumah. Ibumu menangis menyaksikan itu dan dua adikmu hanya memandang sedih dari dapur rumah kayu itu ketika dalam hujan yang lebat kau bekerja keras.&lt;br /&gt;“Biar dia belajar bertanggung jawab sebagai lelaki,” kata bapakmu kepada ibumu, sempat terdengar di telingamu.&lt;br /&gt;Kau mengaku tidak dendam dengan semua itu. Sebab bapakmu sudah ringkih, terlihat tua sebelum waktunya karena beban hidup dan tembakau yang membuatnya selalu terbatuk. Kau tetap mengaku tidak dendam, karena laki-laki memang harus bertanggung jawab di kondisi apapun.&lt;br /&gt;Hujan benar-benar semakin deras dan senja sudah hampir penghujung, dan bantalan getah bacin itu masih beberapa yang belum kau angkat. “Aku sudah menggigil ketika itu Flo dan tenagaku sudah semakin lemah...”&lt;br /&gt;Hingga kemudian ketika bantalan bacin basah itu tinggal satu, kau benar-benar tidak memiliki tenaga dan hari sudah benar-benar gelap. Kau tetap mengangkatnya dan harus berjalan di pendakian yang licin, sementara kakimu tanpa sepatu, hanya telanjang dan menggigil. Dan tiba-tiba, ketika tenagamu benar-benar habis, kau terpeleset, bantalan bacin itu menimpa tubuhmu yang telanjang tanpa baju dan kau bergulingan hingga sebatang pohon karet menahan tubuhmu. Kau kesakitan, tetapi tidak ada yang menolong. Kau ingin berteriak tetapi suaramu tak keluar. Kau akhirnya benar-benar kedinginan, juga kesakitan, dan menggigil seperti berada di dalam bongkahan es, sebelum bapakmu menemukanmu dalam keadaan pingsan di bawah pohon karet, saat hujan mulai reda dan malam sudah benar-benar menggelapkan kampung.&lt;br /&gt;Kau tetap mengaku tidak dendam dengan masa lalu itu. Hingga kemudian kau memilih pamit pada bapak, ibu dan dua adikmu untuk pergi jauh mengembara. Kau merasa dunia di luar kebun karet itu memberikan harapan-harapan dan pengalaman hidup yang lebih baik. “Biarlah dia pergi, laki-laki harus punya pengalaman hidup untuk menguatkannya,” kata bapakmu kepada ibumu yang sempat terdengar ke telingamu ketika langkahmu menyeberang pintu. Kau kemudian pergi saat hujan dan malam gelap. Meninggalkan kampungmu, rumah kayu, hutan karet, bau bacin dan segala kenangan tentang masa kecil dan remajamu.&lt;br /&gt;Kau pernah kembali ke kampungmu itu beberapa tahun kemudian setelah kau merasa berhasil setelah menamatkan kuliahmu dalam pelarianmu di Pekanbaru. Kau sudah merasa menjadi kuat, tetapi kau mendapati bapakmu sangat ringkih, terbatuk-batuk dan sudah sangat susah untuk berjalan. Sudah terlihat sangat tua, sangat sepuh, jauh lebih tua dari umur sebenarnya. Bapakmu mengatakan kepadamu, bahwa sejak kau pergi ladang karet itu tak terawat, meskipun tetap diambil getahnya oleh ibumu dan dua adikmu yang sudah mulai masuk SMP. Kau merasa hatimu perih. Kau membayangkan bagaimana perjuangan ibumu dan dua adikmu untuk bisa mendapatkan uang dengan menakik getah. Kau menangis dan memeluk bapakmu. Kau tetap mengatakan bahwa kau tak dendam dengan masa lalu, terhadap kekerasan hidup yang harus kau alami, juga saat malam dan hujan itu. Kau hanya membayangkan bagaimana pedihnya ibumu dan dua adikmu sepeninggalanmu, ketika tidak ada lagi laki-laki dewasa –kau selalu mengatakan bahwa di kampung, laki-laki yang sudah masuk SMA bersikap sangat dewasa karena sering menjadi penopang hidup keluarganya ketika orang tuanya sudah mulai tua-- yang bisa membantu pekerjaan itu. Di kota-kota besar, remaja-remaja seusia itu masih kebut-kebutan di jalanan, ngobrol dengan teman-temannya di kafe, bisa les ini itu, masih merengek minta uang belanja dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kau kemudian mencari ibumu. Wajahnya memancarkan senyum meski raut mukanya sangat keletihan. “Seorang ibu hanya bisa mendoakan anaknya ketika dia merantau. Ibu takut kau tersesat dan lupa jalan pulang...” Ibumu kemudian merangkulmu dengan sangat erat. Dia sudah menunggumu lebih dari lima tahun untuk sebuah pertemuan seperti ini, karena selama kurun waktu tersebut, kau tak pernah mengirim kabar apapun.&lt;br /&gt;Ketika pulang itulah, katamu ketika itu, bahwa penduduk di kampungmu kini sudah semakin terjepit. Sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit masuk ke kampungmu, juga kampung-kampung lainnya, dengan membawa secarik kertas yang katanya sebagai izin kepemilikan atas lahan. Beberapa kampung, juga kampungmu, masuk dalam areal perkebunan. Sebab, kata mereka, dalam peta hutan yang dikeluarkan oleh pemerintah, di areal itu tidak ada perkampungan, yang ada adalah hutan. Kampungmu tak masuk dalam peta rupanya...&lt;br /&gt;Selama beberapa tahun, masyarakat melakukan perlawanan atas penguasaan lahan itu, namun mereka tetap saja terjepit. Tak ada yang bisa menolong mereka untuk bisa mempertahankan tanah yang telah mereka tempati. Mereka kalah oleh secarik kertas, yang terjadi kemudian mereka juga kalah oleh bouldozer dan puluhan aparat yang didatangkan oleh perusahaan perkebunan tersebut untuk menakut-nakuti warga.&lt;br /&gt;Sekali lagi, kau mengatakan tidak dendam kepada ayahmu, karena kamu merasa hal itulah yang telah menjadikanmu laki-laki kuat, bisa survive di kota, bisa kuliah meski sambil bekerja serabutan. Kau bahkan mengatakan berterima kasih kepada bapakmu, meski kau mengucapkannya dengan perih. Karena keanehan-keanehan dalam tubuhmu mungkin ada hubungannya dengan peristiwa malam itu, ketika kau pingsan di bawah pohon karet dengan bantalan getah bacin yang menimpa tubuhmu. Juga kejadian-kejadian lainnya yang merupakan rentetan waktu. Keanehan-keanehan, termasuk gigil yang selalu datang, juga kecintaanmu pada malam dan hujan.&lt;br /&gt;Kau berjanji akan tetap berada di kampungmu untuk membantu melawan perusahaan perkebunan itu, meski akhirnya kau harus lari, dan kita bertemu di stasiun kereta api menjelang Subuh, sangat jauh dari kampungmu di Sumatera... Dan inilah cerita-cerita tentang kehidupanmu itu, yang bagiku amat penting. Amat penting sehingga aku tak ingin melupakannya barang sedikitpun. Kau, laki-laki dengan masa lalu aneh, yang juga aneh bagi sekian orang di sekitarku, tetapi membuatku memiliki kekuatan untuk meyakinkan diriku bahwa hidup memang harus diperjuangkan, bukan ditangisi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DINI hari, menjelang Subuh. Stasiun Solo-Balapan. Sosok itu kulihat tengah duduk di kafetaria ketika aku baru saja turun dari kereta. Aku baru sampai dari Jakarta dan aku memang memilih naik kereta malam, seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya. Entah mengapa, aku lebih suka memilih kereta api, meski harus menghabiskan waktu semalam atau sehari untuk sampai ke Solo atau Yogyakarta, dua kota di Jawa, yang memang memiliki sejarah bagi hidupku. Solo telah melahirkanku, sedang Yogyakarta adalah tempat di mana aku harus menyelesaikan pendidikan di jurusan fotografi. Aku mencintai keduanya, Solo yang lambat, lembut dan sepi. Yogya yang mulai beriak dan sudah sering macet, tapi mengasyikkan dan menenangkan.&lt;br /&gt;Aku tak tahu alasan lain yang masuk akal mengapa aku lebih memilih kereta dalam kepergianku di kota-kota di Jawa. Kereta memberikan suasana roman, artistik dan penuh historis bagiku. Barangkali begitu kalau boleh aku menyimpulkannya. Rangkaian gerbong yang ditarik lokomotif; suara yang agak bising tapi konstan dan menimbulkan irama tesendiri; orang-orang yang bergegas bahkan sering berebutan di kelas ekonomi; pohon-pohon, gedung-gedung dan rumah-rumah yang berlari di luar kaca jendela; stasiun yang lengang di malam hari...&lt;br /&gt;Aku masuk ke kafe di mana lelaki itu duduk di sudut. Pagi masih kira-kira dua jam lagi, dan aku tak mau langsung ke hotel. Lebih baik menunggu pagi dan kemudian ke hotel untuk mempersiapkan segala apa yang harus kulakukan. Jika aku langsung ke hotel, pasti akan tertidur dan bagunnya akan kesiangan. Aku memesan teh hangat. Dingin di dalam gerbong tadi membuatku menggigil, padahal aku sudah memakai jaket tebal yang memang sudah kupersiapkan sebelumnya.&lt;br /&gt;Entah mengapa, keinginanku untuk menoleh ke arah kanan, di sebuah sudut di mana sosok itu duduk, tak bisa kulawan. Seorang laki-laki dengan jaket agak besar, sedang menikmati kopi dan rokoknya. Rambutnya gondrong agak bergelombang, wajahnya tak terlihat. Mungkin dari tadi dia berada di sini menunggu seseorang. Tetapi ketika keretaku sampai dan orang-orang turun –termasuk aku— dia tidak bergerak. Ketika kemudian ada kereta berhenti dan menurunkan penumpang lagi, dia juga tidak beranjak dari tempat duduknya. Mungkin dia tidak menunggu seseorang, atau dia tahu kereta orang yang ditunggunya itu akan sampai setelah matahari terbit. Tapi, jika itu benar, untuk apa jam segini dia sudah berada di stasiun? Aku berandai-andai, dan jadi malu sendiri mengingat aku tak memiliki urusan dengannya.&lt;br /&gt;Kunaikkan resluting jaketku, dingin terasa menusuk, meski tidak sedingin seperti di dalam gerbong kereta tadi. Aku mengambil meja yang menghadap rel kereta, sejajar dengan laki-laki di sudut itu. Aku benar-benar penasaran ingin melihat wajahnya, dan sering dengan mencuri-curi, aku melirik ke samping. Tetapi, dia nampaknya benar-benar tidak mempedulikan kehadiran seseorang di dekatnya. Aku memesan teh hangat, dan beberapa saat kemudian pelayan datang dan membawa pesanan itu. Sengaja aku mengaduk teh dengan gula itu dengan suara keras, tetapi dia juga tak menoleh barang sedikitpun. Aku hanya ingin memiliki teman bicara, barangkali, di sebuah stasiun tua yang sunyi seperti ini. Tetapi, kalau dia seorang perampok atau pembunuh, bagaimana?&lt;br /&gt;Hingga terdengar suara azan dari masjid terdekat, kami tetap tak ada komunikasi apapun. Bahkan ketika kemudian hari sudah terlihat mulai terang dan matahari muncul dari timur, kami tetap dengan pikiran masing-masing. Tetapi, aku semakin jelas bisa melihat sosoknya, meski aku tetap belum bisa melihat wajahnya. Hingga kemudian, ketika hari benar-benar terang, aku bangkit dari duduk dan berjalan menuju kasir. Aku benar-benar tak ingin penasaran dan ingin melihat wajahnya sambil berjalan keluar. Tetapi, tiba-tiba, lelaki itu menoleh kepadaku.&lt;br /&gt;“Nona Floren?”&lt;br /&gt;Aku nyaris tergagap. “Ya?”&lt;br /&gt;“Saya menjemput Anda.” Suaranya dingin, seperti dinginnya pagi yang masih berembun.&lt;br /&gt;Menjemput? Beginikah cara orang menjemput? “Maksudnya...?”&lt;br /&gt;“Saya menjemput Anda...”&lt;br /&gt;“Saya tidak diberi tahu sebelumnya, dan selama ini tidak ada orang yang menjemput saya ketika saya ke sini...” Hatiku berdebar. Jangan-jangan...&lt;br /&gt;“Saya dari hotel tempat Anda akan menginap. Saya menjemput Anda...”&lt;br /&gt;“Maaf, saya tidak memesan reservasi hotel. Anda salah orang...” aku berusaha mencari selah.&lt;br /&gt;“Kantor Anda telah memesankan kamar atas nama Anda, dan saya menunggu Anda...”&lt;br /&gt;“Begini cara Anda menunggu seorang tamu? Membiarkan sang tamu berjam-jam seperti ini?”&lt;br /&gt;“Saya hanya memastikan...”&lt;br /&gt;Benar-benar aneh.&lt;br /&gt;Dia kemudian bangkit. Posturnya tinggi, rambutnya gondrong, sedikit agak kumal memang –mungkin karena sejak dinihari tadi dia berada di sini dan tidak tidur. Tetapi, beginikah pelayanan sebuah hotel? Mengirimkan seseorang untuk menjemput dan membiarkannya termenung dalam malam yang dingin? Sudut mataku menangkap wajahnya: lumayan tampan, ada bekas cukur yang kebiru-biruan di atas bibir, jenggot dan cambangnya. Cukup menarik, tetapi, dia orang asing dan aku terbiasa tidak boleh cepat percaya dengan orang asing, orang yang belum kukenal, meski sejak dinihari tadi sejak aku berada di kafe, aku cukup penasaran dibuatnya. Tapi, apakah itu kemudian mengharuskan aku mempercayai apa yang dia katakan? Bagaimana kalau dia seorang penculik yang memang ditugaskan untuk menculikku? Atau, katakanlah dia menculik untuk dirinya sendiri, misalnya dia seorang penjahat kelamin yang suka memperkosa perempuan muda, dan kemudian membunuhnya? Atau, dia menculik dan kemudian menjual wanita yang diculiknya itu untuk bekerja menjadi pekerja seks komersial --pelacurlah istilah kasarnya— yang dikirim ke negara-negara asing seperti Hongkong atau Thailand?&lt;br /&gt;Aku bergidik. Semua yang mengerikan itu tiba-tiba berputar-putar di kepalaku dan membuatku benar-benar bingung. Haruskah aku mengikuti keinginannya: pergi ke hotel bersamanya seperti yang dia katakan, dan membiarkan diriku berada dalam kekuasannya selama di perjalanan dan setelah itu aku tak tahu dia akan melakukan apa pada diriku... Pokoknya aku tak mengenalnya, dan itu menjadi sebuah alasan yang kuat untuk tidak percaya kepadanya terlalu cepat. Aku harus mendapatkan sebuah bukti bahwa aku benar-benar mempercayainya, kalau apa yang dia katakan itu benar: bahwa dia memang petugas hotel yang harus menjemputku. Tetapi, benarkah?&lt;br /&gt;“Hubungi kantormu kalau tidak percaya...”&lt;br /&gt;“Pagi-pagi seperti ini kantorku belum buka...”&lt;br /&gt;“Hubungi Ibu Martini di handphone-nya. Dia yang memesankan hotel untukmu...”&lt;br /&gt;Aku berpikir sejenak, menimbang-nimbang. Apa yang dia katakan benar, Martini, orang finance di kantor memang telah memesankan hotel untukku, dan sesampai di Solo sebenarnya aku bisa saja langsung masuk dengan naik taksi dari stasiun. Tetapi keputusanku untuk menunda ini, ternyata telah mempertemukanku dengan lelaki aneh yang mengaku sebagai penjemput ini. Aku menguatkan hatiku dan memutuskan apa yang terjadi terjadilah.&lt;br /&gt;“Oke. Saya percaya Anda...”&lt;br /&gt;“Jangan cepat percaya dengan orang yang baru Anda kenal...” jawabnya.&lt;br /&gt;Apa? Justru ketika aku sudah percaya padanya, dia ngomong begitu? Tetapi kemudian dia berjalan keluar ke areal parkir, dan aku menunggu di depan pintu. Beberapa saat kemudian dia datang dengan mobil berwarna hitam, tidak ada tanda-tanda sedikitpun kalau itu mobil hotel di mana aku akan menginap. Keraguan kembali berada di otakku. Dia turun membukakan pintu --terus terang aku risih diperlakukan seperti ini: dibukakan pintu...— dan kemudian mempesilahkanku untuk masuk. Setelah aku sampai di dalam, dia menutup pintu dengan pelan dan seolah gerakannya teratur dan berirama ketika kemudian membuka pintu untuknya sendiri dan masuk ke belakang stir, menutup kembali, dan kemudian menjalankan mobil. Aku melihatnya dari belakang, dan aku masih membayangkan seandainya dia benar-benar seperti yang ada dalam bayanganku tadi: penculik, pemerkosa, pembunuh...&lt;br /&gt;Jarak antara stasiun dan hotel tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu 10 menit. Dan dalam rentang waktu itu kami tidak saling bicara. Dia seperti asyik menatap jalanan yang masih lengang, menyaksikan mbok-mbok dengan sepedanya sedang menuju pasar, beberapa anak sekolah yang pagi-pagi sekali telah berada di jalan untuk pergi ke sekolahnya –bukankah dengan seperti ini sekolah telah membuat para murid menjadi mesin waktu yang harus melakukan semuanya dengan batasan waktu?-- maupun beberapa pengemudi sepeda motor yang tetap dengan tenang berada di atas motornya dengan jaket tebal dan helm besar sedang menuju sebuah arah yang aku tak perlu tahu keperluannya apa.&lt;br /&gt;Tetapi laki-laki itu memang benar-benar diam. Hingga kemudian aku sampai di hotel dan diturunkan di depan lobbi, dia tetap diam: menghentikan mobil, membukakan pintu, menurunkan tasku dan memberikannya kepada seorang pelayan yang sudah siap di depan lobbi. Kemudian dia naik ke mobil lagi dan pergi seperti angin. Tak bicara apa-apa kepadaku, dan herannya aku merasa berdosa dengan segala tuduhan dalam hati tadi tentang segala kemungkinan terburuk tentangnya.&lt;br /&gt;Seperti tahu apa yang ada dalam hatiku, pelayan hotel itu mengatakan bahwa dia memang seperti itu. “Maksudmu siapa?” tanyaku heran.&lt;br /&gt;“Namanya Iman Jaidi, Bu. Dia pendiam dan tak banyak bicara. Pasti sepanjang jalan tadi Ibu didiami sama dia...”&lt;br /&gt;“Ya. Bahkan dia membiarkan saya kedinginan di stasiun selama hampir tiga jam, padahal dia tahu saya orang yang akan dijemputnya...”&lt;br /&gt;“Dia memang aneh, Bu. Maafkan atas buruknya pelayanan kami ini...”&lt;br /&gt;“Oh... tidak. Tidak. Tidak ada masalah. Lupakanlah...”&lt;br /&gt;Aku malah menjadi tidak enak dengan pelayan hotel itu. Dia mengantarkanku sampai resepsionis dan kemudian meninggalkanku dengan senyum manis. Aku membalasnya, dan aku yakin senyumku masam dan asam karena wajahku letih dan ngantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA bulan kemudian aku melihat sosoknya di Jakarta. Aku sedang memotret pameran lukisan di Hotel Borobudur ketika itu saat wajahnya tertangkap kameraku sedang termangu di depan sebuah lukisan. Aku terkejut, sebelum menyadari semuanya, jariku sudah menekan tombol dan wajahnya terekam dalam beberapa petik. Mungkin merasa ada yang memperhatikannya, dia kemudian menoleh dan terkejut. Tiba-tiba dia sudah berada di dekatku ketika aku melepaskan mata dari kamera.&lt;br /&gt;“Saya tidak suka dipotret.” Suaranya terdengar dingin dan berat.&lt;br /&gt;“Maafkan, saya tidak sengaja. Saya hanya berusaha memotret pengunjung pameran ini dan kebetulan saja Anda menjadi salah satu obyek kamera saya...”&lt;br /&gt;“Saya ingin foto saya dihapus.”&lt;br /&gt;Aku terdiam. Dihapus? Ini sudah keterlaluan. “Saya tidak mungkin menghapuskan seluruh gambar di kamera saya. Tetapi saya tidak akan mencetak foto Anda.”&lt;br /&gt;“Saya harus memastikan janji Anda itu.”&lt;br /&gt;“Ya. Selama ini saya memposisikan diri sebagai orang yang bisa dipercaya.”&lt;br /&gt;“Saya harus tahu alamat rumah dan kantor Anda. Saya benar-benar tidak ingin foto itu dicetak, apalagi jadi konsumsi publik.”&lt;br /&gt;Aku semakin heran dengan penekanan pada kata-katanya yang dikatakan berulang. Aku jadi penasaran. Mengapa dia tidak mau fotonya dicetak? Bukankah biasanya banyak orang yang suka wajahnya nongol di media, bahkan koran atau majalah itu kemudian dibeli dan diperlihatkan kepada keluarga, sanak famili atau tetangganya. Mengapa orang ini tidak mau?&lt;br /&gt;“Saya berjanji...” kataku menggantung. Aku ingin dia sadar bahwa kami pernah bertemu sebelumnya di Stasiun Solo-Balapan, saat dia menjemputku. Tetapi, ternyata kemudian dia hanya mencatat alamat rumah dan kantorku, dan setelah itu pergi.&lt;br /&gt;Aku terkejut, dan kemudian dengan reflek mengejarnya. Hampir sampai di pintu keluar, aku mendahului langkahnya. “Hai, tunggu. Bukankah kita pernah bertemu sebelum ini?”&lt;br /&gt;Dia menghentikan langkahnya, diam sejenak sambil memandangku, dan kemudian berjalan keluar pintu. Dia tak peduli hujan deras di luar. Diterobosnya dengan berjalan santai, dan aku dibuat bingung olehnya. Dia tidak ingat kalau kami pernah bertemu? Apakah dia memang sengaja melupakan atau memang dia tak ingat karena pekerjaannya sebagai penjemput tamu hotel membuat dia bertemu dengan banyak orang dan tak semuanya bisa diingatnya? Aku jadi heran, seorang pegawai sebuah hotel dan tugasnya adalah penjemput tamu di bandara atau stasiun, menyukai lukisan dan datang jauh-jauh dari Solo hanya untuk menyaksikan pameran ini? Atau, dia hanya kebetulan berada di Jakarta dan kemudian tahu ada pameran ini dan datang? Atau, dia memang sudah tinggal di Jakarta?&lt;br /&gt;Diserang rasa penasaran, aku kemudian berlari ke tempat parkir dan langsung masuk mobil. Kuhempaskan peralatan fotoku ke jok belakang dan kemudian langsung menginjak pedal gas. Sesampai di jalan, aku tak menemukan dia. Hujan deras, banyak kendaraan di jalan dan orang-orang berjalan kaki memakai payung. Banyak juga anak-anak yang menyewakan payung berjalan di belakang orang yang menyewa payungnya. Anak-anak malang, yang harus mencari kehidupan sendiri di tengah kerasnya Jakarta. Aku bersyukur sejak kecil diberi kehidupan yang cukup oleh orang tuaku, sehingga aku tidak harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Tetapi di mana sosok itu? Siapa namanya? Aku bahkan tak pernah menanyakannya ketika kami bertemu di Solo. Iman Jaidi. Ya. Temannya yang membawakan tasku sampai ke resepsionis itu mengatakan kalau namanya itu. Tetapi, apakah benar kami pernah ketemu? Apakah tidak hanya kesamaan wajah dan tongkrongan saja? Tetapi, suaranya tadi menjelaskan bahwa aku benar-benar pernah bertemu dengannya. Mengapa aku menjadi penasaran seperti orang gila begini?&lt;br /&gt;Aku membawa mobil pelan ke arah Sudirman dan berharap dia adalah satu dari banyak orang yang berjalan di trotoar dalam hujan seperti ini. Namun, di sepanjang jalan, meski mataku bergerak ke kanan dan kiri, tak kutemukan sosok itu. Jakarta telah menelannya. Jakarta yang ramai, bising dan padat ini, ke mana aku harus mencarinya? Aku terus ke kantor di Kebayoran Baru. Namun, aku dibuat tercengang ketika aku baru masuk dan kudapati dia sedang duduk di ruang tunggu. Dia kemudian berdiri ketika aku masuk dan mengatakan bahwa dia sangat serius dengan apa yang dikatakannya tentang foto tadi.&lt;br /&gt;“Saya benar-benar serius dengan apa yang saya katakan tadi. Saya tak ingin foto itu dicetak, apalagi dimuat di koran Anda...”&lt;br /&gt;Kupersilahkan dia duduk lagi. Aku mengamati bajunya yang basah, juga sedikit celananya. “Anda kedinginan...” entah mengapa, kata-kata itu yang keluar dari mulutku. Aku terkejut sendiri.&lt;br /&gt;“Saya biasa kehujanan dan basah seperti ini. Saya benar-benar meminta Anda untuk menghapus gambar saya. Saya mohon...”&lt;br /&gt;“Saya bukan orang jahat. Tetapi saya ingin tahu mengapa Anda sangat serius dengan masalah ini? Bukankah hal yang biasa wajah seseorang dimuat di koran?”&lt;br /&gt;“Saya tidak mau. Ini menyangkut kehidupan saya...”&lt;br /&gt;“Kehidupan?”&lt;br /&gt;Dia diam. Kemudian, “Selama ini, saya tidak pernah percaya dengan siapapun. Saya hanya percaya dengan diri saya sendiri. Saya ingin hari ini mempercayai Anda, dan jika Anda benar-benar memenuhi keinginan saya, saya akan sangat berterima kasih. Anda akan menyelamatkan hidup saya...”&lt;br /&gt;Aku tidak tahu arah bicaranya ke mana. Tetapi kemudian aku berjanji kepadanya bahwa aku tidak akan mencetak ataupun malah memuat fotonya (meskipun pada kenyataannya aku mencetak foto itu dan dua fremnya kusimpan di laci meja kerjaku di rumah). Dia kemudian mengatakan terima kasih dan akan pergi, namun cepat-cepat aku mengatakan bahwa aku bisa mengantarkan ke mana dia tinggal. Kembali, aku menjadi terkejut dengan apa yang kukatakan itu. Aku akan mengantarkannya? Namun kemudian aku mencoba mencairkan suasana dengan mengingatkan bahwa kami pernah bertemu. “Apakah Anda benar-benar tidak ingat kalau kita pernah bertemu di Stasiun Balapan, Solo?”&lt;br /&gt;Dia tersenyum (harus kuakui, senyumnya sangat manis dan menarik) dan kemudian mengatakan bahwa dia mengingat itu. Aku merasa dunia telah mencair, maksudku, gunung es itu telah mencair. “Tetapi terima kasih dengan tawaran Anda. Saya bisa pulang sendiri dan tak perlu harus merepotkan...”&lt;br /&gt;Ketika aku bertanya apakah dia sekarang sudah menetap di Jakarta, dia mengatakan bahwa sebenarnya dia tinggal di Jakarta. Dia berada di Solo hanya dua bulan dan bekerja di hotel itu. Namun dia merasa Solo bukan rumahnya, bukan tempatnya. Dia kemudian ke Jakarta lagi, bekerja di sebuah LSM di Pejompongan. Aku tak peduli dengan nama LSM tempat dia bekerja, sebab aku menjadi semakin bergairah untuk berbicara dengannya hingga lupa kalau baju dan celananya basah dan aku tadi sudah menawarkan untuk mengantarkannya ke rumah di mana dia tinggal. Aku hanya ingin banyak bicara dengannya, sebuah keinginan yang ketika kusadari, membuat aku heran sendiri. Mengapa aku begini agresif terhadap seorang laki-laki? Padahal selama ini teman-teman di kantor banyak yang mengatakan bahwa aku termasuk gerombolan patah hati yang tak mau dekat dengan laki-laki lagi. Mereka tahu aku baru saja putus dengan kekasihku, dua bulan lalu, tetapi aku merasa biasa saja, tidak ada yang aneh seperti yang terlihat di mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMI kemudian memang sering bertemu, dan seringnya malam hari ketika kami sama-sama sudah keluar dari kantor. Kami sudah lumayan akrab dan tak pakai “Anda” atau “saya” lagi dalam bicara. Dia bekerja di sebuah LSM yang banyak bergerak pada advokasi masyarakat miskin kota. Ketika kusebut nama Wardah Hafidz, dia mengatakan bahwa dia tak ada hubungannya dengan Urban Poor Consortium itu. “Kami hanya kumpulan orang-orang kecil yang mencoba peduli dengan mereka yang terjepit di kota ini. Kamu tahu? Kemiskinan adalah sebuah rasa sakit serupa bisul yang bernanah dan siap untuk pecah. Tidak ada orang yang ingin menjadi miskin. Tetapi siapa yang bisa menolak ketika hal itu menjadi sebuah nasib?”&lt;br /&gt;Kukatakan bahwa aku hanya seorang fotografer yang hanya bisa memotret dan tak paham dengan konsep-konsep kemiskinan yang banyak dia pahami. “Aku sering memotret orang miskin. Dan menurutku, adalah hak semua orang untuk tidak miskin di negri ini...”&lt;br /&gt;“Ya. Pemerintah sebenarnya bisa membangun sekolah-sekolah lebih banyak, menggratiskan biaya pendidikan, membangun rumah sakit dan meringankan beban mereka yang miskin. Tetapi itu tidak dilakukan. Kemiskinan dipandang sebagai takdir, padahal itu bisa musnahkan. Namun, biaya pendidikan banyak dimakan para pejabat, obat-obatan ditilep, masyarakat dibiarkan miskin dan bodoh. Aku muak dengan semua ini...”&lt;br /&gt;Lama-lama, aku semakin tahu dengan kehidupannya. Dia suka malam dan hujan, dan sering ketika hujan datang saat kami jalan, dia tiba-tiba mengatakan ingin keluar dari mobil dan berjalan kaki dalam hujan yang deras. Kukatakan bahwa itu akan membahayakan kesehatannya, tetapi dia menjawab bahwa dia sudah terbiasa dengan hal itu. “Aku mencintai malam dan hujan. Keduanya sudah lama berada dalam darah dan jiwaku...” katanya sambil berteriak karena harus melawan suara hujan. Aku mengikutinya di dalam mobil dengan lambat. Dia jalan di trotoar, sedang aku mengemudikan mobil tidak jauh darinya dan sangat pelan sekali.&lt;br /&gt;“Kenapa?” aku bertanya.&lt;br /&gt;“Malam dan hujan adalah dua hal yang membuatku merasa hidup.”&lt;br /&gt;“Oya? Seandainya tidak ada malam dan tidak ada hujan?”&lt;br /&gt;“Mungkin aku akan mati,” katanya sambil tertawa. Aku suka cara dia tertawa. Wajahnya menatap langit yang mencurahkan air, dan dibiarkannya wajah itu dijatuhi air hujan dan kemudian dia berteriak sekeras-kerasnya. “Jika aku mati, aku ingin ketika sedang berada di sebuah malam yang hujan seperti ini,” katanya masih dengan suara keras dan kemudian tetawa lagi.&lt;br /&gt;Aku bergidik. Aku tak suka bicara tentang kematian. Bagiku, hidup harus terus dijalani dan kematian adalah sebuah takdir dan nasib yang tak bisa dielakkan. Kematian adalah sebuah akhir, dan sebelum itu muncul, maka hidup harus terus berjalan dan diikuti. “Aku tak suka kamu bicara tentang kematian. Mengerikan...”&lt;br /&gt;Dia kemudian meminta aku menghentikan mobil. Dengan basah kuyup, dia masuk ke mobil dan aku bisa merasakan betapa dinginnya tubuhnya. Dia tidak menggigil. Dia mengatakan bahwa hujan selalu memberikannya semangat untuk memulai hidup yang lebih baik, meski dia tak pernah menemui lagi hidup yang lebih baik seperti yang diinginkannya itu.&lt;br /&gt;“Mengapa harus malam dan hujan? Bukankah ada hal-hal lain lagi yang bisa menjadikan hidupmu lebih baik lagi? Cinta, misalnya. Atau lukisan seperti yang pernah kamu datangi waktu kita ketemu dulu? Masih ada yang lain kukira yang bisa membuat kita bersemangat untuk meneruskan hidup...”&lt;br /&gt;Aku membawanya ke rumahku di Kembangan. Aku mengontrak sebuah rumah kecil dan itu cukup bagiku. Aku cukup nyaman di sana selama ini. Jika ada libur dan kesempatan, aku pulang ke Bogor, pulang ke rumahku yang sesungguhnya. Jakarta telah menjadikanku kaku, tetapi inilah yang memang harus kulakukan. Aku mencintai pekerjaan ini, dan aku menganggap meski kaku, tetap ada hal-hal yang menghuni dan mengisi pekerjaanku. Aku tidak bosan, hanya sering suntuk saja dan itu bisa hilang dalam beberapa jam. Fotografi adalah seni bagiku, dan ketika aku harus bekerja karena seni itu, maka yang muncul dalam diriku adalah kecintaan. Aku akan berusaha mendapatkan foto yang bagus, artistik dan tidak hanya memenuhi nilai berita sebuah foto. Memang, mulanya aku agak kaku ketika seni fotografi yang kudalami harus dituntut dengan kuantitas dan ketepatan waktu dalam dunia pers. Aku harus melakukan penyesuaian beberapa lama dan itu ternyata memang hanya sebuah proses waktu. Sekali lagi, aku mencintai duniaku sekarang. Paling tidak, dia telah menjadi sebuah jalan yang tak pernah kusesali, dan aku terus menapakinya.&lt;br /&gt;“Kadang-kadang aku juga ingin sepertimu, bekerja yang benar dan mencintai pekerjaan itu...” katanya ketika sampai di rumahku.&lt;br /&gt;“Selama ini kamu tidak pernah mencintai pekerjaanmu?”&lt;br /&gt;“Apakah apa yang kulakukan ini sebuah pekerjaan?” Dia memandangku dengan tajam. Kemudian, katanya lagi, “Kamu mengingatkanku pada ibuku...”&lt;br /&gt;Aku terpana dan agak kikuk ditatap dan dikatakan seperti itu. “Pasti dia sangat berarti bagimu...”&lt;br /&gt;“Ya. Dia sangat berarti. Dia perempuan yang kuat. Sering aku merindukannya dan merasa berdosa karena meninggalkannya. Tetapi kemudian aku bersyukur karena kedua adikku tetap berada di rumah. Mereka bekerja keras bersama penduduk lainnya untuk mempertahankan tanah kami...”&lt;br /&gt;“Tanah?”&lt;br /&gt;“Sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mendapat izin dari pemerintah memasukkan tanah warga kampung kami ke dalam arealnya. Katanya, kampung kami tidak ada dalam peta. Yang ada dalam peta mereka, kawasan itu adalah hutan semua.”&lt;br /&gt;“Apa yang dilakukan oleh penduduk kampungmu?” Aku mendekatinya, memegang jemarinya.&lt;br /&gt;Dia mengatakan bahwa mereka dengan berbagai upaya melawan apa yang dilakukan perusahaan itu. Mulanya mereka memprotes ke kecamatan sampai ke kabupaten, namun tetap tak ada hasilnya. Lama-lama, ketegangan menjadi kian sering terjadi dan akhirnya banyak warga yang diintimidasi orang tak dikenal. Dia kemudian menjadi marah karena tekanan dan ketegangan itu membuat bapaknya sakit dan akhirnya meninggal tak berapa lama setelah terjadi bentrokan antara warga dengan orang-orang perusahaan yang membuat kantor polisi terbakar. Dia mengatakan bahwa bentrokan itu terjadi karena penduduk ingin membebaskannya setelah dia dipermak petugas keamanan di kantor perusahaan sawit itu sebelumnya.. “Aku datang ke kantor mereka tetapi aku hanya berdua dan mereka memiliki pengamanan yang terlatih. Aku bisa keluar dari kantor itu, tetapi tubuhku menjadi amukan mereka sebelum aku dibawa ke kantor polisi.”&lt;br /&gt;“Tak ada yang menolong? Kamu terluka parahkah?”&lt;br /&gt;“Tuhan pun tak mau menolongku. Tetapi aku tak benci Tuhan seperti aku tak pernah membenci bapak. Aku hanya benci mengapa beban hidup seperti itu selalu muncul dalam kehidupanku. Namun kemudian aku benar-benar tak tahan. Jika aku tetap berada di sana, aku akan menjadi seorang pembunuh karena dendam dan sakit hati...”&lt;br /&gt;“Lalu mengapa kamu berada di Solo ketika itu?”&lt;br /&gt;“Aku pergi dan melarikan diri. Aku tak tahan lama-lama di sana...”&lt;br /&gt;Aku merasakan dia mulai kedinginan meskipun dia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian baru yang kami beli di toko ketika akan pulang. Dia menggigil dan memelukku. Aku senang diperlakukan seperti itu. Aku menikmatinya, menikmati pelukan lelaki dengan masa lalu berat seperti dirinya. Seluruh perjalanan hidup yang diceritakannya padaku membuat aku trenyuh. Aku ke dapur dan memanaskan air dan membuatkan teh hangat untuknya. Dia kemudian merasa hangat dan kami bercerita lagi. Kali ini, katanya, dia tiba-tiba ingat namaku.&lt;br /&gt;“Namamu mengingatkanku pada sebuah klub sepakbola Italia, Fiorentina. Itu klub besar di sana dengan warna kebanggaan ungu. Itu makanya julukan La Viola melekat di tubuh klub itu, artinya Si Ungu. Nah, nama kotanya mirip namamu, Florence, menurut orang Inggris. Sedang orang Italia menamakannya Firenze... Namamu bagus...”&lt;br /&gt;“Kamu suka sepakbola?”&lt;br /&gt;“Ya. Aku suka sepakbola dan aku suka Fiorentina. Klub itu pernah melahirkan pemain-pemain besar seperti Roberto Baggio sebelum pindah ke Juventus dan menjadi pemain terbaik dunia. Setelah kepergian Baggio seusai Piala Dunia 1990, datanglah Gabriel Batistuta, orang Argentina yang dianggap dewa oleh para pendukung Fiorentina. Bahkan patung Batistuta dibuat di depan Stadion Artemio Franchi. Namun, sembilan tahun dia di sana, tak satupun gelar yang didapatnya. Batistuta kemudian pindah ke AS Roma dan mendapat gelar juara liga di sana, sementara Fiorentina harus berjuang di Seri B setelah kegagalan mereka bersaing di level atas sepakbola Italia. Belakangan Fiorentina malah sampai ke Seri C karena dinyatakan bangkrut, sebelum kemudian merangkak lagi untuk memperbaiki prestasinya, setelah masuknya pengusaha sepatu...”&lt;br /&gt;Aku tertawa mendengar ceritanya. Dia sangat hafal dengan sejarah klub itu. “Lalu apa hubungannya dengan namaku? Kamu seperti komentator sepakbola di televisi...”&lt;br /&gt;“Namamu bagus, Flo...”&lt;br /&gt;“Florentina... Itu nama baptisku.”&lt;br /&gt;“Itu yang ingin kutanyakan padamu. Kamu seorang muslim, bukan?”&lt;br /&gt;“Sekarang, ya. Aku lahir dari keluarga Khatolik dan besar dengan agama itu. Namun ketika masuk SMA, aku tak menemukan kenyamanan dan kemudian seorang temanku mengajakku untuk ikut pengajian yang diadakan oleh sekolah. Aku tertarik dan kemudian menjadi muslim. Awalnya memang berat. Aku harus berjuang meyakinkan ayahku dan seluruh keluargaku bahwa aku berhak memilih, sebab itu hal yang paling penting dalam hidupku meskipun selama menjadi Khatolik atau sekarang menjadi Islam, aku juga bukan orang yang taat. Semua agama baik, tetapi aku merasa lebih baik dengan pilihanku sekarang...”&lt;br /&gt;“Dan nama baptis itu tetap kamu pakai?”&lt;br /&gt;“Aku suka nama itu...”&lt;br /&gt;“Nama aslimu siapa?”&lt;br /&gt;“Kartika Ayu Darmawatiningtyas dengan baptis Florentina...”&lt;br /&gt;“Namamu benar-benar indah...”&lt;br /&gt;Kami berciuman lama, dan setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi. Pagi-pagi ketika terbangun, aku tak mendapatinya lagi. Itulah kali pertama dia menghilang setelah semalam kami bersama dalam sebuah cerita yang tak bisa kuceritakan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA hari setelah itu, aku mendengar akan ada demo yang melibatkan buruh di beberapa pabrik di Tangerang, Urban Poor Concortium, dan beberapa elemen LSM yang gerakannya segaris. Mereka akan memperingati Hari Buruh dengan cara demo di jalanan. Kabarnya, kawasan Sudirman, Thamrin hingga Monas akan dipenuhi massa. Teman-teman di kantor sudah mendapat kabar ini jauh-jauh hari, dan aku langsung teringat padanya. Tetapi, ke mana aku harus mencarinya untuk menanyakannya apakah dia ikut dalam gerakan ini? Dia tak meninggalkan jejak apapun kepadaku. Tidak alamat atau nomor telefon yang bisa kubuhubungi.&lt;br /&gt;Seperti keinginanku, malamnya dia datang ke kantorku ketika aku akan pulang. Dia mengatakan kangen, tetapi aku balas dengan meninju dadanya. Aku menangis. “Kau membiarkan aku terombang-ambing beberapa hari ini. Mengapa kau meninggalkanku dan tak memberi kabar apapun?”&lt;br /&gt;Kami kemudian menuju mobil dan aku mengajaknya ke rumah.&lt;br /&gt;“Maafkan aku. Aku telah melibatkanmu dalam kehidupanku yang rumit...”&lt;br /&gt;“Kamu yang menganggap rumit. Kenapa? Apakah kau kira aku tak bisa dan tak boleh hidup dalam kerumitanmu itu?”&lt;br /&gt;“Flo... Aku hidup mengikuti arah angin dan matahari. Aku tak punya rencana-rencana seperti orang-orang yang berpikir tentang masa depan. Aku mengikuti waktu dan tak pernah mempedulikan tentang kebahagiaan di suatu saat nanti. Itu sangat buruk kukira. Jangan mengikuti jejakku, Flo...”&lt;br /&gt;“Kenapa? Apakah kamu melakukan itu karena kamu dendam dengan apa yang dilakukan bapakmu kepadamu?”&lt;br /&gt;“Bapakku telah mengajarkan kepadaku tentang sebuah pelajaran hidup yang sebenarnya. Aku tak pernah dendam kepadanya meski ketika itu aku benar-benar marah dan sangat kecewa...”&lt;br /&gt;“Lalu kenapa?”&lt;br /&gt;“Aku tak pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan, Flo. Aku tak ingin kamu sengsara bersama denganku, karena perempuan yang kucintai itu kamu...”&lt;br /&gt;“Benarkah?” Aku memeluknya&lt;br /&gt;“Seorang laki-laki harus melindungi perempuannya, dan aku tak akan bisa melakukannya terhadapmu. Aku akan selalu pergi mengikuti angin dan matahari, mengikuti perasaan-perasaanku, kekecewaan-kekecewaanku...”&lt;br /&gt;Aku memeluknya dan mengatakan bahwa aku akan menerima apapun yang terjadi. Aku ingin mengikuti angin yang diikutinya, matahari yang diikutinya, perasaan yang diikutinya, kekecewaan yang diikutinya... Aku ingin merasakannya, seperti merasakan ketika dia pingsan karena harus menanggung beban berat di tubuhnya di malam yang dingin dan hujan di ladang karet itu. Aku mengatakan kepadanya bahwa rasa cintanya kepadaku itu telah membuatku berada di dunia lain, tetapi nyata dan indah. Dunia yang membuat aku tak ingin berhubungan dengan orang lain selain mendengar cerita-ceritanya yang satir dan getir tentang bagaimana dia memandang dunianya. Getir dan satir, namun di telinga dan perasaanku terasa indah dan nyaman. Aku ingin mengubah dunianya dalam ceritanya itu menjadi penuh warna keindahan.&lt;br /&gt;Aku benar-benar masuk dalam dunianya, meski segala keanehan yang selalu muncul dan membuatku cemas. Tentang kecintaannya kepada malam dan hujan. Hampir di setiap malam dan hujan, dia keluar rumah dan membiarkan dirinya berada dalam hujan yang membasahkan seluruh tubuhnya –yang di mataku dia terlihat seksi, jantan dan menggairahkan. Namun, sering juga kemudian dia menggigil tanpa ada sebabnya di malam yang tak hujan dan bahkan panas. Dia kedinginan dan aku harus pontang-panting mencarikan selimut dan bahkan aku membiarkan tubuhku menjadi selimut baginya. Aku membuka seluruh pakaian di tubuhnya, juga yang ada di tubuhku. Semuanya. Dan aku memeluknya sambil menangis, hingga seluruh air mataku mengalir ke tubuhnya dan sering kemudian dia siuman dan kemudian mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku.&lt;br /&gt;Aku tahu, malam dan hujan memang menjadi bagian dari hidupnya. Malam dan hujan yang menjadi lembaran hitam dalam sejarah hidupnya saat di kampungnya, dirubahnya menjadi sebuah kecintaan yang mengerikan bagiku, meski kemudian pelan-pelan aku bisa memahaminya.&lt;br /&gt;Dan, ketika kemudian dia ikut terlibat dalam demonstrasi buruh dan masyarakat miskin kota yang kemudian berubah menjadi huru-hara dan kerusuhan itu, aku juga berusaha untuk memahaminya. Dia mengatakan bahwa selama ini kemiskinan hanya menjadi tontonan para borjuis dan banyak dijadikan proyek oleh para pejabat dan pengusaha untuk kekayaan sendiri. “Semua orang berhak untuk hidup lebih baik dan negara ini punya uang untuk membuat rakyatnya terbebas dari segala penderitaan itu. Di Riau, ada seorang bupati yang membangun rumah dinasnya dengan angka yang sangat fantastis, 25 miliar rupiah. Juga banyak pejabat yang tak mau naik mobil mewah biasa, mereka membeli yang harganya tinggi biar dikatakan keren. Bukankah Riau daerah kaya? Mungkin begitu pikiran mereka. Para wakil rakyat juga dengan senang hati ketika dibagi-bagi mobil mewah sehingga semua ajuan anggaran disepakati dan di belakang dipotong ramai-ramai. Aku yakin di Jakarta ini dan di daerah lain, hal serupa terjadi...”&lt;br /&gt;Maka, katanya, harus ada sebuah gerakan sosial yang harus mengubah itu karena gerakan moral sudah tidak dipedulikan lagi. “Mereka sudah tidak memiliki moral lagi. Moral hanya menjadi sebuah legenda bagi mereka, sementara bagi masyarakat kecil, hanya itulah yang mereka miliki selain kejujuran, karena kekayaan dan kebanggaan mereka sudah tidak memiliki lagi...”&lt;br /&gt;Bulu kudukku bergidik mendengar apa yang dikatakannya itu. Apa lagi kemudian dia menyebut-nyebut banyak tokoh pergerakan yang katanya menjadi pahlawan sejati bagi masyarakat dunia. “Kamu harus tahu, di balik baju lusuh dan sepeda butut yang dikendarai Wang Dan, ada tersimpan magma dan semangat yang menjadi inspirasi bagi anak-anak muda dan mahasiswa Cina yang menginginkan perubahan. Meskipun kemudian dia mati di tangan diktaktor komunis bersama ratusan mahasiswa lainnya di Tiananmen, tetapi orang pasti tahu bahwa lambat tapi pasti, perubahan itu akan terwujud...”&lt;br /&gt;“Tapi gerakan Wang Dan, Che Guevarra, dan sekian penggerak demokrasi maupun aktivis sosial, didukung oleh dunia internasional. Sedang gerakanmu, siapa yang mendukung?”&lt;br /&gt;“Aku tak ingin terkenal seperti Wang Dan atau tokoh-tokoh lainnya. Aku hanya ingin kemiskinan dibuang dan masyarakat diberi keadilan yang memang pantas mereka terima. Negara ini kaya, Flo...”&lt;br /&gt;Setelah bentrokan yang menimbulkan korban luka-luka baik aparat maupun buruh dan masyarakat miskin itu, dia kemudian menghilang agak lama. Beberapa sumber yang kudengar menyebutkan bahwa dia masuk salah satu orang yang diburu aparat untuk dimintai keterangan. Dia menelponku bahwa dia berada di suatu tempat di Solo. “Aku aman, Flo. Nanti kalau semuanya baik-baik saja, aku akan mengabarimu lagi. Mungkin wartel tempatku menelponmu ini juga sudah diawasi oleh inteljen. Tetapi, sejatinya aku tak takut tertangkap. Apakah dengan gerakan dan bentrokan seperti itu, aku harus masuk penjara? Jika semua orang yang melakukan demonstrasi dan bentrokan itu masuk penjara, penjara akan penuh dan pemerintah akan repot mengurus kami yang kemudian mereka malah tak mau mengurus orang-orang miskin yang kami perjuangkan itu Flo...”&lt;br /&gt;Aku kemudian menjadi paham, mengapa dia bersikeras tidak mau fotonya dicetak atau malah masuk koran. Namun, aku tetap mencetaknya dan menyimpannya di dalam kamarku. Menjadikannya sebagai pengobat rindu, atau hanya kenangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAPAK memang menginginkan aku menjadi laki-laki yang kuat. Katanya, lelaki harus bisa melindungi perempuannya, bisa saja kekasih atau istrinya, juga anak-anaknya. Katanya, jika dia menelantarkan perempuan dan anak-anaknya, maka dia bukan laki-laki. Dia lebih buruk dari banci dan mirip babi! Bapak sangat benci dengan babi. Ketika kami masih kecil, kami sering diajak tidur di gubuk di pinggir hutan untuk menghalau babi yang merusak dan memakan tanaman padi, juga sayuran. Ketika itu adikku yang paling kecil belum lahir sehingga aku dan adikku, juga ibuku, harus mengungsi ke hutan setiap malam untuk ikut bapak menjaga padi gogo. Sebenarnya, aku lebih banyak tidur ketimbang menjaga. Bapak dan ibuku yang sering terbangun dan menarik-narik tali di empat arah yang masing-masing disambungkan dengan orang-orangan yang di sana ditalikan bermacam kaleng yang kalau ditarik-tarik bisa menimbulkan suara gaduh.&lt;br /&gt;Pagi-pagi, kami kembali lagi ke rumah dan aku pergi ke sekolah sementara adikku yang masih kecil bermain tidak jauh dari rumah. Tidak jauh dari rumah, itu perintah bapak, karena katanya kalau jauh dari rumah, saat diperlukan dia tidak ada. “Dari kecil ini, kalian harus selalu ada ketika diperlukan oleh keluargamu. Ketika kayu bakar habis, kalian harus mencarinya untuk memasak. Jika air habis, kalian harus mengangkutnya dari sungai. Kalian juga yang harus berbelanja ke warung biar emakmu tidak perlu capek karena dia sudah capek memasakkan nasi dan lauk untuk kalian.” Begitu kata bapak, juga beberapa kata lainnya.&lt;br /&gt;Aku tak menjawab apa-apa, juga adikku.&lt;br /&gt;Aku pergi ke sekolah berjalan kaki sekitar tiga kilo, sementara adikku bermain tidak jauh dari rumah. Sementara bapak kembali lagi ke ladang padi untuk menjaga padi dari serangan beruk dan monyet yang sering datang bergerombol untuk merusak padi-padi kami. Sebenarnya, tidak hanya kami yang menanam padi. Para tetangga juga menanam dan ketika malam saat berjaga, kadang mereka, orang-orang tua itu, bercengkrama di bahwa gubuk dan aku memilih tidak mendengarkan.&lt;br /&gt;“Kita harus bekerja untuk mendapatkan apa yang akan kita makan dan uang. Kamu harus paham itu. Jangan sisakan makanan yang ada dalam piringmu, ingatlah semua jerih-payah kita untuk mendapatkannya. Kelak, jika kamu dewasa dan ketika aku tidak bisa bekerja lagi, kamu akan tahu bagaimana susahnya untuk mendapatkan makanan dan keperluan hidup. Bapakmu makin lama akan makin tua, dan kalian berdua akan tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang kuat. Kalianlah yang harus menggantikan aku untuk menghidupi keluargamu. Laki-laki harus begitu...”&lt;br /&gt;“Iya, Bapak...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA tanah tak lagi menyisakan humus setelah ditanam tiga atau empat kali, penduduk kampung kami menaminya dengan pohon karet. Kami kemudian berpindah lagi untuk membuka ladang baru untuk ditanami padi dan palawija sambil menunggu tanaman karet kami bisa ditakik setelah berusia lima sampai enam tahun. Dan selama itu, kami tetap harus mengungsi ke ladang di pinggir hutan lindung untuk menjaga serangan babi.&lt;br /&gt;Aku sudah masuk SMP ketika itu, ketika karet kami sudah bisa disadap dan getahnya bisa dijual untuk digantikan dengan uang. Uang itulah yang dipergunakan oleh keluargaku untuk biaya sekolahku dan dua adikku (adikku yang paling kecil lahir kemudian), dan untuk kebutuhan sehari-hari. Aku bisa memahami kalau bapak memang sangat hati-hati dalam membelanjakan uang. Yang penting, katanya, biaya sekolah kami tetap ada, sementara kami tak memikirkan bagaimana mendapatkan beras karena hasil panen sekali setahun tanaman padi gogo bisa menghidupi kami dalam setahun juga. Kami punya gudang untuk tempat padi dan gabah. Hampir semua orang kampung punya.&lt;br /&gt;Bapak yang mengajariku bagaimana menakik pohon karet yang baik agar pisau sadapnya tidak menyentuh batang kayu. Sebab, kalau sampai batang kayunya teriris, maka kulitnya akan lama untuk pulih sehingga ketika harus mengulangi menyadap di kulit baru beberapa tahun kemudian, akan kesulitan, dan getah yang diharapkan tidak sebanyak yang awal. Hal itu juga akan membuat jamur lebih gampang menyerang pohon yang kemudian sering tiba-tiba pohon karet itu meranggas kering dan mati.&lt;br /&gt;“Begini...” kata bapak sambil memegangkan pisau ke tangan kananku. “Tangan kananmu yang memegang gagangnya, dan tangan kiri menjadi penyeimbang di besinya. Pelan-pelan, naik-turunkan secara pelan agar pisau tidak memakan terlalu tebal kulit, dan sisi kanannya tidak terlalu masuk ke dalam agar tidak menyentuh batang kayunya....”&lt;br /&gt;Aku tak perlu menjawab. Yang kuperlukan adalah memahami apa yang dikatakannya. Dan hanya dalam waktu seminggu, aku sudah sangat fasih menyadap karet untuk mendapatkan getah yang bau awalnya saat menetes di mangkok yang terbuat dari bathok kelapa itu, lumayan harum. Namun setelah nanti diambil getak lateks berwarna putih itu dan disatukan ke dalam sebuah bak untuk dibekukan memakai pupuk TSP yang sudah dilarutkan ke dalam air sebagai pengganti asam cuka, beberapa hari kemudian baunya sangat bacin.&lt;br /&gt;Mulanya, aku agak mual ketika harus memegang dan sering harus ikut membantu bapak memanggul bantalan getah itu untuk dibawa ke rawa, agar tetap berada dalam air. Namun akhirnya lama-lama itu seperti sudah menjadi bagian dari hidupku. Aku memang tidak bisa ikut menakik setiap pagi karena harus ke sekolah, tetapi sorenya, ketika masih ada pohon yang belum tersadap oleh bapak dan emak, aku sering ikut membantu. Ketika selesai Ashar, kami mengambil lateks dari mangkok di pohon satu per satu, dan kemudian membawanya untuk dikentalkan. Setelah itu, aku bisa bermain voli atau sepakbola bersama teman-teman di lapangan, tidak jauh dari rumah.&lt;br /&gt;“Laki-laki itu, yang paling penting adalah tanggung jawab. Tanggung jawab apa saja, terhadap pekerjaan yang harus dikerjakannya terutama. Dan itu memerlukan kedisiplinan, mengatur waktu, kapan saatnya sekolah, membantu di ladang, olahraga dan belajar di malam hari sebelum tidur. Mungkin ini akan membosankan, tetapi suatu saat kamu akan memahami ini...”&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk beberapa kali. Dari kecil, aku memang tak pernah belajar untuk bertanya atau menjawab apa yang dikatakan oleh bapak. Menurut emak, memang tidak ada yang perlu dijawab dan dipertanyakan apa yang dikatakan bapak. Cukup dilaksanakan, semuanya akan selesai. Dan memang, selama ini, semuanya begitu. Selesai. Meski kadang-kadang aku rindu ingin berbincang-bincang dengan bapak. Paling tidak, ada komunikasi dua arah, bukan hanya satu arah dan aku hanya mengangguk dan kemudian melaksanakan. Ini kusadari ketika aku sudah masuk SMA di kota kecamatan, yang harus berangkat dengan sepeda sejauh lebih 15 kilo meter.&lt;br /&gt;“Tapi itu tidak penting. Yang paling penting bagimu adalah belajar yang tekun. Jangan seperti Emak yang tak pandai membaca. Kamu harus jadi orang pintar, terserah mau jadi apa kamu nanti...”&lt;br /&gt;“Iya, Mak...”&lt;br /&gt;Kehidupan berjalan dengan baik dan normal. Aku menikmati apa yang kami dapatkan, menyelesaikan semuanya dengan baik tanpa harus mempertanyakan terlalu rumit apa-apa yang telah kami lakukan. Namun, semuanya menjadi berat ketika kejadian itu membuat hampir seluruh penduduk kampung akhirnya berada dalam situasi yang rumit.&lt;br /&gt;Sebenarnya, kasak-kusuk itu sudah muncul sebelumnya, bahwa juragan Marno, salah seorang yang paling berpengaruh di kampungku, sering bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk. Dia lumayan kaya. Punya dua mobil truk dan satu mobil pribadi. Dialah yang selama ini menjadi pedagang pengumpul getah karet kami, dan dari bisnis ini, dia benar-benar memiliki segalanya. Namun, lama-lama para petani karet tahu, dia sering bertindak curang. Dia sering mengurangi timbangan, membeli dengan harga yang rendah –kata bapak, harga yang diberikannya sangat jauh dengan harga beberapa tauke lain di kampung tetangga dan selama ini tidak ada yang mempertanyakan— dan malah belakangan sering main pukul terhadap beberapa petani yang mempertanyakan soal harga itu. Dan berita yang paling baru adalah, Marno sering mengganggu wanita, baik yang sudah berkeluarga, janda atau beberapa gadis. Aku sendiri tidak tahu itu, tetapi bisik-bisik itu berkembang sampai jauh.&lt;br /&gt;Mulanya, aku sering mendapati bapak sering pulang malam –ketika itu kami sedang tidak berjaga di ladang karena habis panen. Ibuku mengatakan bahwa bapak pergi ke rumah Madrohi, salah seorang penduduk yang dikabarkan sepekan sebelumnya dipukuli oleh Marno sampai lebam-lebam. Katanya, banyak penduduk kampung yang pergi ke rumahnya setiap malam, juga banyak pemuda desa yang usianya memang lebih muda dari usia bapak dan orang tua lainnya. Aku hanya mendengar sebatas itu dari emak, dan aku memang tidak banyak bertanya lagi.&lt;br /&gt;Tapi bapak memang sering pulang malam, dan sering aku yang membukakan pintu. Kadang sampai jam 12 malam, atau malah sering lebih. Aku tidak bertanya apa-apa kepadanya; tidak patut, bukan urusan anak kecil, dan memang selama ini aku memang tak pernah bertanya apa-apa kepada bapak, aku hanya semakin sering mendengar bahwa penduduk kampung kami sudah semakin muak dengan apa yang dilakukan Marno. Lelaki berumur 40 tahunan itu, kata berita-berita itu, sudah semakin keterlaluan. Ada penduduk yang dipukul, dimaki-maki seperti anak kecil, getahnya tidak dibayar, dan –ini yang lebih keterlaluan— Marno juga malah semakin sering menganggu perempuan di kampung.&lt;br /&gt;Sama seperti kami, Marno sebenarnya adalah pendatang. Katanya, dia dulu seorang preman di Pasar Legi, Solo. Kabarnya lagi, dia sangat ditakuti oleh semua preman di sana sebelum akhirnya ia menyeberang ke Sumatera membawa seorang perempuan tanpa anak, yang memang sangat cantik dan muda, jauh dari usianya. Beberapa kali aku melihat istrinya saat sore akan pergi main bola yang melewati rumah besar Marno yang berpagar rapi. Aku yang masih SMP ketika itu, memang mengakui bahwa istri Marno memang canntik. Teman-teman juga mengatakannya demikian.&lt;br /&gt;Hampir seluruh warga kampung kami adalah pendatang. Ada yang dari Jawa, Sumatera Utara, Padang, dan beberapa daerah lainnya. Kebanyakan dari Jawa, Medan, Padang dan dari beberapa daerah di Teluk Kuantan. Hampir dua puluh tahun yang lalu, kampung ini masih berupa hutan lebat, dan satu per satu, pada pendatang membukanya. Bapak pindah ke sini dari Logas hanya beberapa bulan setelah menikah dengan ibuku, dan menjadi keluarga ke-12 di kampung ini sebelum kemudian berdatangan keluarga-keluarga lain dari berbagai suku. Kata ibuku, awalnya memang sulit beradaptasi dengan banyak suku seperti ini, tetapi kemudian semuanya menjadi baik. Orang-orang yang datang dari Jawa –-mereka tidak transmigrasi, tetapi katanya merantau— akhirnya sedikit-sedikit bisa memakai bahasa Indonesia meski masih bercampur bahasa Jawa. Mereka yang datang dari Medan juga begitu, pun mereka yang datang dari Sumbar dan orang-orang Riau yang datang dari berbagai daerah. Mereka membuka ladang dengan giliran. Dan dengan cara inilah akhirnya kampung ini benar-benar menjadi kampung. Pemerintah kemudian melebarkan jalan yang menghubungkan langsung dengan Lintas Sumatera, sekita 15 kilo. Sebelum jalan itu dibesarkan, kata ibuku, memang sudah ada jalan lama yang dibuat oleh sebuah perusahaan HPH yang mengambil kayu di hutan, masih beberapa kilo lagi dari kampung kami. Katanya perusahaan itu bernama Inhutani IV. Akses jalan ke kampung kami bukan jalan utama mereka, tetapi bagi kami sudah cukup untuk bisa digunakan sebagai jalan yang fungsinya sangat penting.&lt;br /&gt;Itu makanya, berladang berpindah masih dilakukan penduduk untuk membuka hutan bekas tebangan Inhutani IV itu. Bapak pernah bercerita, bahwa di kawasan ini, kawanan harimau dan gajah masih banyak, meski hingga kini aku tak pernah secara langsung bertemu dengan binatang-binatang buas itu. Meski kadang-kadang, aku melihat ada rasa was-was di muka bapak dan penduduk kampung lainnya ketika kami menunggui ladang padi, karena kalau gajah datang menyerbu, tidak akan ada yang berani melawan selain melarikan diri. Tapi benar, sampai aku menceritakan ini, belum pernah sekalipun aku berhadapan langsung dengan gajah yang masuk perkampungan penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERIHAL Marno, kata ibuku lagi, dia datang beberapa tahun setelah kami menetap di kampung ini. Mulanya dia datang sebagai orang biasa; menumpang di salah satu rumah penduduk asal Jawa, dan kemudian beberapa bulan setelah itu mendirikan pondok sendiri. Sama seperti penduduk lainnya, Marno juga membuka ladang untuk ditanami padi dan menjual kayunya kepada touke-touke yang datang dari Pekanbaru dengan harga yang rendah. Beberapa bulan setelah itu, Marno memiliki mesin cainshaw sendiri dan bekerja membalak kayu di hutan bersama beberapa penduduk kampung. Lama-lama, usahanya berkembang dan dia bisa membeli truk. Dia kemudian menanam ladangnya dengan tanaman karet dan memiliki beberapa anak buah untuk membalak kayu di hutan. Ketika pohon karet mulai menghasilkan, Marno kemudian terjun di bisnis jual-beli tersebut. Penduduk kampung tetap melihat dan menilai Marno sebagai salah satu bagian dari mereka dengan segala kebaikannya. Tidak banyak omong, bekerja tekun, lumayan pandai dan tidak terlihat kalau dia bekas preman di Pasar Legi seperti cerita yang berkembang.&lt;br /&gt;Semua usaha yang dilakukan Marno berhasil dan tumbuh dengan baik. Dua anaknya kemudian lahir dan istrinya masih saja kelihatan cantik. Namun belakangan, tabiatnya berubah, dan mungkin itulah tabiat aslinya. Dia menjadi orang sukses, kaya dan bisa membeli apa saja. Awalnya, seluruh warga menganggapnya sebagai kekilafannya, tetapi kemudian mereka menjadi marah karena hal itu sering terulang dan terulang. Hingga akhirnya aku sering melihat bapak pulang malam yang katanya pergi ke rumah Madrohi, salah seorang penduduk yang jadi bulan-bulanan Marno beberapa hari sebelumnya.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Namun hembusan angin itu juga sampai ke telingaku, bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Sesuatu yang buruk akan terjadi dan aku tidak tahu apa bentuknya. Hingga pada sebuah Subuh, aku terjaga ketika ibuku mengatakan bahwa benar telah terjadi sesuatu. Dua adikku tetap tidur ketika aku menyelinap keluar rumah dan berjalan kaki sejauh satu kilo menuju sebuah rumah besar di tengah-tengah kampung. Di sana, telah berkumpul banyak orang dengan masing-masing memegang senter dan senjata. Ada pisau, parang, sabit, clurit, batangan besi, kayu bloti dan senjata-senjata lainnya. Semuanya laki-laki, muda dan orang tua. Aku melihat dari agak kejauhan dan tidak bisa melihat apa yang benar-benar terjadi.&lt;br /&gt;Pagi-pagi aku baru tahu kisah sebenarnya.&lt;br /&gt;Tengah malam, hampir seluruh penduduk sudah berkumpul di rumah Madrohi. Dengan senjata-senjata yang mereka bawa, juga senter dan obor di tangan, mereka bergerak ke rumah Marno menjelang Subuh. Sebenarnya Marno sudah tahu apa yang akan terjadi terhadap dirinya, paling tidak dia paham bahwa akan ada kemarahan dari warga terhadap dirinya. Yang terjadi, dia sudah menyiapkan beberapa orang preman dari luar kampung yang selama ini memang sering berada di rumahnya. Dia yakin, bahwa warga tidak akan berani memasuki pagar rumahnya, apalagi masuk ke pintu rumahnya. Semuanya sudah dijaga oleh anak buahnya. Namun malang, jumlah warga terlalu banyak, anak buahnya tak bisa melawan dan akhirnya mereka dibuat lari terbirit-birit keluar kampung dengan motor mereka masing-masing. Ada yang sempat selamat dan tanpa luka apa-apa, tetapi ada yang sempat semaput karena pukulan kayu bloti dan besi, atau malah terluka oleh pisau dan parang yang dibawa warga.&lt;br /&gt;Aku mendapatkan cerita ini dari Zamzami, pemuda yang umurnya lebih tua dariku, tetapi kami sering bermain bola bersama hampir setiap sore. Katanya, “Setelah kami berhasil melumpuhkan anak buah Marno, secara serentak, kami masuk ke tiga pintu masuk di rumahnya...”&lt;br /&gt;Targetnya adalah Marno. Harus mati, malam itu juga. Dua anak dan istrinya tidak boleh disentuh. Anak-anak dan wanita harus dijauhkan dari kekerasan. Tetapi, mengapa harus ada kekerasan seperti itu? Sebab, kata Zamzami, Marno sudah keterlaluan, dan kemarahan warga sudah berada di titik puncak, tidak bisa ditawar lagi. Marno tidak saja telah melukai warga secara fisik, tetapi kelakuannya terhadap para perempuan, dianggap sudah tidak bisa dimaafkan. Selama ini warga memang terkesan diam dan ketakutan, tetapi sekarang tidak. Mereka bersama-sama, tak ada yang harus ditakutkan. Dan, menjelang Subuh malam itu, Marno memang menemui nasib yang tragis.&lt;br /&gt;“Dia berusaha mengunci dirinya di dalam kamar bersama anak dan istrinya. Tapi pintu berhasil kami jebol...”&lt;br /&gt;Dua anak dan istrinya dikeluarkan dan dijauhkan dari Marno. Mereka dibawa pergi ke rumah sebelah dan dijaga oleh beberapa laki-laki. Mereka menangis dan meraung-raung, seakan tahu apa yang akan terjadi pada Marno. Tetapi mereka tetap dibawa, tidak diapa-apakan, hanya dijauhkan dari Marno. “Ampunkan suamiku... Ampuni dia...” suara Ambar, istri Marno, melengking, tetapi dia dan dua anaknya tetap dijauhkan dari Marno.&lt;br /&gt;Di rumah Marno, kejadiannya sangat cepat. Setelah anak dan istrinya berhasil dikeluarkan, Marno ditarik beberapa laki-laki keluar kamar. Tapi, dia berhasil melepaskan diri dan berlari ke arah belakang rumahnya. Ternyata, di sana, puluhan laki-laki sudah menunggu dengan senjata masing-masing. Marno berusaha menerobos, tetapi sial, sabetan dan pukulan senjata itu membuat dia meraung meski tetap berlari. Dan sialnya lagi, di belakang rumahnya da kolam berukuran sekitar 3x4, penuh air, dan Marno kecemplung di kolam itu. Saat itulah, sabetan dan pukulan itu datang bertubi-tubi. Beberapa laki-laki masuk ke dalam kolam menghajarnya dengan kayu, besi, parang, pisau dan segala jenis senjata yang dibawa. Marno meraung, namun lukanya tetap bertambah, bertambah, terluka dan bertambah lagi. Hampir semua laki-laki yang memegang senter dan obor itu mengarahkannya ke kolam. Kolam ikan yang airnya keruh itu berubah menjadi merah kelam. Merah kelam. Dan beberapa waktu kemudian, tubuh Marno tak bergerak. Hanya diam di dalam air yang sudah berubah menjadi merah kelam itu.&lt;br /&gt;Hingga pagi datang, tidak ada laki-laki yang meninggalkan tempat itu. Mereka duduk di pinggir kolam tanpa ada yang bersuara. Mereka merokok, hampir semuanya, dan ketika matahari terbit, mereka mematikan obor dan senter, tetapi tetap duduk di pinggir kolam itu tanpa bergerak. Hampir semuanya memandang ke kolam, terlihat kepala Marno bersandar di salah satu sisi kolam dan tubuhnya terendam air. Wajahnya sudah tak berbentuk, darah memenuhimya, mungkin hampir semua giginya rompal. Tapi tak ada yang bergerak untuk mengambil tubuh itu.&lt;br /&gt;Ketika kemudian polisi datang dengan truk dan satu mobil patroli --yang ini aku melihat sendiri— sekitar jam 10 siang, semuanya tidak ada yang beranjak dari pinggir kolam itu. Terlihat wajah-wajah letih yang semalaman tidak tidur. Ada juga wajah yang menyesal, masih geram, dan ada yang terlihat lega. Semuanya kemudian mengumpulkan senjata masing-masing ke satu tempat, dan kembali duduk. Polisi kemudian memasang police line berwarna kuning –sebelumnya aku tak tahu untuk apa polisi memasang itu— dan kemudian salah seorang dari mereka, mungkin komandannya, berkata dengan suara berat. “Siapa yang bertanggung jawab dengan semua ini?”&lt;br /&gt;Semua laki-laki di sana kemudian berdiri serentak. Beberapa saat kemudian, semua laki-laki yang berjumlah hampir 30 orang itu dinaikkan ke dalam truk dan dibawa pergi keluar dari desa itu. Mayat Marno yang sudah diangkat dari dalam kolam, dimasukkan ke dalam mobil ambulance yang datang kemudian. Katanya untuk diperiksa. Aku bingung, mengapa mayat harus diperiksa?&lt;br /&gt;Di luar pagar rumah Marno, semua perempuan menangis, ibuku juga. Bapak ikut dalam barisan yang masuk ke dalam truk tersebut, dan aku ikut sedih, seperti ibu-ibu yang suaminya dibawa, juga anak-anaknya. Tetapi aku tidak menangis, dua adikku yang menangis. Sebelum masuk ke dalam truk, bapak mendekati ibuku dan mengatakan sesuatu yang tidak kudengar. Setelah itu keduanya memandang ke arahku. Aku, untuk pertama kalinya, berani membalas tatapan bapak. Aku tak tahu apa maknanya itu, tetapi paham bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk dari perlindungannya terhadap ibu dan kami, anak-anaknya, juga sebagai solidaritas warga kampung terhadap apa yang dilakukan Marno selama ini. Aku menyimpulkan hal itu beberapa tahun kemudian, ketika umurku bertambah dan aku sudah duduk di SMA. Ibu memeluk bapak. Bapak kemudian menggendong adik bungsuku, dan menciumnya. Aku melihat sekeliling, hampir semua laki-laki yang memiliki anak dan istri, melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, aku mendapati bapak sudah berada di dekatku. “Suatu saat, kamu akan paham mengapa kami harus melakukan ini. Ini cara laki-laki...” Bapak kemudian mengusap kepalaku beberapa kali, dan aku merasakan ada yang kosong dalam dadaku.&lt;br /&gt;“Ya, Bapak.” Hanya itu yang keluar dari mulutku, dan aku tak melakukan gerakan apa-apa hingga kemudian bapak naik ke truk bak terbuka, juga semua laki-laki itu, dan kemudian dibawa keluar dari kampung.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu itu cara laki-laki. Yang aku tak paham, mengapa tak ada satupun yang melawan saat polisi datang, justru mereka malah dengan suka-rela mengumpulkan senjata dan kemudian bersama-sama naik ke atas truk, bahkan tanpa diborgol tangannya. Apakah karena polisi tak memiliki lebih dari 30 borgol? Atau ini sudah disepakati bersama bahwa mereka akan sama-sama menyerahkan diri kepada polisi setelah mereka menghabisi Marno? Apakah ini juga seperti yang disebut bapak, sebuah cara laki-laki? Aku benar-benar tak paham. Bahkan ketika kemudian truk yang membawa puluhan orang itu sudah hilang dari pandanganku, aku tetap masih belum paham dengan apa yang terjadi. Apakah memang pantas Marno menerim hukuman mati seperti itu? Bagaimana dengan nasib istri dan kedua anaknya? Siapa yang bertanggung jawab atas mereka? Mengapa untuk menyelesaikan persoalan seperti ini harus diselesaikan dengan kematian? Pikiran dan nalar kecilku tidak mampu mencerna itu semua. Kelak, ketika aku sudah bisa berpikir, akupun tak bisa menyadari bahwa “cara laki-laki” seperti yang dikatakan bapak itu adalah sebuah kebenaran. Namun, apalah arti sebuah kebenaran ketika rasa sakit itu sudah menghujam ulu hati?&lt;br /&gt;“Tidak ada pembenaran untuk membunuh seseorang,” kata ibuku ketika aku sampai di rumah.&lt;br /&gt;“Tetapi mengapa bapak juga ikut dalam pembunuhan itu?”&lt;br /&gt;“Itulah laki-laki. Dunianya memang kadang tidak bisa dipahami. Kelak, jika kamu besar, mungkin juga kamu akan menjadi seperti itu, susah untuk dipahami...”&lt;br /&gt;“Mengapa laki-laki susah dipahami, Mak?”&lt;br /&gt;“Karena dia memiliki dunia sendiri yang terpisah dari perempuan...”&lt;br /&gt;“Apa itu?”&lt;br /&gt;“Laki-laki memiliki segalanya, sedang perempuan hanya memiliki laki-laki itu...”&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu maksudnya apa...”&lt;br /&gt;“Kamu laki-laki, suatu saat kamu akan mengerti sendiri.”&lt;br /&gt;Dan aku memang tak pernah memahami dunia laki-laki seperti apa. Bagiku dunia tidak ada yang berbeda, antara laki-laki dan perempuan. Keduanya boleh bekerja, boleh bercinta dengan pasangan yang dipilihnya, boleh melakukan apapun selain merampok atau melakukan apapun yang dilarang oleh undang-undang karena itu merampas dan mengambil hak orang lain. Aku tak pernah membedakan dunia apapun, aku hanya menjalani apa yang harus kujalani.&lt;br /&gt;Aku semakin tidak mengerti dengan dunia laki-laki dalam pikiran bapak ketika keesokan harinya setelah bapak dan teman-temannya diangkut polisi, aku mendengar kabar bahwa pemimpin gerakan untuk menghabisi Marno ini adalah bapak. Aku bertanya kepada ibuku tentang kebenaran hal itu, tetapi yang kudapati, ibu sudah menangis di sudut kamar sambil memeluk adikku yang paling kecil, Rizal. “Benarkah bapak yang merencanakan ini semua, Mak?” Aku memang tidak mengharapkan betul jawaban ibuku. Aku tak perlu jawaban itu, aku hanya ingin tahu kepastiannya, sebab ibukulah yang paling tahu siapa bapak sebenarnya.&lt;br /&gt;Besoknya lagi, kami pergi ke Rengat, menjenguk bapak, bersama rombongan ibu-ibu yang suaminya ikut diangkut dalam truk setelah pembunuhan Marno. Ketika ibuku dan kedua adikku mendekati bapak, aku sengaja menjauh, hanya melihatnya sekali-kali. Aku tak bisa memahami perasaanku seperti apa. Aku hanya berpikir, jahatkah bapakku? Apakah laki-laki yang berusaha melindungi keluarga dan warga kampung, dianggap penjahat? Tetapi mengapa untuk melakukan semua itu harus menggerakkan warga untuk membunuh? Jahatkah bapak? Jahatkah laki-laki yang kini sedang menggendong Rizal, adikku yang paling kecil, di ruang bezuk itu?&lt;br /&gt;Aku terkejut ketika bapak sudah berada dekat denganku. Dia duduk di sebelahku dan kami sama-sama memandang ke luar ruangan. Dia kemudian mengatakan bahwa aku harus membantu emak dalam mengurusi segalanya hingga saatnya nanti bapak keluar dari penjara. “Mungkin suatu saat nanti ketika Bapak keluar penjara, kamu sudah besar dan sudah dewasa. Itu bisa lima tahun atau malah lebih lama lagi. Suatu saat nanti, kalau kamu memang sudah benar-benar dewasa, kamu harus menjaga emak dan adik-adikmu. Ingatlah, itu pekerjaan laki-laki...”&lt;br /&gt;Pekerjaan laki-laki itulah yang kemudian memang kulakukan. Setelah panen padi gogo di ladang di pinggir ladang, kami lebih konsentrasi pada kebun karet. Pagi aku tetap sekolah dan sorenya menyadap karet setelah paginya, dengan kemampuan yang terbatas, ibuku juga melakukannya. Barangkali inilah yang dikatakan bapak tentang pekerjaan laki-laki itu. Dan sampai akhirnya aku masuk SMA di Ukui dan harus pulang-pergi sejauh 15 kilo meter dengan sepeda, aku tetap menjalaninya. Saat itu, proses persidangan bapak dan teman-teman sudah hampir mencapai akhir. Tinggal 11 orang yang dinyatakan sebagai terdakwa dan diadili, sekitar 20 warga kampung dibebaskan karena mereka tidak melakukan eksekusi akhir terhadap Marno.&lt;br /&gt;Merekalah yang kadang membantu anak-anak dan istri-istri yang dari 11 orang itu. Warga saling membantu dalam menghadapi kesulitan kami, kadang membantu menyadapkan karet kami, membantu mengambil lateksnya untuk dibekukan dan juga membantu mengangkutnya sampai ke rumah untuk ditimbang saat dijual. Kami memang merasa terbantu, dan di sinilah kami merasa menjadi senasib sepenanggungan. Tidak peduli mereka Jawa, Padang, Sunda, Teluk Kuantan atau Melayu, mereka bersama-sama mengatasi persoalan, termasuk mencarikan uang semir untuk para jaksa. Kepala kampung kami, Mardiaksa, memobilisasi warga untuk iuran setiap ada aba-aba dari jaksa, juga hakim, untuk meringankan tuntutan dan mungkin nanti putusannya.&lt;br /&gt;Hampir tiap tiga hari sekali, aku dan emak menjenguk bapak di sel tahanan sebelum putusan pengadilan menjatuhi bapak hukuman paling berat di antara teman-temannya. Bapak harus masuk penjara selama dua tahun, sementara teman-temannya rata-rata satu tahun. Menurut hakim, tidak ada pelegalan pembunuhan, tetapi karena pertimbangan berbagai hal dan ini sifatnya sangat kolektif, termasuk penyerahan diri warga dan tindak-tanduk saat ditahan dan sebagainya, maka hukuman yang dianggap ringan itu diputuskan.&lt;br /&gt;Ibuku menangis ketika itu, juga kedua adikku, Masri dan Rizal. Tetapi aku tidak, aku hanya diam dan tidak tahu perasaanku seperti apa. Jelas, aku merasa kehilangan, tetapi aku anak tertua dan saat ini sedang menuju proses dewasa. Aku ingin menjelaskan kepada bapak bahwa aku akan menjadi laki-laki seperti yang diinginkannya. Aku akan tegar, aku akan melakukan apapun untuk ibuku dan dua adikku. Aku akan bekerja keras untuk mereka selama bapak di penjara, aku ingin bertanggung jawab, karena itu salah satu pekerjaan laki-laki.&lt;br /&gt;Aku menikmati semua tanggung jawab itu, tanpa harus meninggalkan sekolah. Aku ingin sekolah, dan tak ingin meninggalkannya meski bapak di penjara, dan banyak teman yang tahu tentang itu yang kemudian mengucilkanku dalam pergaulan di sekolah. Tetapi aku tak peduli, aku tetap sekolah dan melakukan kegiatan yang memang harus kulakukan.&lt;br /&gt;“Bapaknya seorang pembunuh...”&lt;br /&gt;“Iya, bapaknya yang memimpin warga desa untuk membunuh orang paling kaya di sana...”&lt;br /&gt;“Mungkin bapaknya iri dengan kekayaan orang itu!”&lt;br /&gt;“Atau bapaknya naksir dengan istri orang itu yang katanya masih sangat cantik meski sudah punya anak dua?”&lt;br /&gt;“Mungkin juga, atau mungkin kedua-duanya. Ingin menguasai harta sekaligus istrinya!”&lt;br /&gt;“Wah, itu namanya kemaruk, rakus!”&lt;br /&gt;“Siapa yang tidak ingin punya istri cantik dan harta melimpah?”&lt;br /&gt;“Lalu mau dikemanakan anak dan istri lamanya?”&lt;br /&gt;“Kasihan dia ya...”&lt;br /&gt;Aku mendengar semua pembicaraan teman-teman di sekolah itu, dan aku membiarkannya. Hatiku sakit, tetapi aku tak ingin memperlihatkan kepada semua orang. Bagiku, yang harus kulakukan adalah menyelesaikan sekolah. Mereka anak-anak orang kaya yang pergi ke sekolah memakai motor bagus dengan uang jajan yang sangat cukup, tapi aku tak peduli.&lt;br /&gt;Namun besoknya, ketika salah seorang dari mereka bertanya padaku dengan mengejek, aku benar-benar tak bisa menerimanya.&lt;br /&gt;“Benar bapakmu menginginkan harta dan istri cantik orang yang dibunuhnya?” tanya Fahrizal, teman sekelas yang memang selama ini terkenal usil.&lt;br /&gt;Aku diam, menahan geram.&lt;br /&gt;“Kamu malu mengatakannya?”&lt;br /&gt;Aku bangkit dan kemudian dengan cepat memegang kerah bajunya dan tinjuku menghajar mulut dan hidungnya berkali-kali, sebelum kemudian dipisah teman-teman yang lain. Mungkin tulang hidungnya patah dan ada giginya yang juga patah. Dia dibawa ke puskesmas, dan aku disidang oleh majelis guru. Ketika mereka bertanya apa yang terjadi, aku menceritakan semuanya. Aku diskors seminggu, tetap masuk ke sekolah, tetapi tugasku adalah membersihkan WC guru, dan segala tingkah-lakuku akan dinilai dan dipantau terus-menerus.&lt;br /&gt;Aku tidak dendam dengan Fahrizal, juga teman-teman lainnya. Yang selalu muncul dalam hati dan pikiranku, jahatkah bapak melakukan semua itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAPAK menjadi orang asing bagiku saat keluar dari penjara. Meski aku sering mengantar ibuku membezuknya di penjara, tetapi aku benar-benar merasa asing. Bukan karena melihat wajahnya semakin tua dan ringkih, tetapi aku merasakan betapa aku selama ini seperti tak pernah mengenal bapak, lelaki yang membuatku ada dan terlahir ke dunia. Aku merasa ada sekat, ada jarak, bahkan dinding yang menghalangi kami untuk dekat, atau aku yang mendekatkan diri. Aku ingin membuang jarak itu, menembus dinding itu, mengoyak sekat itu, tetapi aku tetap merasa jauh, merasa ada yang membuat aku harus selalu menjauhinya.&lt;br /&gt;Ketika secara resmi bebas keluar, kami menjemputnya di LP dan kemudian sama-sama pulang naik angkutan pedesaan menuju rumah kami. Tak ada yang berubah dari rumah kami selama bapak berada di penjara. Aku tak memiliki kekuatan apa-apa untuk melakukan perubahan-perubahan, sebab waktuku habis di sekolah dan mengelola kebun bersama emak dan Masri yang sudah mulai masuk SMP. Tapi bapak mengatakan senang bisa bersama kami lagi di rumah.&lt;br /&gt;“Bapak berterima kasih kepada kalian semua yang tetap bertahan meski Bapak selama dua tahun ini tidak bersama kalian. Meninggalkan rumah dalam waktu lama tanpa memberikan apapun, bukan hal yang baik bagi seorang laki-laki. Tetapi mempertahankan harga diri adalah sesuatu hal yang harus dilakukan oleh laki-laki. Laki-laki tidak boleh lembek, dia harus kuat, tegas, keras dan kalau memang perlu harus kasar dalam menghadapi hidup!”&lt;br /&gt;“Ya, Bapak.”&lt;br /&gt;“Dan mulai hari ini, Bapak akan berada lagi di antara kalian. Tapi Bapak sudah semakin tua dan ringkih, tidak sekuat dulu. Di penjara tidak seperti di rumah. Di sini, kita bisa ke ladang, menebang kayu, menyangkul, menyadap karet, mengangkut getah dan semuanya yang membuat otot-otot kita terlatih dan kuat. Di penjara, tidak ada pekerjaan itu sehingga otot-otot Bapak mulai mengendur. Mungkin juga karena usia. Kalian bertiga laki-laki, harus benar-benar menjadi laki-laki...”&lt;br /&gt;Aku tahu, bapak sangat mencintai kami, anak-anaknya, juga ibuku. Aku paham itu, dan merasakan itu. Mungkin, kekerasan hidupnya yang membuat dia mencurahkan segala perasaan cinta dan sayangnya itu, dengan cara yang keras juga. Tetapi, aku juga paham, bahwa tetap ada jarak di antara kami, jarak yang sangat tidak kupahami apa sebabnya.&lt;br /&gt;Mungkin sama tak kupahami ketika tiba-tiba malam dan hujan selalu menjadi hal yang membuat ganjil dalam kehidupanku. Malam dan hujan, suasana yang kemudian sangat kurindukan, sekaligus menakutkanku. Mungkin berawal dari kejadian itu.&lt;br /&gt;Aku pergi ke hutan karet saat hujan lebat dan petir menyambar-nyambar untuk mengangkut getah yang beku, bau dan masih basah itu. Malam nanti touke getah akan menimbangnya dan getah itu sudah harus ada di rumah sebelum malam.&lt;br /&gt;“Tapi hujan deras sekali, Bapak...” kataku mencoba menawar kepada bapak. Itulah barangkali untuk pertama kalinya aku mengucapkan kata yang tidak cocok dengan keinginan bapak.&lt;br /&gt;“Kau tak akan mati oleh hujan.”&lt;br /&gt;Dan aku kemudian berlari ke belakang rumah, mengikuti jalan setapak yang masuk ke belukar di hutan karet yang sudah tua dan tidak terawat itu. Aku memang masih sangat remaja ketika itu, belum tamat SMA, dan meskipun ketika bapak di penjara, aku telah melakukan segalanya, tetapi kini benar-benar hujan yang menakutkan bagiku. Dan aku harus menapak pada jalan licin menurun dan mendaki untuk sampai ke rawa di mana getah bacin itu berada. Getah itu sudah dicetak menjadi bantalan dan ditenggelamkan di lumpur yang berair untuk menjaga kadar airnya yang akan mempengaruhi timbangan, dan aku harus mengangkatnya satu persatu sejauh hampir 400 meter dengan pundak atau punggungku sampai di belakang rumah. Ibuku menangis menyaksikan itu dan dua adikku hanya memandang sedih dari dapur rumah kayu ketika dalam hujan yang lebat aku bekerja keras. Masri keluar rumah dan akan membantu, tetapi kukatakan kepadanya bahwa aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak tega melihat Masri yang masih kelas satu SMP itu harus membantuku dalam hujan seperti ini. Aku ingin mengatakan kepada bapak bahwa aku bisa menjadi laki-laki seperti yang sering dia katakan, meski aku juga tak tahu apa bentuk laki-laki seperti yang diinginkannya itu.&lt;br /&gt;“Biar dia belajar bertanggung jawab sebagai lelaki,” kata bapak kepada ibuku, sempat terdengar di telingaku.&lt;br /&gt;Aku berjanji tidak akan dendam dengan semua itu, meski hatiku perih dan air mataku mengalir, bersatu dengan air hujan yang deras. Tapi cepat-cepat aku menghapuskannya, sebab kata bapak, laki-laki tak boleh menangis. Aku mencoba menghibur diriku dan meyakinkannya, apa yang kulakukan ini adalah karena aku anak lelaki pertama dan sebab bapak sudah mulai ringkih, terlihat tua sebelum waktunya karena beban hidup dan tembakau yang membuatnya selalu terbatuk sejak keluar dari penjara.&lt;br /&gt;Hujan benar-benar semakin deras dan senja sudah hampir penghujung, dan bantalan getah bacin itu masih beberapa yang belum kuangkat. Aku sudah menggigil ketika itu dan tenagaku sudah semakin lemah...&lt;br /&gt;Hingga kemudian ketika bantalan bacin basah itu tinggal satu, aku benar-benar tidak memiliki tenaga dan hari sudah benar-benar gelap. Aku tetap mengangkatnya dan harus berjalan di pendakian yang licin, sementara kakiku tanpa sepatu, hanya telanjang dan menggigil. Dan tiba-tiba, ketika aku merasakan tenagaku benar-benar habis, aku terpeleset, bantalan bacin itu menimpa tubuhku yang telanjang tanpa baju dan aku bergulingan hingga sebatang pohon karet menahan tubuhku. Rasanya sakit sekali, tetapi aku akan minta tolong kepada siapa? Aku ingin berteriak tetapi suaraku tak keluar. Aku akhirnya benar-benar kedinginan, juga kesakitan, dan menggigil seperti berada di dalam bongkahan es, sebelum bapak datang dan menemukanku, dan setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Ketika aku terbangun, aku sudah berada di rumah dan mendapati ibu dan kedua adikku menangis di dekatku. Mungkin aku pingsan tadi, dan badanku masih terasa sakit di sana-sini.&lt;br /&gt;Tidak, aku tidak dendam dengan masa lalu itu. Hingga kemudian setelah tamat SMA aku memilih pamit pada bapak, ibu dan dua adikku untuk pergi jauh mengembara. Aku merasa dan berharap dunia di luar kebun karet itu memberikan harapan-harapan dan pengalaman hidup yang lebih baik.&lt;br /&gt;“Biarlah dia pergi, laki-laki harus punya pengalaman hidup untuk menguatkannya,” kata bapak kepada ibuku yang sempat terdengar olehku ketika langkahku menyeberang pintu.&lt;br /&gt;“Tapi di sini adalah rumahnya. Sejak kecil dia di sini, dan di luar sana dia akan tinggal dengan siapa?” aku masih mendengar ibuku menangis. “Saya mohon, tahanlah dia, dia belum bisa berdiri sendiri, dia masih membutuhkan kita...” ibuku memohon.&lt;br /&gt;Tapi kudengar jawaban bapak: “Dia laki-laki, dan dia akan menentukan jalannya sendiri. Itu pilihannya...”&lt;br /&gt;“Tapi dia memilih itu karena dia merasa tidak mampu lagi hidup dengan caramu...” Baru kali ini aku mendengar ibuku melawan apa yang dikatakan bapak.&lt;br /&gt;“Suatu saat dia akan kembali, jika dia memang tidak mampu. Dia tahu jalan pulang ke rumah ini, meskipun dia keluar kampung malam gelap dan hujan seperti ini...”&lt;br /&gt;Aku tidak tahu apa yang terjadi di kamar itu, tetapi aku mendengar, baru sekali inilah suara bapak bergetar, tidak seperti suara-suara tegas yang kudengar selama ini. Apakah bapak menangis? Menangisi kepergianku? Tidak, bapak tidak akan menangisi aku. Tetapi aku kemudian benar-benar pergi saat hujan dan malam gelap itu. Meninggalkan kampung, rumah kayu, hutan karet, bau bacin dan segala kenangan tentang masa kecil dan remajaku.&lt;br /&gt;Aku kembali ke kampung beberapa tahun kemudian setelah aku merasa berhasil setelah menamatkan kuliahku dalam pelarianku di Pekanbaru. Ingin mengatakan kepada bapak bahwa aku telah benar-benar menjadi laki-laki, mungkin yang seperti inilah yang diinginkan bapak. Aku sudah merasa menjadi kuat, tetapi aku mendapati bapak sangat ringkih, terbatuk-batuk dan sudah sangat susah untuk berjalan. Sudah terlihat sangat tua, sangat sepuh, jauh lebih tua dari umur sebenarnya. Hilang segala kesombongan yang kubawa dari kota melihat bapak seperti itu. Bapak mengatakan kepadaku, bahwa sejak aku pergi, ladang karet itu tak terawat, meskipun tetap diambil getahnya oleh ibuku dan dua adikku yang sudah mulai remaja. Masri sudah hampir tamat SMA, sedang Rizal sudah hampir tamat SD. Terasa semuanya menjadi perih di hatiku. Aku membayangkan bagaimana perjuangan ibuku dan dua adikku untuk bisa mendapatkan uang dengan menakik getah. Aku menangis dan memeluk bapak. Aku tetap mengatakan bahwa aku tak dendam dengan masa lalu, terhadap kekerasan hidup yang harus kualami, juga saat malam dan hujan itu. Aku hanya membayangkan bagaimana pedihnya ibuku dan dua adikku sepeninggalanku, mereka harus bekerja keras ketika bapak benar-benar sudah tidak bisa bekerja lagi. Apakah penjara selama dua tahun telah menghancurkan semua energi dan kekuatannya?&lt;br /&gt;Aku benar-benar menangis. Dan sejak itu, aku berjanji kepada mereka bahwa aku akan ada ketika mereka membutuhkan aku. Aku tak akan meninggalkan mereka lagi. Tetapi, perjalanan kemudian membawaku ke negri jauh. Aku meninggalkan mereka, meninggalkan masa laluku, meninggalkan semua cerita yang pernah hidup dan menjadi seluruh muara dari semua apa yang kulakukan hari-hari ini. Aku telah mengingkari janjiku untuk membantu membebaskan warga kampungku dari cengkraman perusahaan sawit itu. Aku malah menjadi pelarian untuk sesuatu yang menurutku juga sebuah perjuangan tersendiri. Tetapi, aku benar-benar telah mengingkari janjiku pada ibuku, dua adikku dan penduduk kampung yang mungkin hingga kini masih sering mendapat teror dari orang-orang suruhan perusahaan sawit itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIA terkejut ketika sampai di rumah saat senja menjelang. Sudah lima tahun dia tak pulang. Selama itu dia berusaha sekuat tenaga melawan semua perasaan rindu pada ibunya, Zulmasri dan Rizaldi, dua adiknya –juga pada bapaknya. Selama lima tahun dia tak mengirimkan kabar apa-apa, juga tak mendapat kabar apa-apa tentang kampung dan keluarganya. Dia tak ingin menjadi cengeng. Ketika dia keluar rumah, keluar kampung dan ingin keluar dari masa lalu, di malam yang gelap dan hujan itu, dia sudah bertekad untuk tidak pulang dan tidak memberikan kabar apapun sebelum dia mendapatkan sesuatu yang bisa dibawanya ke depan bapaknya. Awalnya, dia tidak tahu apa sesuatu tersebut, tetapi dia ingin mengatakan bahwa dia bisa hidup, bediri tegak di kaki sendiri selama dia jauh dari rumah.&lt;br /&gt;Dia ingat malam itu. Dalam hujan lebat dan gelap, dia berjalan kaki keluar dari kampung. Jalanan licin, kilat petir yang saling bersahutan, membuat dia bisa melihat jalanan yang licin karena berlumpur. Itu pun dia sering terjatuh karena terpeleset. Namun, dia tak peduli. Dia harus sampai di jalan raya yang berjarak 15 kilometer dari kampungnya yang tak tersentuh listrik tersebut. Dia tak bertemu satu orangpun selama di jalan, apalagi kendaraan. Ketika dia melewati hutan lebat dan kebun sawit atau karet yang sepi, teringat di kepalanya tentang harimau dan binatang buas lainnya yang kabarnya masih sering ada di sana. Tetapi dia tak peduli.&lt;br /&gt;Hampir tengah malam dia sampai di pinggir Lintas Sumatera. Seluruh pakaian dan badannya basah. Tas ransel yang berisi pakaian dan ijazahnya juga basah. Dia menunggu kendaraan yang lewat ke arah Pekanbaru. Dia tak pernah ke Pekanbaru, tetapi dia tahu arah ke sana. Setelah berjam-jam menunggu, sebuah truk yang dia tak peduli sedang mengangkut apa, bersedia membawanya setelah sekian bus atau truk yang berusaha dihentikannya tak mau memberi tumpangan kepadanya.&lt;br /&gt;Dia sampai di Pekanbaru pagi hari. Sopir truk yang belakangan diketahui bernama Alo, bertanya tujuannya apa ke Pekanbaru. Dia menjawab tak tahu, yang penting baginya keluar dari kampungnya dan mau kerja apa saja asal bisa makan. Sesampai di Pekanbaru, dia bingung mau turun di mana. Ketika sampai di Harapan Raya, Alo bertanya lagi, dia mau turun di mana. Dia menjawab tidak tahu. Alo kemudian menawarkan dia untuk sementara tinggal di rumah petaknya di kawasan Sail. Dia bersyukur ketika itu dan ingin rasanya menangis menerima kebaikan Alo, lelaki tinggi besar berkulit legam itu. Alo juga yang kemudian mengajaknya ikut truk yang dikendarainya, kebetulan stokar dia sudah seminggu tidak ada kabar beritanya. Dia merasa, Tuhan kembali menolongnya. Akhirnya, selama dua bulan lebih dia tunggal di rumah Alo yang sempit dan bekerja bersama Alo mencari kelapa sampai ke Pariaman atau Indragiri Hilir untuk dijual ke Pekanbaru dan beberapa kota lainnya. Selama dua bulan itu, Alo memberi kesempatan kepadanya untuk belajar nyetir. “Rugi kamu kerja di mobil tapi tak pandai nyetir. Kamu harus bisa, modalnya nekad saja,” kata Alo suatu ketika.&lt;br /&gt;Dia kemudian belajar nyetir dan dalam waktu yang tidak lama, dia sudah bisa mengganti Alo ketika perjalanan mau atau dari Pariaman atau daerah lain penghasil kelapa di Sumbar, atau dari Inhil. Dia bersyukur. Dia pernah mendengar cerita tentang orang-orang kampung yang pergi ke kota dan kemudian menjadi gelandang atau gembel di sana. Tapi nasibnya agaknya lebih baik karena dia tidak harus melalui fase itu, meski dia memang harus bekerja keras untuk bisa hidup. “Iman, orang-orang seperti kita ini tidak memiliki pilihan apa-apa. Aku sudah dari dulu ingin berhenti jadi supir, mencari pekerjaan yang layaklah, entah jadi apa begitu. Tapi, setelah keluar-masuk di pekerjaan mulai dari buruh sawit dan pekerjaan lainnya, akhirnya larinya juga ke mobil, nyopir. Sejak itu aku tak banyak berharap. Alhamdullillah, dengan pekerjaan ini keluargaku tetap makan dan aku tetap bisa tenang di jalan...”&lt;br /&gt;“Terima kasih, Abang sudah banyak menolong saya. Saya tidak tahu harus bagaimana membalasnya,” katanya ketika itu.&lt;br /&gt;“Iman, ketika masih remaja dulu, ketika lulus SMP dan tak bisa melanjutkan ke SMA karena tak punya duit, aku mengutuk mengapa dilahirkan menjadi orang miskin, mengapa bapak dan emakku tidak menjadi kaya seperti orang-orang lainnya. Tapi kemudian aku berpikir lagi, bahwa nasib orang itu berbeda-beda. Tetapi, bapakku pernah mengatakan kepadaku bahwa tetaplah baik kepada semua orang, tolonglah semampu kita kalau orang itu kesusahan. Sebab, kata bapakku, dengan menolong orang itu, Tuhan akan mengingat kita. Kalau kita kena kesusahan, mungkin bukan orang yang kita tolong itu yang akan menolong kita, tetapi Tuhan akan menggunakan tangan orang lain untuk menolong kita. Dan benar, Iman, selama aku kerja di mobil, aku bersyukur saat kesusahan, selalau saja ada orang yang menolongku. Itu makanya aku ingin sekali membantumu malam itu...” kata lelaki bermana asli Zulfikar ini.&lt;br /&gt;Dia ingin menangis saat itu juga mendengar apa yang dikatakan Alo, lelaki kelahiran Magek (Bukittinggi) itu. Dia berjanji di dalam hati, dia akan balas semua kebaikan Alo suatu saat kalau hidupnya mujur.&lt;br /&gt;Di bulan ketiganya di Pekanbaru, seorang kenalan Alo datang kepada Alo. Katanya dia sedang mencari seorang yang bisa bekerja di tokonya, sebuah toko penjual peralatan tulis, fotokopi dan penjilidan, di Panam. Alo kemudian menawarkan Iman. “Dia memang belum kenal mesin fotokopi atau menjilid. Tetapi aku yakin dia cepat bisa, selama bekerja denganku dia sangat rajin...”&lt;br /&gt;Dari sinilah jalannya mulai terkuak. Dia tinggal dan sekaligus menjaga toko itu, berkenalan dengan banyak mahasiswa dan banyak orang pintar. Dia kemudian bertanya kepada Agustiar, pemilik toko buku kecil dan fotokopi itu, bagaimana caranya untuk bisa kuliah. Mulanya, Agustiar tersenyum mendengar apa yang ditanyakan Iman itu. “Tapi kalau kamu memang ingin kuliah, tahun depan coba ikut tes. Kamu masih bisa kerja di sini sepulang kuliah, juga masih boleh tinggal di sini...”&lt;br /&gt;“Terima kasih, Pak...”&lt;br /&gt;“Aku suka melihat lelaki pekerja keras sepertimu. Hidup ini yang penting semangat, Iman. Dengan semangat itulah kita bisa melakukan apa saja...”&lt;br /&gt;“Ya, Pak...”&lt;br /&gt;Iman merasa Tuhan memang telah mempertemukannya dengan orang-orang baik. Sejak itu, dia benar-benar serius ingin kuliah. Seluruh upah yang didapatkannya dari Agustiar dikumpulkannya dan dia benar-benar hidup hanya untuk bekerja di toko itu. Dia tak peduli apapun, yang penting bisa kuliah. Dan benar, dia kemudian lulus UMPTN dan diterima di jurusan Sosiologi di Unri. Selama kuliah, yang ada di pikirannya adalah membaca buku di pustaka, kuliah dan bekerja di toko Agustiar. Tak ada pikiran lain. Dia tahu, banyak gadis cantik dan borjuis yang suka padanya. Tetapi dia tahu, setelah mereka tahu latar kehidupannya seperti apa, mereka akan mundur dan bukan tidak mungkin malah akan mempermalukan dirinya sendiri. Untuk itu, dia tak pernah ingin dekat dengan salah satu dari sekian gadis, teman di jurusan maupun fakultasnya, atau mereka yang sengaja selalu memfotokopi di toko Agustiar. Kadang-kadang, muncul juga dalam pikirannya untuk mencoba bagaimana rasanya pacaran, seperti pemuda normal lainnya, tetapi kembali pikiran awalnya muncul. Mereka gadis kota dan borjuis, meskipun mereka akan mengatakan mau menjadi kekasihnya dengan apa adanya, tetapi dia tak mau membuat gadis itu malu punya pacar dirinya.&lt;br /&gt;Dia ingin cepat selesai kuliah dan kemudian kembali ke kampungnya untuk mengatakan kepada bapaknya bahwa dia bisa kuliah dan menjadi sarjana. Dan akhirnya, waktu itu datang juga ketika dia benar-benar menjadi sarjana. Dia tidak ikut wisuda karena tak mampu membayar biaya wisuda. Dia hanya punya uang untuk membayar pengambilan ijazah, dan setelah itu dia pamitan dengan Agustiar bahwa dia akan pulang ke Ukui.&lt;br /&gt;“Di Pekanbaru ini, Bapak adalah orang tua saya. Saya hidup, makan dan tidur di sini. Pekerjaan saya selama ini tidak sebanding dengan apa yang Bapak berikan kepada saya. Bapak telah memberikan kepercayaan, kehidupan dan kemuliaan. Saya sangat berterima kasih, semoga Tuhan akan memberi segala kebaikan kepada Bapak dan seluruh keluarga...” Dia menangis hari itu. Dia tahu, laki-laki tidak boleh menangis, tetapi dia benar-benar ingin menangis ketika itu dan memeluk Agustiar, juga istri dan dua anaknya yang usianya masih di bawah dia.&lt;br /&gt;“Iman, sekarang kamu sudah menjadi orang, menjadi sarjana. Meskipun kamu tidak pernah bercerita apapun tentang keluargamu, tetapi aku tahu, kamu pasti punya keluarga. Dan aku juga tahu kamu ingin pulang dan menjelaskan kepada keluargamu tentang keberhasilanmu ini. Jika kamu pulang, katakan kepada bapak dan ibumu, juga kakak-adikmu, kami sekeluarga titip salam. Ingatlah, yang kamu miliki selama ini adalah kejujuran. Jangan buang kejujuran yang membuat orang percaya kepadamu itu dari hati dan dirimu. Percayalah, hanya kejujuran itu yang bisa membuat orang berhasil dan dihormati orang lain...”&lt;br /&gt;Iman benar-benar menangis dan meninggalkan toko itu dengan air mata. Dia ingat bagaimana kebaikan orang-orang di Pekanbaru, Alo dan Agustiar. Dia mampir ke rumah kontrakan Alo di Sail dan berjanji suatu saat akan kembali ke Pekanbaru dan membalas semua kebaikan Alo. “Tetapi saat ini yang saya pikirkan adalah pulang, Bang. Sudah lima tahun saya tidak pulang, tak menengok bapak dan emak, juga adik-adik...”&lt;br /&gt;Alo, lelaki tinggi besar dan bekulit legam itu, tak bisa menahan sedihnya. “Iman, Tuhan ternyata menunjukkan dan membimbingkan jalanmu....”&lt;br /&gt;“Terima kasih, Bang...”&lt;br /&gt;Dia kemudian pulang, naik bus ke arah selatan, arah kedatangannya lima tahun yang lalu ketika dia berpikir bahwa ada banyak harapan dan impian di luar kebun karet dan rumah papan keluarganya. Dan kini dia pulang dengan membawa salah satu impian dan harapannya itu: menjadi seorang sarjana, sebuah titel yang tidak gampang didapatkan oleh anak-anak di kampung, dan dia mungkin akan menjadi sarjana pertama dari kampungnya itu. Dia tidak lagi orang bodoh, dia akan menjadi orang terpandang. Paling tidak, penduduk kampung pasti akan banyak bertanya kepadanya, minimal tentang pengalamannya selama di kota, juga pandangan-pandangannya. Tapi dia tidak membutuhkan semua itu, dia tidak ingin dihargai orang. Dia hanya ingin bapaknya tahu, bahwa betul ada harapan dan impian di luar kebun karet mereka, di luar rumah papan mereka. Dan kini, dia sudah mendapatkan salah satu dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIA masuk rumah, dan yang didapatinya adalah ayahnya yang di matanya sudah sangat kelihatan ringkih, sangat tua, sedang terbujur lunglai di dipan. Keduanya bertatapan, seperti kawan lama yang sudah tidak bertemu sekian tahun. Kawan lama? Ya, mereka sesungguhnya kawan lama, kawan yang bahu-membahu berjuang untuk keluarga ini, bahkan sejak dia masih kecil, sering diajak tidur di tengah ladang padi menjaga hama babi. Ya, mereka telah lama menjadi teman, meski selama ini komunikasi yang terjadi hanya satu arah, dari laki-laki yang kini terbujur lunglai di dipan itu. Bapaknya.&lt;br /&gt;Dia tidak mendapati ibunya, Masri dan Rizaldi. “Mereka sedang menakik getah di belakang...” suara bapaknya terdengar seolah tahu ada pertanyaan di benaknya tentang mereka. “Masri tahun ini akan tamat SMA, dan Rizal akan masuk SMP lagi. Syukurlah, akhirnya kamu pulang, ada lagi yang membantu mereka untuk merawat kebun dan mengambil getah karet itu...”&lt;br /&gt;“Ya, Pak...” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dia membayangkan bagaimana perjuangan ibunya dan dua adiknya sepeninggalannya. Membayangkan seandainya mengalami malam yang buruk seperti yang menimpanya saat dia tidak mampu lagi mengangkat bantalan getah untuk yang kesekian kalinya di malam hujan dan petir menyambar itu. Dia teringat bagaimana kemudian benda yang sudah berada di pundaknya seberat hampi 50 kilogram itu kemudian menimpa tubuhnya yang terpeleset dan membuatnya tergelincir sebelum batang karet menahan tubuhnya, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi karena yang dia rasakan hanya gelap. Hanya gelap. Dan dingin. Dan beku.&lt;br /&gt;“Apa yang ingin kamu katakan kepadaku setelah hampir lima tahun kamu pergi tanpa kabar? Ibumu selalu merisaukanmu, tetapi aku selalu mengatakan bahwa kamu laki-laki, dunia di luar sana bisa dikalahkan oleh laki-laki...”&lt;br /&gt;“Ya, Pak...”&lt;br /&gt;“Kamu bisa bercerita, Iman...”&lt;br /&gt;Dia mendongak. Dia ingin bapaknya mengulang lagi kata-kata terakhirnya. Tak pernah selama ini bapaknya menyebut namanya, dan dia merasa kalimat itu terasa indah dan menyejukkannya.&lt;br /&gt;“Kamu bisa menceritakan apa saja, mungkin tentang perasaan sakit hati dan dendammu kepada bapakmu ini...”&lt;br /&gt;Dia mendekat ke dipan, menarik kursi kayu lusuh yang sejak tadi dijadikannya sebagai tempat duduk. Dipegangnya tangan bapaknya yang sudah benar-benar ringkih, tinggal terasa tulangnya saja. Dia teringat bagaimana kerasnya laki-laki ini dalam mendidiknya. Kadang dia lupa bahwa apa yang dikatakan lelaki ini sebenarnya ungkapan dari rasa sayangnya. Atau, memang semua laki-laki akan melakukan hal seperti itu untuk mewujudkan perasaan sayangnya kepada anak-anaknya nanti? Tetapi, bukankah yang dia lihat di film atau televisi dalam cerita-cerita itu, ungkapan kasih sayang seorang ayah selalu dilakukan dengan ciuman dan perhatian, bukan bentakan-bentakan dan kata-kata nasihat yang terasa sebagai ancaman? Namun dia kemudian sadar, bahwa apa yang dilakukan bapaknya itu ternyata telah membuat dia begitu kuat dalam menghadapi semua apa yang harus dilaluinya. Semua yang dilaluinya berat, dan dia bersyukur, sejak kecil dia sudah mengalami kehidupan yang berat sehingga dia bisa memahami semuanya. Bahwa, bapaknya sepertinya sudah mempersiapkan dia untuk bisa memikul keberatan itu dan melewatinya dengan baik.&lt;br /&gt;Menjelang senja hampir benar-benar habis, ibu, Masri dan Rizal pulang. Yang pertama dilihatnya adalah ibunya. Dia melihat ada perubahan signifikan di raut wajah wanita yang sangat dia hormati itu. Dia tahu, dulu ibunya sangat cantik, dan meskipun guratan kecantikan itu masih tersisa di wajahnya, namun kerut ketuaan sudah mulai menyerangnya. Lima tahun dia tak melihatnya, dan selama itu pula dia tidak memberi kabar apa-apa dan saat ini dia benar-benar ingin menangis dan minta maaf. Dia kemudian memeluk ibunya yang masih bau getah itu. Dia tidak peduli. “Ampunkan saya, Emak. Ampunkan saya...” dia menangis, benar-benar menangis, meskipun dia tahu –seperti ajaran bapaknya— bahwa laki-laki tidak boleh menangis, seberat apapun deritanya.&lt;br /&gt;Ibunya juga memeluknya dengan erat. “Syukurlah kamu benar-benar ingat jalan pulang. Lihatlah dua adikmu, mereka sudah besar-besar. Merekalah yang menjadi penggantimu ketika bapakmu tak bisa bekerja lagi...”&lt;br /&gt;Dia kemudian memeluk Masri dan Rizal bersamaan dan mengatakan bahwa dia sebenarnya tak ingin meninggalkan kampung ini waktu itu. “Kalian sudah besar, nanti kalian akan tahu kenapa Abang harus pergi ketika itu...”&lt;br /&gt;“Saya bisa paham, Bang. Tetapi sejak Abang pergi, bapak sering sakit-sakitan dan kemudian benar-benar sakit dan kami tak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya ingin mencari Abang ketika itu, tetapi Bapak melarangnya. Katanya, adalah tugas kami yang tinggal di sini untuk bekerja dan bertanggung jawab dan Abang pasti memiliki jalan lain yang memang sudah Abang pilih...”&lt;br /&gt;“Abang sudah jadi sarjana, Masri. Abang bekerja keras untuk mendapatkan itu...”&lt;br /&gt;“Betulkah?”&lt;br /&gt;“Ya...”&lt;br /&gt;“Tapi keadaan di sini semakin buruk, Bang.”&lt;br /&gt;“Ada apa?”&lt;br /&gt;“Pemilik perkebunan sawit yang akan mengembangkan perkebunannya di sini, sejak setahun lalu sudah mulai meneror warga...”&lt;br /&gt;Malamnya dia pergi ke mushalla, bertemu dengan teman-teman sepermainannya dulu. Mereka bercerita banyak hal, juga tentang apa yang terjadi terhadap kampungnya sejak setahun lalu ketika perusahaan sawit itu masuk dan mengatakan bahwa kampung ini tidak ada dalam peta yang dibuat oleh Dinas Kehutanan dan Dinas Perkebunan, tempat mereka mendapat izin konsesi pengembangan perkebunan. “Katanya, dalam peta itu, kampung ini masih hutan dan tidak berpenduduk. Itu makanya mereka merasa memiliki kekuatan untuk mengusir kita dari kampung ini,” cerita Zamzami.&lt;br /&gt;“Mengusir kita? Semudah itu?”&lt;br /&gt;“Ya. Kata mereka, pemerintah akan berpihak kepada mereka kalau terjadi sengketa. Bapakmu menjadi orang pertama yang menentang itu, dan kemudian membuat kami di sini yakin bahwa akan ada jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini...”&lt;br /&gt;Bapakku..., dia lelaki pemberani.&lt;br /&gt;“Lalu apa yang telah kita lakukan selama setahun ini?”&lt;br /&gt;“Kami sudah mengadu sampai ke kantor camat di Ukui. Pak Camat berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Kabarnya, masalah ini sudah sampai ke kabupaten dan pihak kabupaten sedang mempelajari akar masalahnya...” kata Matdadi, salah seorang teman sebayanya.&lt;br /&gt;“Jangan percaya dengan pegawai pemerintah. Mereka banyak makan uang perusahaan. Itu sudah sering terjadi, perusahaan apapun yang masuk ke suatu daerah, menyetor uang sebagai pelicin dan sebagai gantinya mereka mendapatkan segala kemudahan untuk mendapatkan itu semua...”&lt;br /&gt;“Lalu apa yang harus kita lakukan lagi?”&lt;br /&gt;“Kita harus menjadi sebuah kesatuan yang kuat. Seluruh penduduk kampung harus bersama-sama dalam keadaan apapun, dan kita harus bekerja keras untuk menekan pihak kecamatan dan kabupaten bahwa ini adalah tanah kita, hak kita, hak sebagai masyarakat, hak sebagai rakyat. Tidak ada alasan apapun bagi pihak di luar yang mengklaim ini tanah mereka, meskipun di peta kampung kita ini tidak tercantum. Peta itu dibuat oleh orang-orang yang tidak memahami persoalan masyarakat. Ini juga semakin menjelaskan bahwa camat, bupati maupun gubernur, tidak pernah mempedulikan nasib kita, masyarakatnya. Kalau mereka peduli, mereka tidak akan membuat peta yang menghapuskan perkampungan...”&lt;br /&gt;Dia menjadi heran. Selama ini di kampus dia hanya membaca buku-buku gerakan, tentang teorinya maupun studi kasus gerakan sosial di beberapa tempat di Indonesia maupun di dunia. Dia membaca Pemberontakan Petani Banten yang ditulis Sartono Kartodirdjo, buku-buku tentang gerakan petani yang ditulis James C Scott, Karl J Pelzer, Jan Breman, maupun kisah pemberontakan petani yang sangat gagah dan heroik di Meksiko, yakni Zapatista, juga teori-teori gerakan dari Karl Marx sampai teori sosialnya Levis Straus, Freud dan lain sebagainya. Dia juga membaca novel yang membius, yakni De Opstand van Guadalajara yang ditulis J Slauerhoff, novel Hadji Murat-nya Leo Tolstoy atau Kantarapura-nya Raja Rao dan sekian buku gerakan lainnya. Namun itu semua hanya teori, dan kini, persoalan benar-benar muncul di depan matanya, di masyarakatnya, di hidupnya. Dan latarnya berbeda dengan cerita-cerita pemberontakan dan pergerakan sosial di buku-buku yang dia baca itu, meski pada dasarnya semua gerakan itu berawal dari satu hal yang sama: ketidakadilan karena kepemilikan yang sah sebagai hak, akan direnggutkan dan direbut oleh kekuatan yang dilegitimasi oleh kekuasaan.&lt;br /&gt;Dia berjanji dalam hati, inilah saatnya baginya untuk mengatakan kepada bapaknya bahwa dia laki-laki yang kuat yang juga punya pikiran. Dengan sedikit pengetahuan yang dimilikinya, dia ingin membantu warga untuk keluar dari masalah ini. Dia kemudian mengajak para pemuda sebayanya untuk datang ke rumah Kyai Abdullah, meminta masukan dari tokoh agama itu tentang masalah yang kini muncul di kampungnya. Menurut imam di mushalla dan guru ngaji itu, adalah hak umat untuk mempertahankan apa yang dimilikinya dari rongrongan orang lain. Dan untuk mempertahankan itu, sudah menjadi sebuah kewajiban dan agama mengharuskan kita mempertahankan hak yang kita miliki secara sah menurut agama.&lt;br /&gt;“Apakah tanah yang kita tempati sekarang, meskipun kita tidak membelinya dari siapapun, tetapi orang-orang tua kami dulu yang membuka hutannya, adalah hak kita secara Islam, Kyai?” tanyanya saat selesai sholat Isya.&lt;br /&gt;“Kita harus menjadikan apa yang dilakukan oleh nabi kita, Muhammad SAW, sebagai patokan kita dalam menilai sesuatu. Tanah ini adalah milik negara ini, dan pemilik negara ini adalah rakyat seperti kita-kita ini. Memang, dalam sebuah negara harus ada peraturan dan undang-undang agar penyelenggaraan negara menjadi tertib dan menyeluruh. Tetapi, negara juga tidak bisa menghilangkan hak-hak dasar masyarakat, termasuk dalam hal kepemilikan tanah. Kita yang membuka hutan dan telah menempatinya hampir 30 tahun, dan selama ini pemerintah dari tingkat kecamatan sampai kabupaten tidak pernah mempermasalahkannya, artinya memang tidak ada masalah. Lalu, ketika ada perusahaan sawit ingin masuk dan menguasainya, tentu kita harus mempertahankannya...”&lt;br /&gt;Dia kemudian mengatakan kepada bapaknya, bahwa dia akan memimpin para pemuda di kampungnya untuk mempertahankan tanah mereka. Bapaknya, yang terbaring lemah di dipan, tersenyum mendengar itu. “Itulah laki-laki, dia harus melindungi keluarga dan masyarakatnya...” kata bapaknya. Kadang dia bosan mendengar kalimat itu, yang selalu diulang-ulang oleh bapaknya.&lt;br /&gt;Setiap hari, dia pergi ke ladang karet, membersihkan semak-semak, memperbaiki jalan setapak, ikut menakik getah dan mengumpulkan lateks untuk dijadikan bantalan dan direndam di air. Sorenya dia tetap bermain sepakbola bersama teman-temannya dulu. Dan malamnya dia ke mushalla, ketemu dengan Kyai Abdullah dan teman-temannya untuk membicarakan apa yang terjadi dengan kampungnya. “Satu hal yang harus kita lakukan adalah bernegosiasi dengan perusahaan itu dulu, Kyai,” katanya setelah mereka selesai shalat Isya.&lt;br /&gt;“Ya, saya setuju itu. Kita harus bicara baik-baik dulu dengan mereka dan berupaya mencarikan jalan keluarnya,” kata Kyai Abdullah.&lt;br /&gt;“Kita telah melakukan itu sejak lama, Kyai. Bapak Iman sampai sakit seperti itu juga karena selalu harus pulang malam untuk bernegosiasi di Ukui maupun di Rengat. Dan selama ini hasilnya apa? Bapakmu sering mereka buat takut, Iman...” kata Zamzami.&lt;br /&gt;“Tapi kita harus memulainya lagi. Setelah jalan itu buntu, misalnya tidak ada jalan keluar yang disepakati, kita bisa melakukan hal yang lain...”&lt;br /&gt;“Apa misalnya?” tanya Zamzami.&lt;br /&gt;“Kita demonstrasi...”&lt;br /&gt;“Demonstrasi?” Kyai Abdullah menyela.&lt;br /&gt;Iman kemudian menjelaskan bahwa demonstrasi adalah salah satu cara menjelaskan kepada masyarakat tetang sebuah sikap, juga sebuah keputusan. Demonstrasi diperbolehkan dalam demokrasi. “Dalam demonstrasi itu nanti ada negosiasi-negosiasi...” katanya.&lt;br /&gt;Zamzami berdecak kagum dengan apa yang dijelaskan oleh Iman sejak beberapa hari ini sejak dia kembali dari Pekanbaru. “Kamu banyak dapat ilmu, Iman. Tapi apakah warga kita mengerti dengan ide-ide dan gagasanmu?”&lt;br /&gt;“Tugas kitalah memahamkan kepada mereka...”&lt;br /&gt;Namun esok malamnya, sebuah mobil Rocky berhenti tepat di depan mushalla ketika mereka akan melakukan shalat Isya. Lima orang berbadan kekar turun dan langsung menuju pintu mushalla. Kyai Abdullah yang berdiri di depan pintu kemudian bertanya apa maksud kedatangan mereka. “Jika Saudara-saudara bermaksud baik, silakan masuk ke dalam mushalla...”&lt;br /&gt;Salah seorang dari mereka yang berjaket kulit hitam mengatakan bahwa mereka tersesat. “Sejak sore tadi kami mencari jalan tembus yang bisa ke Desa Pontian Gondan, tetapi tidak ketemu. Akhirnya kami malah sampai ke desa ini,” katanya dengan suara berat.&lt;br /&gt;“Kalau begitu, silakan masuk. Inilah Desa Pontian Gondai itu...” kata Kyai Abdullah.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Kyai. Kami akan kembali ke Ukui malam ini, terima kasih atas sambutannya...”&lt;br /&gt;Kelimanya kemudian masuk ke dalam mobil lagi, dan beberapa saat kemudian mobil itu melaju meninggalkan mushalla, juga desa. Zamzami, Zamroni, Iman juga Masri yang ada di dalam mushalla, dari tadi menyimak pembicaraan Kyai Abdullah dengan orang-orang berbadan kekar itu. Dalam kepala Iman, dia yakin, mereka bukan tersesat, tetapi sengaja datang ke kampungnya, dan itu pasti ada hubungannya dengan perusahaan sawit itu.&lt;br /&gt;“Tidak mungkin mereka tersesat, Kyai. Jalan menuju kampung ini langsung lurus dari simpang Ukui. Ini pasti ada hubungannya dengan pembicaraan kita selama ini...” kata Iman.&lt;br /&gt;“Sebelum Iman pulang dari Pekanbaru, sudah lama kita tidak membicarakan tentang upaya kita untuk melawan mereka. Dan sekarang, ketika kita sering berkumpul di mushalla ini, tiba-tiba ada orang tak dikenal datang ke kampung kita. Ini pasti ada apa-apanya. Dan mungkin mereka juga sudah mempunyai orang yang mereka jadikan sebagai mata-mata di kampung ini,” kata Zamzami.&lt;br /&gt;“Artinya, mulai hari ini kita harus lebih waspada lagi. Juga, bahwa apa yang akan kita lakukan ini akan mengandung resiko,” kata Kyai Abdullah.&lt;br /&gt;“Kita memang harus siap dengan segala resiko atas apa yang akan kita lakukan...” terdengar suara Iman agak berat.&lt;br /&gt;Masri, adiknya, yang berada tidak jauh darinya, dari tadi selalu melihat abangnya dengan seksama. Dalam pikirannya, abangnya memang telah benar-benar berubah sejak lima tahun menghilang. Abangnya telah memposisikan dirinya sebagai seorang laki-laki yang telah melakukan sesuatu untuk hal yang memang harus dilakukan. Dia ingat bagaimana beratnya deraan yang harus diterima abangnya ketika ia masih kecil, ketika dia sendiri ketika itu belum tahu apa-apa tentang tanggung jawab, juga kewajiban. Tetapi kini abangnya telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang merasa memiliki martabat. Dia senang melihat apa yang terjadi dengan abangnya, tetapi bersamaan dengan itu, dia juga menjadi resah. Apakah masa kecil yang berat itu telah membentuk pribadi Iman menjadi pemarah, pendendam dan emosional meski itu tidak ditujukan kepada bapaknya?&lt;br /&gt;Seminggu kemudian, Iman bersama Zamzami pergi ke Ukui, ke kantor perwakilan perusahaan sawit itu di sana. Namun, tak ada pegawai kantor itu yang mau melayaninya. Dia diopor ke sana-sini dan akhirnya sampai kepada bagian lapangan. Dia mengatakan bahwa penduduk kampungnya akan bertahan apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;Manajer lapangan itu, seorang lelaki yang dia tak ingin peduli siapa dan dari mana asalnya, mengatakan bahwa mereka memiliki bukti hukum yang bisa dipertanggunjawabkan di manapun. “Kami memiliki dokumen yang dikeluarkan oleh pemerintah, dan itu sah. Mau dibawa ke pengadilan atau ke manapun, kami tak akan takut. Terserah Anda, jika penduduk kampung Anda tak mau mengosongkan kampung, kami memiliki cara sendiri...”&lt;br /&gt;Sebelum orang itu menyelesaikan bicaranya, dia sudah naik ke meja dan dengan cepat menendang kepala lelaki itu. Zamzami yang duduk di dekatnya, terkejut, namun terlambat sebab beberapa saat kemudian, lelaki itu sudah menjadi bulan-bulanan Iman dengan pukulan dan tendangannya. “Kau tak tahu siapa kami. Tanah adalah hidup kami, dan dengan nyawa kami akan mempertahankannya,” katanya masih dengan menghajar lelaki itu.&lt;br /&gt;Zamzami yang berusaha melerai, tidak mampu menghentikan Iman. “Apa yang kita lakukan bisa menjadi permasalahan besar, Iman. Hentikanlah,” katanya sambil menarik tubuh Iman.&lt;br /&gt;“Dia menghina kita. Dia menghina apa yang telah dilakukan oleh orang-orang tua kita. Mereka berjuang keras membuka hutan itu menjadi perkampungan, dan kini dia mengatakan pekerjaan itu sia-sia. Sialan!” katanya sambil melayangkan pukulan ke sekian kalinya ke hidung lelaki itu. Terlihat, manajer lapangan itu babak-belur. Seluruh mukanya dilumuri darah yang keluar deras dari hidungnya. Dia terlihat megap-megap, tidak bisa bicara apa-apa selain mengaduh kesakitan.&lt;br /&gt;Benar, beberapa saat kemudian beberapa petugas keamanan perusahaan masuk dan balik menghajar Iman, juga Zamzami. Mereka berdua berusaha melawan, tetapi jumlah petugas itu sangat banyak dan akhirnya dia dan Zamzami benar-benar menjadi bulan-bulanan mereka. Keduanya kemudian dibawa ke ruangan lain dan masih dihajar di sana hingga pingsan. Beberapa jam kemudian polisi datang dan keduanya dibawa ke pos polisi untuk diperiksa. Akhirnya, setelah melalui pemeriksaan hingga malam, Iman ditahan, sementara Zamzami dilepaskan.&lt;br /&gt;Berita itu menyebar ke kampung dan sampai ke telinga bapaknya, juga ibu dan dua adiknya. “Dia ingin memperlihatkan bahwa dia benar-benar laki-laki, tetapi dia tidak perhitungan dan pikirannya dikuasai emosinya...” kata bapaknya dengan suara lemah sambil terbatuk-batuk yang didengar oleh Masri.&lt;br /&gt;“Apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya Masri, agak cemas.&lt;br /&gt;“Abangmu bisa menyelesaikan sendiri persoalannya. Dia akan lebih dewasa dengan apa yang terjadi padanya sekarang.”&lt;br /&gt;“Tapi dia sendirian, Bapak... Saya mohon, kita harus membantu abang...”&lt;br /&gt;Ahmad Jaidi, lelaki yang terkulai lemas dan bicaranya satu-satu itu, terbatuk dan kemudian mengatakan bahwa kesendirian itulah yang membuat Iman akan tahu bahwa hidup harus diperjuangkan. “Dia akan kuat dengan itu...”&lt;br /&gt;“Tetapi dia sendiri, Bapak... Saya mohon, kita harus membantunya...” terdengar pilu suara Masri. Sementara di ruang tengah rumah papan itu, seorang wanita menangis tanpa suara, hanya isak. Siti Mudrika, ibu Iman, Masri dan Rizaldi, istri dri Ahmad Jaidi, hanya bisa menangis diam dan dalam hati, hanya isak yang keluar, juga air matanya yang mengalir deras. Dia mengenal suaminya sejak masih remaja, tetapi mengapa sebegitu keras hatinya, bahkan ketika anaknya berada dalam masalah sebesar ini?&lt;br /&gt;Terdengar ketukan di pintu. Masri kemudian membukanya dan melihat Kyai Abdullah bersama beberapa penduduk kampung sudah berdiri di sana. “Kami akan ke kantor polisi di Ukui. Kami akan membawa seluruh laki-laki di kampung ini ke sana untuk membebaskan Iman. Percayalah, kami akan membawanya pulang lagi...”&lt;br /&gt;Dengan sebuah truk milik kepala kampung, mereka pergi ke Ukui. Setibanya di sana, Kyai Abdullah dan dua orang penduduk masuk ke dalam menemui Kepala Pos Polisi. Kapolpos itu mengatakan bahwa Iman tak mungkin bisa dibebaskan karena perbuatan yang dilakukannya adalah kriminal berat, yakni penganiayaan dengan kekerasan. Negosiasi dilakukan dengan alot dan keputusannya tetap, Iman tidak bisa dibebaskan. Suasana malam itu semakin panas. Warga kampung mulai marah dan entah siapa yang memulai, tiba-tiba mobil patroli milik pos polisi itu sudah dilalap api. Tak lama kemudian, pos polisi itu dilempari botol-botol minyak yang diberi sumbu dan kemudian api berkobar. Beberapa polisi jaga tidak bisa menghentikan meski mengancam akan menembak, tetapi tak satu tembakan yang keluar. Mereka memilih melarikan diri dan Kyai Abdullah bersama beberapa orang kemudian masuk ke dalam sebelum api benar-benar membesar. Mereka menemukan Iman dalam keadaan tak berbentuk, seluruh badannya memar dan kondisinya benar-benar kritis.&lt;br /&gt;Mereka kemudian membawa Iman ke dalam truk, dan rombongan itu kembali ke kampung. Hampir tengah malam mereka sampai dan Iman dibawa ke mushalla dan di sana Kyai Abdullah membantu Iman yang sudah sadar dengan memberikan air putih yang sudah diberi bacaan ayat-ayat Alquran. Iman mengalami luka parah di beberapa tempat. Pukulan benda-benda tumpul sepertinya hinggap di kaki, dada, pinggang dan hampir seluruh tubuhnya. Terlihat darah kental di hidung dan bibirnya, nampaknya dari dua tempat ini tadi mengucur darah segar. Dia mendengar semua apa yang dikatakan orang sekelilingnya, namun dia tak bisa berbuat apa, tak bisa berbicara, apalagi bergerak. Dia juga tahu ibu dan dua adiknya ada di situ menangisinya, tetapi dia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;Melihat kondisi Iman yang kritis itu, menjelang Subuh, Kyai Abdullah dibantu dua laki-laki lainnya membawanya keluar dari kampung dengan sebuah mobil colt tua bekas milik Marno yang dibelinya dari istri Marno. Mereka tidak melewati simpang Ukui, tetapi lewat jalan-jalan di bawah pohon sawit menuju Air Molek. Di sana, di sebuah klinik kecil, Iman diobati seperlunya. Namun karena kondisinya sangat kritis, pihak klinik kemudian merekomendasikan agar Iman dibawa ke Padang, di rumah sakit umum M Jamil.&lt;br /&gt;“Untuk sampai di Padang perlu waktu 8 jam, Dokter,” kata Kyai Abdullah.&lt;br /&gt;“Iya, tetapi fisiknya sangat kuat, selama di perjalanan nanti akan ada perawat yang mendampinginya...”&lt;br /&gt;Iman kemudian benar-benar dibawa ke sana dan dirawat dengan baik dengan biaya dari Kyai Abdullah yang selama ini memang dikenal sebagai pedagang getah yang lumayan maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA pekan kemudian Iman sudah dinyatakan sembuh. Kyai Abdullah mengatakan bahwa polisi akan tetap mengejar Iman dan penduduk lain yang terlibat pembakaran pos polisi di Ukui. “Kamu menyingkir dulu. Pergilah ke Jawa atau ke mana...”&lt;br /&gt;“Saya tidak akan pergi ke mana-mana, Kyai...”&lt;br /&gt;“Percayalah pada saya... Kamu akan lebih baik menyingkir dulu. Saya yang akan menanggung semuanya jika memang terjadi apa-apa...”&lt;br /&gt;“Saya tidak mau orang yang tidak terlibat apa-apa menjadi tumbal apa yang saya lakukan... Lagi pula, polisi pasti akan tetap mengejar saya di manapun saya berada...”&lt;br /&gt;“Tidak. Kasus itu akan dingin bersama waktu. Kamu masih muda, masih banyak yang bisa kamu lakukan ketimbang mendekam di tahanan...”&lt;br /&gt;“Tiga atau empat bulan tidak berarti apa-apa bagi saya di tahanan, Kyai...”&lt;br /&gt;“Pergilah!” terdengar suara Kyai Abdullah meninggi. “Saya tahu apa yang ada dalam hati dan pikiranmu. Kamu mau menunjukkan kepada bapakmu bahwa kamu juga bisa menderita seperti ini, termasuk di dalam penjara seperti yang dilakukan oleh bapakmu, kan? Kamu marah kepada bapakmu dan kamu ingin menunjukkannya dengan cara itu! Ketahuilah, apa yang dilakukan oleh bapakmu dengan mendidik kamu dengan cara keras sejak kecil, adalah karena dia sayang kepadamu...”&lt;br /&gt;“Saya tahu, Kyai. Saya tidak dendam kepada bapak...” terdengar suaranya lirih.&lt;br /&gt;“Maka, pergilah. Jika harus masuk tahanan, biar saya yang menggantikanmu, Nak...”&lt;br /&gt;Iman memeluk Kyai Abdullah dan menangis sesenggukan. “Kami semua menyayangimu, Nak. Percayalah...”&lt;br /&gt;Kyai Abdullah kemudian membawa Iman ke Indarung untuk naik bus menuju Jakarta. Seluruh biaya dan uang saku, Kyai Abdullah yang menanggungnya. “Jagalah dirimu...”&lt;br /&gt;“Saya titip keluarga saya, Kyai...”&lt;br /&gt;“Ya...” Ada yang basah di pipi Kyai Abdullah ketika melihat Iman sudah berada di atas bus.&lt;br /&gt;Iman naik bus ANS menuju Jakarta. Kyai Abdullah percaya, meski tak pernah ke Jakarta, Iman akan bisa bertahan hidup di sana dengan cara apapun. Dia percaya dengan Iman, sepenuhnya. Dia merasa dekat dengan Iman sejak mereka sama-sama merencanakan tentang upaya untuk mempertahankan tanah dari incaran perusahaan sawit itu. Dan dari situlah dia tahu psikologis Iman. Tentang hubungannya dengan bapaknya, Ahmad Jaidi, dan perasaan sayangnya kepada ibu dan kedua adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH sekitar sebulan berada di Jakarta –Iman tinggal di rumah seorang teman kuliahnya, anak Jakarta yang kuliah di Unri— dia mendapat kabar itu dari Kyai Abdullah. Bahwa keadaan di Ukui sudah lumayan tenang. Dia dan beberapa penduduk ditahan selama tiga pekan dan kemudian dilepaskan karena peristiwa pembakaran itu dianggap amuk massa yang tiba-tiba tanpa komando siapapun. Hanya saja, kata Kyai Abdullah dalam suratnya, polisi masih berusaha mencari Iman, meski belakangan sudah tak terdengar lagi kabar tentang itu.&lt;br /&gt;“Hanya saja Iman, saya tahu kamu laki-laki yang kuat. Hanya beberapa hari setelah kamu berangkat ke Jakarta, tanah kita telah menerima dengan baik bapakmu. Penyakit TBC yang dideritanya tak bisa ditahan dan sebelum meninggal, dia sempat meminta agar ibumu menyampaikan permintaan maafnya kepadamu. Ketika dia mendengar kamu ditahan, penyakitnya semakin memburuk. Ikhlaskan dan maafkan bapakmu, dia sangat mencintaimu, dan dia mengatakannya dengan cara yang berbeda agar kamu benar-benar menjadi laki-laki yang kuat seperti yang diinginkannya. Tentang ancaman perusahaan sawit itu, percayalah, kami akan bertahan semaksimal mungkin. Jangan pulang dulu sebelum ada kabar bahwa keadaan benar-benar aman...”&lt;br /&gt;Dia tak bisa menahan air matanya. Dia menangis terisak malam itu saat membaca surat itu sampai akhir. Aku tak pernah dendam kepada bapak, dan aku tak pernah marah kepadanya... Apa yang dilakukannya kepadaku telah banyak membantuku dalam banyak hal. Aku mencintai bapak, seperti aku juga mencintai ibu dan dua adikku. Aku tak perlu memaafkannya, karena bapak tidak pernah bersalah. Jika harus dicari siapa yang bersalah, maka akulah orangnya. Aku melarikan diri dari realitas, aku tak mampu memenuhi janjiku untuk membantu memebebaskan kampungku dari ancaman perusahaan sawit itu. Aku yang salah, dan aku akan membawa kesalahan itu ke manapun aku akan berjalan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tak tahu, mengapa segala yang berhubungan denganmu juga berhubungan dengan malam dan hujan, Iman. Ketika aku mendengar kabar itu, juga sedang hujan dan badai. Kabar yang selalu memberikan kepedihan meski aku bahagia ketika mengenang segala saat bersamamu. Aku tak percaya ketika itu, saat seseorang yang aku sendiri tak mau tahu siapa dia, datang ke rumah saat hujan dan mengabarkan tentangmu. Seorang laki-laki ditemukan mati di pinggir rel kereta api dekat stasiun dan di tangannya masih memegang bunga mawar yang sudah mulai layu meski basah oleh hujan yang deras. Tak ditemukan apa-apa di kantongnya, selain alamat rumahku.&lt;br /&gt;Mulanya aku tak percaya, tetapi kemudian aku menangis diam saat melihat tubuhmu memucat di ruang mayat rumah sakit itu. Kata dokter yang mengotopsimu, paru-parumu sudah rusak. Kamu mengidap TBC, seperti juga bapakmu, dan selama ini aku tak pernah berusaha mencari tahu. Di mulut dan bajumu tersisa bercak darah. Mungkin kau batuk dan muntah darah sebelum ajal menjemputmu. Dokter juga mengatakan bahwa mawar yang ada di genggamanmu tak ada yang bisa mengambilnya. Dan ketika kubuka genggaman tanganmu, dengan mudah aku bisa mengambilnya.&lt;br /&gt;“Mungkin dia ingin memberikan bunga itu kepada Nona,” kata dokter yang aku juga tak peduli dengan namanya itu.&lt;br /&gt;Malam dan hujan selalu menyimpan segala cerita tentangmu. Namun segala yang pernah hidup denganmu tetap berada di sini: hujan, malam, mawar yang hampir layu dan mungkin bau bacin getah karet yang sering tiba-tiba datang dan tak tahu berasal dari mana...&lt;br /&gt;Aku benar-benar merindukanmu di segala saat. Semoga segala tawa, penderitaan, sakit, senyum, kesedihan dan kemuraman akan menjadi segala kebaikan yang akan mengantarkanmu pada takdirmu. Aku merindukanmu, kini, esok dan segala waktu yang masih tersisa...***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Salah satu lirik lagu Immortality yang dipopulerkan oleh Celine Dion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Novel ini mendapat hadiah Penghargaan Ganti Award II 2005 di Pekanbaru (Riau)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-1728736201718179263?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/1728736201718179263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=1728736201718179263' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/1728736201718179263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/1728736201718179263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2008/02/novel.html' title='Novel'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FW6KKQ_ZZ2s/R8EN4FdfPoI/AAAAAAAAAAM/b8Y1nufdWJ4/s72-c/malam%252Chujan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-2472814413428853064</id><published>2008-02-23T22:08:00.000-08:00</published><updated>2008-02-23T22:09:49.394-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aboutme'/><title type='text'>Tentangku</title><content type='html'>harybk&lt;br /&gt;Umur: 33 &lt;br /&gt;Jenis Kelamin: Pria &lt;br /&gt;Tanda Astrologi: Pisces &lt;br /&gt;Tahun Zodiak: Macan &lt;br /&gt;Industri : Komunikasi atau Media &lt;br /&gt;Pekerjaan: Journalist &lt;br /&gt;Lokasi: Pekanbaru : Riau : Indonesia &lt;br /&gt;Mengenai Saya&lt;br /&gt;Saya hanya orang biasa, yang suka melihat sesuatu yang indah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat&lt;br /&gt;Menulis nove cerpen sajak laporan perjalanan dll&lt;br /&gt;Film Favorit&lt;br /&gt;The English Patien The House of The Spirits Legend of The Fall In Love And War Stalingrad Devil's Awn The Hors Whisperers&lt;br /&gt;Musik Favorit&lt;br /&gt;Natalie Imbrulia GNR Bon Jovi Madonna Celine Dion&lt;br /&gt;Buku Favorit&lt;br /&gt;Nove Kumpulan Cerpen Sejarah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-2472814413428853064?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/2472814413428853064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=2472814413428853064' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/2472814413428853064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/2472814413428853064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2008/02/tentangku.html' title='Tentangku'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-8629548897306726328</id><published>2007-11-16T10:11:00.000-08:00</published><updated>2008-02-23T21:55:10.691-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Tunggu Aku di Sungai Duku</title><content type='html'>Cerpen Hary B Kori'un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Duku&lt;br /&gt;(Senja yang berkabut) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “AKU akan berlayar jauh mengarungi samudera dan mungkin bertahun-tahun tak kembali. Tunggulah aku di dermaga ini, aku akan kembali bersama kapal ini juga. Dari kecil aku ingin jadi pelayar dan menaklukkan lautan. Maukah engkau menungguku?”&lt;br /&gt; Kapal akan segera berangkat dan lelaki itu sejenak merangkul kekasihnya yang dari tadi hanya diam. “Nyimas Rita Umi Kalsum, dengarkan aku. Aku akan kembali lagi ke dermaga ini dan aku ingin engkau selalu menungguku di sini. Katakanlah sesuatu...”&lt;br /&gt; Kapal benar-benar akan berangkat dan lelaki itu semakin gelisah di dermaga. Panggilan terakhir terdengar, namun kekasihnya tidak juga berkata barang sepatahpun. “Umi, aku akan tetap kembali. Doakan aku...” Kemudian lelaki itu berlari menuju kapal dan masuk dalam kerumunan penumpang yang berjejal. Dia masih melihat  kekasihnya memandang ke arah kapal, tanpa gerakan, seperti semula. Dia seperti patung yang bisu, beku dan hanya tatapan matanya yang menjelaskan dia masih benar-benar hidup.&lt;br /&gt; Angin senja meniupkan hawa aneh yang menerpa tubuh perempuan itu. Rambutnya yang panjang sebahu tertiup angin dan tergerai-gerai. Kabut tipis yang datang sejak tadi semakin menyiratkan pedih di aura wanita itu. Perlahan, kapal meninggalkan dermaga dan wanita itu tetap mematung tanpa ekspresi yang pasti. Sedang lelaki yang sudah masuk ke kapal, hanya terlihat kepalanya dari jauh, yang tetap dikenali wanita itu. Lelaki itu melambai, tetapi wanita itu tetap diam. Semakin jauh, wajah lelaki itu sudah tak terlihat dan dalam hitungan menit, kapal penumpang itu sudah hilang di kelokan sungai. Wanita itu tetap diam di situ ketika para pengantar satu per satu sudah meninggalkan dermaga.&lt;br /&gt; Seorang petugas dermaga menyapanya. “Anak, sebentar lagi malam. Tidakkah engkau ingin pulang?”&lt;br /&gt; “Saya ingin menunggunya di sini, Pak.” Jawabnya. Inilah suara pertamanya sejak sampai di dermaga ini bersama kekasihnya tadi.&lt;br /&gt; “Aduh, di sini tidak ada penginapan. Anak akan menginap di mana?”&lt;br /&gt; “Saya tak akan menginap di mana-mana. Saya tidak perlu tidur. Saya akan duduk di dermaga ini, boleh Bapak?”&lt;br /&gt; Lelaki itu kebingungan dan kemudian mengangguk sebelum pergi ke kantornya yang tak jauh dari  situ. Dia menggeleng-geleng tak mengerti.&lt;br /&gt; Beberapa hari kemudian, wanita itu tetap duduk di dermaga sambil memandang arah timur, arah dari mana biasanya kapal datang dari Bengkalis, Batam, Dabo Singkep, Tangjung Pinang atau daerah kepulauan lainnya. Matanya tampak sayu dan lelah, tetapi kecantikannya tak berubah meski ada warna hitam di bawah kelopak matanya. Warna yang terlalu dini untuk gadis muda seusianya.&lt;br /&gt; “Siapa sih yang Anak tunggu?” tanya petugas dermaga itu yang hampir setiap hari berada di Pelabuhan Sungai Duku.&lt;br /&gt; “Kekasih saya, Pak.”&lt;br /&gt; Mulut lelaki itu berbentuk huruf ‘O’ mendengar jawaban wanita itu. “Lalu, dia pergi ke mana?”&lt;br /&gt; “Tidak jelas. Katanya dia ingin berlayar mengarungi tujuh samudera dan menaklukkannya. Tetapi dia berjanji akan kembali kok, selama ini dia tak pernah mengingkari janjinya.”&lt;br /&gt; “Sudah lama mengenalnya?” Lelaki itu semakin antusias bertanya.&lt;br /&gt; “Kami bersama sejak kecil,” jawab wanita itu sambil tersenyum. Dia teringat masa kanak-kanak mereka di sebuah kampung di pinggir Sungai Siak, tak jauh dari dermaga itu. Ingat bagaimana mereka tumbuh bersama menjadi remaja dan kemudian cinta tumbuh dalam diri mereka. Cinta yang dibangun sejak masa kanak-kanak, sejak mereka sendiri tak tahu apa arti cinta itu. &lt;br /&gt; “Dan dia tak pernah sekalipun mengingkari janjinya?”&lt;br /&gt; Wanita itu menggeleng.&lt;br /&gt; “Tujuh samudera...” gumam lelaki itu. “Apakah Anak yakin kalau dia akan selamat? Kapan dia berjanji akan kembali?”&lt;br /&gt; “Saya selalu yakin dia akan selamat. Ketika kami kecil, dia pernah menyelamatkan saya dari arus Sungai Siak ini saat banjir bandang datang. Ketika kami remaja, dia pernah membunuh harimau di hutan yang selalu mengganggu penduduk meski dia terluka parah. Dan beberapa waktu lalu, ketika dia naik kapal dari Dabo, kapalnya pecah dihantam badai dan semua penumpang tewas. Tetapi dia masih hidup. Kalau dia mati, sudah dari dulu dia mati. Tetapi dia selalu mengatakan bahwa dia akan tetap hidup, untuk menemani, menjaga dan melindungi saya. Dia tidak pernah berjanji kapan pulang ketika dia pergi, tetapi selama ini dia selalu kembali...”&lt;br /&gt; Lelaki itu bergumam tak jelas. “Cinta kalian luar biasa. Bapak serasa ingin menjadi remaja lagi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anambas &lt;br /&gt;(Dalam hempasan angin dan gelombang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; UMI, kapal kami sudah sampai di Kepulauan Natuna saat ini, dan sebentar lagi kami akan sampai di Laut Cina Selatan. Dari Sungai Duku, aku naik kapal ini di Tanjung Pinang, di sana semua awak yang akan berlayar di ekspedisi ini sudah menunggu. Kata kapten kapal, kami akan berlayar ke Hokaido, kemudian ke Hawai, singgah di Colorado, menembus Selat Panama, menyeberang Samudra Antlantik, singgah di beberapa negara Eropa, kemudian ke Andalusia di Semenanjung Cordoba (Spanyol), kemudian menuju Cape Town di Afrika Selatan, singgah ke Madagaskar, Sri Langka dan setelah itu akan kembali ke Selat Malaka. Aku senang sekali karena ini adalah pelayaran terbesar yang pernah dilakukan oleh kapal ini beserta para awaknya. Tidak rugi aku berjuang sekian tahun untuk menjadi salah satu awak kapal ini. Kalau kamu membaca buku sejarah ekspedisi terbesar yang pernah dilakukan Vasco Da Gama, Marcopollo,  Amerigo Bertolucci, Christopher Columbus dan pelayar lainnya,  ekspedisi kami ini tak kalah besarnya. Kamu harus bangga karena aku akan menjadi orang kampung kita pertama yang ikut menaklukkan dunia. Semua koran di seluruh dunia akan mencatat perjalanan kami ini, Umi. &lt;br /&gt; Selama pelayaran dari Sungai Duku hingga ke Anambas ini, Umi, aku menjadi sedih. Banyak hal yang selama ini berada jauh dalam pemikiran dan hatiku. Orang bilang --dan memang kenyataannya begitu— kampung kita adalah salah satu kampung terkaya di negri ini. Memiliki minyak, baik di dalam tanah maupun di tumbuhan yang dibudidayakan; memiliki hutan yang sangat lebat dan membuat banyak orang tertarik untuk membabatnya; memiliki laut yang menghasilkan ikan dan pasir, tetapi malah banyak pulau yang tenggelam karena pasirnya dijual untuk membangun pulau kecil milik tetangga. Di kampung kita, juga banyak orang pintar Umi, tetapi banyak dari mereka yang malah menjual kepintaran dengan membesarkan perut sendiri, sementara banyak petani dan nelayan yang tetap miskin. Harga gabah dan ikan sangat rendah dan tak mampu membuat mereka bisa kembali melaut atau turun ke sawah lagi. Dan banyak lagi orang pintar yang menjadikan kemiskinan itu sebagai tambang uangnya. Mereka menjual proposal pemberdayaan kemiskinan ke donatur luar negeri. Mereka sebenarnya tidak suka orang miskin menjadi makmur, Umi, karena kalau petani, nelayan atau pekebun makmur, mereka tak punya lagi dagangan yang bisa dijual ke orang asing. Sepanjang Sungai Siak hingga kami sampai di Anambas ini,  banyak kampung yang terisolir, tak berlistrik dan banyak pula sekolah bergedung kayu tetapi hampir rubuh. &lt;br /&gt; Umi, surat ini kutulis dalam malam-malam yang sepi di antara jeripak air laut. Kutitipkan kepada salah seorang awak kapal penumpang yang akan menuju Sungai Duku. Kukatakan padanya ciri-cirimu dan kukatakan pula bahwa engkau selalu menunggu aku di Sungai Duku. Masihkah engkau di situ, Umi? Aku tahu, selama ini engkau adalah kekasihku yang sangat setia. Doakan aku dan tetaplah menunggu di dermaga tempat di mana aku pergi dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Duku&lt;br /&gt;(Musim kabut dan asap)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MARTIN, orang-orang yang lalu-lalang di Sungai Duku banyak yang heran mengapa aku tetap berada di dermaga ini. Tentu bagi mereka yang memang sering atau setiap hari ke sini. Bagi mereka yang sekali-kali saja, tentu tidak mau tahu dan menganggap aku seperti para calon penumpang lainnya atau sedang menunggu saudaranya dari kepulauan yang  naik kapal menuju Pekanbaru. Aku masih tetap di sini, Martin, menunggu kabarmu, menunggu janjimu dan menunggu dirimu. Kapan engkau akan kembali?&lt;br /&gt; Sekarang sedang musim kabut dan asap, Martin. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kabut dan asap sudah menjadi bagian dari kampung kita dan banyak orang mengatakan bahwa musim kabut dan asap sudah sama seperti musim hujan dan panas, dua musim yang memang ada di daerah tropis. Apakah kapalmu sudah sampai di Hokaido, Colorado atau justru sedang menyeberang ke Atlantik lewat Selat Panama? Pasti engkau nanti bisa merasakan empat musim yang ada di belahan bumi lain itu. Apakah sedang musim salju, semi,  atau panas? Kadang-kadang, aku terpikir ingin juga pergi sepertimu. Tetapi aku sadar, aku hanya gadis kampung dan mungkin sudah kodratku untuk bertindak pasif. Banyak orang mengatakan bahwa perempuan sangat tidak sopan kalau terlalu agresif. Perempuan harus pasif, menunggu, menerima dan tak perlu banyak tanya. Namun, engkau yang  sering mengajarkan padaku bahwa harus ada kesamaan antara laki-laki dan perempuan. Aku senang, engkau sering membesarkan hatiku dalam banyak hal. Engkau jugalah yang meyakinkan orangtuaku agar aku bisa kuliah hingga menjadi sarjana, meski hanya sarjana guru.&lt;br /&gt; Martin, ceritaku tentang kabut dan asap tadi belum selesai. Jarak pandang di kampung kita hanya beberapa meter dan sudah banyak anak-anak yang harus masuk rumah sakit karena radang pernapasan. Pagi tadi aku membeli koran di dekat dermaga. Kata koran itu, pemerintah sudah melakukan pengusutan para pengusaha yang melakukan pembakaran hutan. Banyak perusahaan yang dituding, tetapi belum ada satupun yang dijadikan tersangka, katanya belum ada fakta verbal, namun katanya pengusutan tetap dilakukan. Pengusutan yang membingungkan karena mirip benang kusut. Wartawan yang menulis berita itu tidak menuliskan bahwa sebenarnya pembakaran hutan yang dimulai dengan penebangan kayu, banyak terjadi kolusi antara pejabat pemerintah, pejabat keamanan dan pengusaha tersebut. Inilah yang menyulitkan. Dulu engkau sering bercerita padaku, Martin, bahwa warisan yang paling sulit dihilangkan dari pemerintah kolonial Belanda untuk negri kita adalah keterbelakangan berpikir dan mental korup yang mengakar dari pejabat tingkat RT hingga yang paling tinggi. Mereka mengatakannya inlander, tetapi makna yang muncul adalah keterbelakangan dan kebodohan. Bahkan, katamu, guru yang bertugas membuat orang pintar-pun, sekarang juga sudah pandai menyimpang. Sudah jarang ada guru seperti Umar Bakri seperti dalam lagu Iwan Fals itu. Sekarang, semuanya diatur dengan uang, dan untuk mendapatkan uang itu segala cara dilakukan. Aku senang, engkau selalu mengatakan padaku bahwa ukuran kebahagiaan bagimu bukanlah materi, tetapi ketenangan dan kesederhanaan. Namun aku menjadi bingung karena ukuran ketenangan bagimu justru keresahan bagiku. Ketenanganmu dalam perjalanan dan petualangan membuat aku resah setiap hari meski engkau harus selalu yakin bahwa aku akan tetap menunggumu sampai kapanpun. Namun, aku tetap bahagia, Martin. Pulanglah, dan engkau akan mendapati aku tetap berada di Sungai Duku menunggumu. Sampai kapanpun, meski nanti rambutku memutih dan mataku mulai rabun, aku akan tetap menunggumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Duku&lt;br /&gt;(Ada cinta yang tak menuntut apa-apa...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  LELAKI petugas dermaga itu duduk di samping wanita itu sambil mengulurkan sepotong roti. Wanita itu menerimanya dan kemudian memakannya. Mereka sudah sangat akrab karena hampir setiap hari, kecuali hari Minggu atau sedang cuti, lelaki itu pasti bertemu dengan wanita yang sedang menunggu kekasihnya itu. Mereka sering bercerita apa saja, mulai dari musik, olahraga, filsafat atau sekedar ngobrol ringan pengisi waktu. Dia juga sering bercerita tentang keluarganya; anak-anaknya yang kini sudah tumbuh dewasa dan masuk perguruan tinggi, atau tentang istrinya yang sudah hampir 20 tahun ini selalu menemaninya, tanpa keluhan, meski gaji yang didapatkannya dari tugasnya sebagai petugas pabean tidak terlalu besar. Dia juga sering bercerita, banyak pengusaha ekspor-impor yang  mengeluarkan dan memasukkan barang lewat dermaga ini, selalu berusaha memberinya banyak uang lelah, tetapi dia memilih berkata tidak meski dia sering dicibir teman-temannya. Bahkan, ada dari pengusaha-pengusaha tersebut yang menawarkan jasa untuk menyekolahkan salah seorang anaknya di perguruan tinggi, sampai tamat.&lt;br /&gt; “Kenapa Bapak tidak mau menerima itu? Kan biaya yang Bapak keluarkan untuk pendidikan menjadi agak ringan,” kata wanita yang selalu menunggu kekasihnya itu.&lt;br /&gt; Lelaki itu menghela nafas sebentar. “Dari kecil saya diajari orangtua untuk jujur, Nak. Uang haram yang kita gunakan untuk membesarkan anak-anak akan menjadi racun bagi mereka.”&lt;br /&gt; “Seandainya di negri ini banyak pegawai yang seperti Bapak...” gumam wanita itu. “Tetapi bohong sedikit  kan tak apa, Pak?”&lt;br /&gt; “Mulanya sedikit, setelah itu lupa kalau itu bohong karena sudah menjadi kebiasaan...” lelaki itu bicara sambil tersenyum. Kemudian, “Eh, kapan kekasihmu itu kembali?”&lt;br /&gt; “Saya tidak tahu, Pak. Kemarin dia kirim surat, katanya kapalnya berlabuh di Shouthampton dan mereka akan berada di Inggris lebih kurang seminggu. Kemudian baru melanjutkan perjalanan,” kata wanita itu agak murung.&lt;br /&gt; “Kenapa kamu murung? Kamu mulai kesepian dan kehilangan?”&lt;br /&gt; “Bapak, bagi saya, mencintai itu membebaskan. Saya bahagia dan tak merasa kesepian selama ini. Saya senang kalau apa yang dilakukannya itu membuatnya bahagia...”&lt;br /&gt; “Seandainya, ini seandainya lho, kalau dia nanti misalnya kecantol gadis bule dan menikah di sana, bagaimana?!” kata lelaki itu dengan nada bercanda.&lt;br /&gt; “Kalau dia jatuh cinta pada gadis lain, itu pasti sudah dilakukannya sejak dulu. Tetapi dia tidak melakukannya. Dan kalaupun misalnya kami tidak jadi menikah karena dia mengalihkan cintanya pada gadis lain, saya akan menerimanya dengan hati iklas. Saya tidak bisa memaksakan kehendak, Bapak, karena kalau cinta adalah sebuah paksaan, maka dia tak akan pernah berakhir bahagia. Tetapi kalau kita merelakannya dan menganggap kebahagiaannya adalah kebahagiaan kita, maka kita akan menemukan cinta yang indah. Bapak, ada cinta yang tidak menuntut apa-apa kecuali kebahagiaan orang yang kita cintai...”&lt;br /&gt; Lelaki itu diam sejenak. “Seandainya semua orang seperti Anak... pasti tak ada cerita istri yang memotong kemaluan suaminya karena cemburu, atau suami yang memotong-motong tubuh kekasihnya karena motif yang sama...”&lt;br /&gt; Senja hampir habis, dan lelaki itu pamit untuk pulang menemui istrinya yang setia dan anak-anaknya yang kini sudah tumbuh dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cape Town&lt;br /&gt;(Masihkah engkau di Sungai Duku, Umi?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; UMI, saat surat ini sampai kepadamu, mungkin kami sudah meninggalkan Cape Town di Afrika Selatan menuju Madagaskar. Seperti surat-surat sebelumnya, kabar kami baik-baik saja dan banyak hal yang baru yang selalu membuat kami terhibur di tengah-tengah lautan luas yang kadang tak terlihat batasnya. Namun Umi, dalam sekian waktu perjalanan ini, yang ada dalam pikiranku hanyalah engkau. Masihkah engkau berada di Sungai Duku menungguku? Ataukah engkau sudah pergi dan menikah dengan lelaki lain dan membangun rumah tangga dengan bahagia? Aku akan sedih jika itu memang terjadi padamu, Umi. Tetapi dari dulu aku memang ingin engkau bahagia, baik denganku atau tidak. Aku ingin engkau bahagia dan itu yang akan membuatku bahagia.&lt;br /&gt; Namun, dengan kepergianku sekian lama, apakah engkau bahagia? Mestinya saat ini aku bersamamu, kita hidup bersama membangun cinta, tinggal di sebuah kampung dengan rumah kayu yang memiliki halaman yang luas. Di belakang rumah ada kolam ikan dan angsa-angsa putih berenang di atasnya. Di depan rumah ada lapangan sepakbola dan orang-orang kampung bermain bola setiap sore, sebuah pemandangan yang selama ini selalu aku inginkan. Aku ingin hidup seperti itu, Umi. Namun bukan berarti aku menyesali perjalananku. Aku senang karena bisa menaklukkan dunia, dan aku juga sangat senang karena sekembaliku dari perjalanan ini, aku akan melamarmu dan mewujudkan impian kita dulu. Tetapi, apakah engkau masih menungguku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Duku&lt;br /&gt;(Senja benar-benar tiba...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MARTIN, aku masih tetap di dermaga ini. Orang-orang selalu datang dan pergi, banyak yang masih kukenal dan banyak yang tidak kukenal. Mungkin banyak orang yang sering ke sini heran melihat aku selalu berada di dermaga ini: siang, malam, pagi, siang, malam dan pagi lagi. Aku selalu menunggumu, menunggu ketidakpastianmu. Kamu tahu? Lelaki petugas pabean yang selalu menemani ngobrol, sudah meninggal hampir sepuluh tahun yang lalu, dan saat ini aku tak punya teman ngobrol lagi karena petugas yang menggantikannya dan lebih muda, tentu tak mau ngobrol dengan perempuan tua dan renta dengan rambut putih dan kulit keriput sepertiku. Aku sudah tua, Martin, aku lupa berapa umurku sekarang. Mungkin orang-orang yang lalu-lalang di sini menganggapku gembel atau pengemis, tetapi aku selalu mencuci pakaianku dan memakai minyak wangi yang harumnya dulu sangat engkau sukai.&lt;br /&gt; Tertambat di manakah kapalmu saat ini, Martin? Di Madagaskar, Sri Langka, Selat Malaka ataukah hampir sampai di Sungai Duku? Aku sebenarnya capek menunggumu berpuluh-puluh tahun seperti ini, namun cinta membuatku selalu menunggumu dan melupakan semua rasa capek dan penat itu. Meski aku tak yakin engkau akan kembali ke Sungai Duku seperti janjimu dulu, tetapi aku selalu berharap dan ingin selalu memahami, bahwa cintaku tak pernah terukur dengan apapun, termasuk oleh waktu seperti sekarang ini.&lt;br /&gt; Suatu saat, jika engkau memang benar-benar kembali ke Sungai Duku, aku berharap aku masih di sini, masih menunggumu seperti berpuluh-puluh tahun lalu. Bepuluh-puluh tahun yang lalu, Martin, bahkan aku sudah lupa entah sudah berapa puluh tahun. Aku tak ingin menjadi patung di sini, Martin, aku ingin tetap hidup dan memiliki harapan-harapan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, Januari 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ALIA, cerita tentang wanita yang selalu menunggu kekasihnya yang tak pernah kembali dari pengembaraannya itu sudah berkembang dari mulut ke mulut sejak jaman dulu, bahkan ketika aku sendiri belum lahir. Orang-orang kampung di pinggir Sungai Siak itu selalu bercerita bahwa wanita itu, hingga sekarang masih berada di Sungai Duku, sebuah pelabuhan kecil di pinggir Sungai Siak, sedikit di luar kota Pekanbaru, kota yang selama sekian tahun ini menjadi tempat pelarianku. Aku mulanya tak percaya, mana mungkin seorang wanita mau menunggu kekasihnya sejak zaman bahulea hingga sekarang. Barapa umurnya sekarang? Mereka tak ada yang memberi keterangan pasti. Katanya, wanita itu kini sudah tua sekali, berambut putih, kulit keriput, pakaian kebayanya masih tetap bersih dan tetap duduk di pinggir dermaga sambil mencelupkan kedua kakinya ke air.&lt;br /&gt; Karena penasaran, aku pernah ke sana, ke Sungai Duku, untuk membuktikan cerita dari mulut ke mulut di kampung itu. Aku memang mendapati banyak wanita tua di sana, ada yang menjual makanan kecil, ada yang sedang menunggu kapal bersama keluarganya, ada yang sedang turun dari kapal dan masih banyak lagi. Yang mana wanita yang sedang menunggu kekasihnya itu? Apakah salah satu dari mereka adalah wanita yang dimaksud dari cerita penduduk kampung tersebut?&lt;br /&gt; “Pokoknya wanita itu masih di sana, menunggu kekasihnya yang hingga kini tak pernah kembali,” kata salah seorang penduduk kampung tersebut.&lt;br /&gt; “Ah, aku tak menemukannya. Beberapa hari terakhir ini aku ke sana,” kataku.&lt;br /&gt; “Dia sudah tua, memakai pakaian kebaya, berambut putih dan duduk di pinggir dermaga,” katanya lagi.&lt;br /&gt; “Banyak wanita tua yang pakai kebaya, tetapi tidak duduk di pinggir dermaga dengan mencelupkan kakinya ke air.”&lt;br /&gt; “Kamu salah lihat mungkin...”&lt;br /&gt; “Lalu, apakah kekasihnya yang pergi mengembara menaklukkan tujuh lautan itu pernah kembali ke Sungai Duku?” tanyaku kepada mereka.&lt;br /&gt; “Entahlah. Ceritanya begalau. Ada yang mengatakan, kapal yang ditumpangi kekasihnya pecah di Selat Malaka dan seluruh awaknya meninggal, termasuk lelaki itu. Ada pula yang mengatakan, lelaki itu menikah dengan seorang wanita di Mallorca dan beranak-pinak di sana. Ada juga yang menjelaskan bahwa lelaki yang ditunggunya itu kembali ke Sungai Duku, tetapi sangat kecewa karena wanita itu sendiri menunggu bersama lelaki lain dan membangun keluarga di pinggir Sungai Duku. Entah mana yang benar...”&lt;br /&gt; Alia, aku menjadi semakin penasaran dengan cerita-cerita itu. Apakah ada wanita yang begitu setia dengan menunggu kekasihnya hingga tua seperti itu? Aku tak yakin, karena itu hanya cerita dari mulut ke mulut. Tetapi, Alia, seandainya perjalananku ini memakan waktu lama, apakah engkau mau menungguku seperti wanita yang selalu menunggu kekasihnya di Sungai Duku itu?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 26 September 2002.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-8629548897306726328?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/8629548897306726328/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=8629548897306726328' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/8629548897306726328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/8629548897306726328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/11/tunggu-aku-di-sungai-duku.html' title='Tunggu Aku di Sungai Duku'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-3110595017558341284</id><published>2007-11-16T09:44:00.000-08:00</published><updated>2007-11-16T09:51:42.015-08:00</updated><title type='text'>Rendezvous</title><content type='html'>Cerpen Hary B Kori’un &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENAR-BENAR adakah cinta? Aku tanyakan itu kepada ibuku, dulu, ketika berbulan-bulan  menemaninya di sebuah rumah sakit yang dingin dan bisu.&lt;br /&gt;        Dengan senyumnya yang menyejukkan, ibu selalu mengatakan bahwa salah satu karunia Tuhan yang tak bisa dihapuskan oleh siapapun adalah cinta. “Kamu bisa membayangkan, Cah Bagus, seandainya di dunia ini tak ada cinta. Seandainya orang-orang hidup tanpa cinta, semuanya akan menjadi besi, patung, gedung-gedung tua dan kemudian ambruk dimakan waktu. Tetapi cinta tidak. Dia adalah bangunan yang akan terus ada,  meski kadang tak berwujud, tak kasat mata...”&lt;br /&gt; Kini, perjalananku sudah setengah lebih. Subuh-subuh tadi aku berangkat dari Pekanbaru sendirian. Aku sengaja mengambil cuti hari ini. Aku ingin  berada di sana, Tongar, kampung terakhir ibuku di Simpang Empat, Pasaman Barat. Ibu ulang tahun hari ini, dan aku ingin ada di dekatnya. Selalu, setiap ulang tahunnya, aku datang ke Tongar, sejak enam tahun lalu. Beberapa hari sebelumnya, aku sudah mengatakan kepada istriku dan aku berharap dia mau pergi. Tetapi pekerjaan di kantornya tak bisa ditinggalkan, dan Palagan, anakku, juga sedang ujian. &lt;br /&gt; “Pergilah, katakan kepada ibu, kami tak bisa datang bersamamu. Tapi, bukankah kalian ingin rendesvouz berdua?” kata istriku sambil mencium tanganku, kemudian pipiku. Setelah itu aku mendekati Palagan yang masih tidur, mencium kedua pipinya.&lt;br /&gt; Kukatakan pada istriku, bahwa ada perasaan aneh dan tak enak kali ini. Tidak seperti biasanya. Setiap aku akan pergi, yang muncul adalah perasaan sumringah. Selain akan datang di saat tahun ibu, aku juga akan pulang ke kampung tempat aku besar sebelum pergi meninggalkannya karena harus bekerja ke kota lain, berpindah-pindah. “Semoga tidak terjadi apa-apa. Hati-hati, kalau hujan dan jalan licin, jangan dipaksakan...” kata istriku lagi.&lt;br /&gt; Hari memang hujan ketika aku keluar rumah, dan sepanjang jalan, ingatanku tertuju pada ibu yang memilih hidup sendirian sejak tiba di Tongar hingga akhir hayatnya. Setiap aku bertanya mengapa ibu tidak menikah lagi agar memiliki teman ketika aku pergi kuliah ke Padang dan kemungkinan akan meninggalkannya dalam waktu lama ketika berkerja di kota lain, ibu selalu mengatakan bahwa dia  sudah punya janji kepada ayah. “Ayahmu menyuruh Ibu berangkat lebih dulu dengan kapal pertama, dan dia akan menyusul dalam kepulangan selanjutnya. Ibu akan tetap menunggunya di sini...” katanya berkali-kali setiap kutanya.&lt;br /&gt; Dia kemudian bercerita. Pada 4 Januari 1954, rombongan pertama kepulangan orang-orang dari Suriname diberangkatkan dengan menggunakan kapal sewaan KM Langkuas, milik perusahaan pelayaran Belanda,  NV Scheepvaart My Nederland.1)   Sebelum naik ke atas kapal itulah untuk terakhir kalinya ibu bisa melihat ayah.&lt;br /&gt; “Ibu sedang hamil 8 bulan ketika itu. Karena tidak semua keluarga bisa pulang bersama dan ayahmu tidak mendapatkan tiket, akhirnya Ibu disuruhnya pulang lebih dulu bersama kakek dan nenekmu. Dalam perjalanan setelah meninggalkan Semenanjung Pengharapan, kamu lahir di kapal. Ibu sedih karena ayahmu tidak ada ketika itu, tetapi Ibu yakin, ayahmu pasti akan berangkat dengan rombongan selanjutnya dan akan bertemu denganmu...”&lt;br /&gt; Tetapi, setelah sekian tahun, ibu akhirnya tahu, bahwa ayah tidak pernah pulang, namun ibu tetap menunggunya. Ayah berkirim surat, bahwa memang tidak ada lagi kapal yang pulang ke Indonesia. Untuk pulang sendiri, ongkosnya sangat mahal. Gaji ayah sebagai tukang pos di Paramaribo tidak akan mencukupi untuk membeli tiket karena harus ke Belanda dulu. Ayah minta maaf dan selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintai ibu dan meminta agar dikirimkan foto kami berdua kepadanya. Hingga bertahun-tahun kemudian ketika ayah memang benar-benar tak pernah kembali, ibu selalu menyimpan keyakinan bahwa ayah tetap akan kembali menyusul kami. Dan bahkan ketika akhirnya surat-surat ayah tak pernah datang lagi dan bertahun-tahun kemudian tak terdengar kabarnya, ibu juga tetap yakin bahwa ayah pasti akan menyusul kami di Tongar.&lt;br /&gt; “Kita sebaiknya memang harus melupakan ayah,” kataku kemudian. Aku tak bisa membayangkan seperti apa ayahku, karena dalam surat-surat yang dikirimkan kepada ibu, tak pernah disertai foto dirinya, sementara satu-satunya foto yang disimpan di dompet ibu, sudah sangat lusuh dan gambarnya sudah buram.&lt;br /&gt; “Ayahmu adalah kekuatan bagi hidup Ibu,” kata ibu sambil tersenyum dan membelai rambutku. Aku sudah tamat SMA ketika itu, dan akan melanjutkan kuliah di Padang. &lt;br /&gt; “Ibu menderita karena selalu mengenang ayah...” ucapku kemudian.&lt;br /&gt; Ibu menggeleng, dan di sudut matanya keluar butiran bening. “Ayahmu lelaki yang baik, berpendirian, jujur, bertanggung jawab dan selalu menepati janjinya. Ibu jatuh cinta kepadanya karena itu, bukan karena dia anak orang Jawa terpandang di Paramaribo. Kamu menuruni sifat-sifatnya Cah Bagus. Mengenangnya sepanjang hidup adalah karunia, dan dia terus ada dalam diri Ibu,” kata ibu lagi, dan butiran bening itu menetes mengenai lenganku. &lt;br /&gt; “Lalu mengapa ayah membiarkan Ibu yang sedang hamil besar pulang sendiri dan tak berusaha untuk selalu bersama Ibu?” suaraku ikut serak.&lt;br /&gt; “Semua orang ingin pulang dalam gelombang pertama ketika itu. Yayasan Tanah Air, yang mengurusi kepulangan kami, akhirnya mengambil keputusan, tidak semua anggota keluarga yang bisa pulang bersamaan. Ada yang bisa pulang bersamaan karena lebih dulu mendaftar, dan ada yang harus pulang terpisah. Ketika itu kami semua yakin, mereka yang ingin pulang pasti bisa pulang karena akan ada kapal lagi untuk gelombang kedua...”&lt;br /&gt; “Dan kapal itu tidak pernah ada lagi, Bu?”&lt;br /&gt; Ibu memandangku. “Iya....” katanya. “Dan ayahmu ternyata tidak bisa menyusul kita di sini...” suaranya terdengar lirih dan serak, menahan tangis. “Tapi Ibu selalu yakin, ayahmu pasti akan menyusul kita di sini...”&lt;br /&gt; Hampir tengah hari, aku sudah melewati Bukittinggi dan sebentar lagi akan sampai di Danau Maninjau. Kabut tebal menutup Maninjau, terlihat dari pemandangan di  Kelok Ampek-ampek.2) Air danau yang biasanya tenang, tak terlihat dari atas bukit. Terlihat di setiap kelokan ada rambu-rambu bertuliskan “Hati-hati” karena di kelokan ini sering terjadi kecelakaan. Setiap akan ke Tongar, aku memilih melewati jalan memotong ini karena setelah Maninjau, akan sampai ke simpang dekat Lubuk Basung dan setelah itu jalan akan lurus sepanjang lebih kurang 70 Km menuju Tongar.3) &lt;br /&gt; Ketika aku tamat SMA dan kemudian melanjutkan kuliah di Padang, berat rasanya meninggalkan ibu sendirian. Namun kakek dan nenek serta saudara-saudara ibu meyakinkanku bahwa ibu akan baik-baik saja bersama mereka. Jarak Tongar dengan Padang tidak terlalu jauh, dengan bus sekitar lima jam, dan hampir setiap bulan aku pulang. Ibu sering bercerita bahwa ketika aku kecil dan sekian tahun tak ada tanda-tanda ayah akan menyusul kami, kakek dan nenek selalu mendesak agar ibu menikah lagi karena banyak lelaki yang menginginkan ibu. Aku tahu, ibu sangat cantik. Bahkan di masa tuanya, garis-garis kecantikannya mengingatkanku pada seorang bintang film idolaku yang main di film The House of The Spirits dan Out of Africa, yaitu Marryl Streep. &lt;br /&gt; Kata ibu ketika itu, “Mereka tak tahu apa itu cinta dan nikmatnya menyimpan harapan sepanjang hidup. Kalau Ibu mau, Ibu bisa mendapatkan lelaki seperti apapun yang Ibu inginkan. Tetapi lelaki yang selalu Ibu inginkan hanyalah ayahmu. Cah Bagus, jika kamu memiliki cinta untuk seseorang, kejarlah cinta itu dan jangan lepaskan. Kamu akan bahagia bersama cinta itu, meski akhirnya suatu saat kalian akan terpisah...” Aku hanya mengangguk ketika itu dan masih sempat melihat ibu menoleh ke arah lain. Matanya basah.&lt;br /&gt; Ketika aku tamat kuliah dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan pengeboran minyak di Pekanbaru, aku ingin membawa ibu ikut bersamaku. Ketika itu,  persoalan tanah di Tongar sedang rumit. Ada perusahaan perkebunan sawit yang mengincar tanah orang-orang Tongar dan sekitarnya yang akan dijadikan perkebunan dan mereka telah mendapat izin dari pemerintah, hanya saja penduduk Tongar berkeras menolaknya. Aku tidak ingin ibu ikut dalam konflik itu.&lt;br /&gt;  Namun ibu menolaknya dan mengatakan dia akan tetap di Tongar, dia ingin ketika ayahku datang, dia ada di sana. Hatiku tersayat mendengar itu. Begitu besarnya cinta ibu untuk ayah. Adakah seseorang yang mencintai hingga seperti itu? Namun ketika ibu mulai sakit-sakitan, aku memaksa membawanya ke Pekanbaru meski ibu menolaknya. Aku tahu, aku  telah mencabut semua impian dan harapannya ketika akhirnya aku merawatnya di sebuah rumah sakit di Pekanbaru. Aku hanya ingin dekat dengannya. Ibu selalu mengatakan, jika nanti dia meninggal, dia ingin dimakamkan di Tongar, dekat dengan makam kakek dan nenek. &lt;br /&gt; Dan pada sebuah malam, setelah sekitar dua bulan dirawat, ibu mengatakan tiba-tiba sangat rindu kepada ayah. “Ibu tadi malam bertemu ayahmu. Dia mengajak ibu pulang ke Tongar. Ayahmu sudah berada di Tongar, Cah Bagus...” Namun kemudian dia mengusap rambutku, “Kamu harus ingat, cinta yang membuat orang hidup bahagia atau tidak. Bukan pekerjaan yang mapan, harta yang melimpah dan semua kesenangan. Cinta, Cah Bagus. Cinta...”&lt;br /&gt; Esoknya, aku mengantarkan jenazah ibu ke Tongar. Ketika dia mengusap rambutku perlahan-lahan, aku tertidur, dan paginya ketika aku bangun, tangan ibu masih di kepalaku. Kulihat matanya terpejam dan bibirnya menyunggingkan senyum. Tetapi aku sadar, ibu telah benar-benar meninggalkanku.&lt;br /&gt; Aku sudah sampai Simpang Empat, dan dalam hitungan menit, akan sampai ke Tongar. Sejak dari Simpang Lubuk Basung tadi, hujan terus turun meski tidak terlalu deras. Langit menghitam sepanjang perjalanan melewati hamparan kebun sawit yang kini mulai berbuah. Setiap tahun aku pulang melewati jalan ini, memang selalu ada perubahan pada pokok-pokok sawit itu.&lt;br /&gt; Namun, ketika sampai di Simpang Air Gadang menuju Tongar, aku melihat keanehan. Keanehan itu semakin nyata ketika aku benar-benar memasuki Tongar. Terlihat hamparan luas tanah bekas geledoran buldozer dengan sawit-sawit muda dan baru tumbuh, nampaknya belum lama ditanam. Cepat-cepat aku menginjak gas mobil menuju tempat pemakaman umum di mana makam ibu dan keluarga besar kami ada di sana. Dan aku benar-benar tercekat ketika melihat pemandangan itu. Pemakaman umum itu telah rata dengan tanah, dan sawit-sawit muda telah tumbuh di atasnya.&lt;br /&gt; Cepat-cepat aku memutar mobil dan berusaha mencari tahu di mana makam-makam itu dipindahkan. Dan ledakan tangisku tak bisa kucegah ketika Om Maksum, adik ibu, menjelaskan bahwa ketika masyarakat masih berusaha mempertahankan tanah mereka, malam hari beberapa bouldozer telah meratakan kuburan itu dan tak ada yang sempat memindahkan kuburan keluarganya. “Maafkan kami. Kami juga tak sempat memindahkan makam ibumu,  juga kakek dan nenekmu...”&lt;br /&gt; Hujan semakin deras, dan seperti orang gila, aku berlari ke sana-sini di bekas makam yang kini ditanami sawit itu. Kucabuti sawit-sawit itu dan kulemparkan ke segala arah. Aku menangis sejadi-jadinya dan kemudian terduduk di tanah basah yang telah menjadi lumpur. Haruskah aku menggali seluruh tanah bekas pemakaman ini untuk mencari kerangka ibu?&lt;br /&gt; Senja sudah hampir habis, namun hujan tak juga berhenti. Ketika hari benar-benar gelap, Om Maksum dan beberapa orang kampung datang dan bermaksud mengajakku pulang. Namun, dengan suara nyaris tak terdengar, kukatakan pada mereka, “Biarkanlah aku di sini malam ini. Aku ingin menemani ibu. Ibu ulang tahun hari ini...”***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 18 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1)Di bawah pimpinan Ketua Yayasan Tanah Air, JW Kariodimedjo, rombongan berjumlah 1.014 orang itu berangkat dari pelabuhan di Paramaribo menuju Teluk Bayur di Padang. Setelah singgah di Amsterdam dan Tanjung Pengharapan (Afrika Selatan), pada 5 Februari 1954, kapal sampai di Teluk Bayur dan jumlah mereka menjadi 1.118 orang karena ada empat bayi yang lahir di kapal. Setelah menginap di Padang beberapa hari, kapal kemudian berlayar menuju pelabuhan kecil di Sasak dan sampai pada 12 Februari 1954 sebelum akhirnya berangkat menuju Desa Tongar di Kenagarian Air Gadang di Simpang Empat. Ini adalah kepulangan pertama dan terakhir orang Jawa dari Suriname. Setelah rombongan pertama ini berangkat, tidak ada rombongan kepulangan lagi, karena banyaknya pemberontakan sparatis di Indonesia seperti DI/TII, Republik Maluku Selatan, PRRI/Permesta hingga G 30 S/PKI, membuat mereka ketakutan. Koran-koran di Suriname memberitakan bahwa terjadi perang saudara di Indonesia. Lebih lengkap baca Salikin Mardi Harjo, Bunga Rampai dari Suriname (Balai Pustaka, 1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2)Kelok Empat-empat. Ada 44 kelokan (belokan) menuju Danau Maninjau dari arah Bukittinggi, Sumatera Barat. Ini adalah salah satu kawasan wisata yang sangat menarik di Kabupaten Agam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3)Dari Bukittinggi, ada tiga jalan menuju Tongar. Selain lewat Maninjau, ada jalan lewat Simpang Lubuk Alung melewati Padangpanjang dan Sicincin yang nantinya akan sampai ke simpang Simpang Lubuk Basung. Jalan lainnya adalah dari Bukittinggi menuju Lubuk Sikaping, dan baru menuju Simpang Empat. Kedua jalan ini lebih jauh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-3110595017558341284?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/3110595017558341284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=3110595017558341284' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/3110595017558341284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/3110595017558341284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/11/rendezvous.html' title='Rendezvous'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-797255471094496901</id><published>2007-06-19T10:05:00.000-07:00</published><updated>2007-06-19T10:07:04.137-07:00</updated><title type='text'>Mayat di Kereta Api dan Lelaki Tua yang Selalu Menunggu</title><content type='html'>Hary B Kori'un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAYAT itu ditutup kain batik dengan dominasi warna hitam. Tidak terlihat jelas wajahnya, karena ditutup, juga seluruh tubuhnya. Hanya kedua telapak kaki dan jari-jarinya dengan kuku menghitam yang terlihat. Entah kenapa, tidak ada orang yang berani bertanya, dan mungkin tidak ada gunanya bertanya, kenapa kedua kakinya tidak ditutup seperti bagian tubuh yang lain. Padahal di dekat mayat itu, ada seorang laki-laki tua, sangat tua, dengan gigi yang nyaris habis, kedua pipi cekung, memakai topi lusuh warna hitam. Ada tongkat terbuat dari kayu, yang juga sudah kelihatan lusuh. Seluruh pakaian yang dikenakannya juga berwana hitam, bahkan tas kain kecil, yang juga lusuh, juga berwarna hitam.&lt;br /&gt; Laki-laki itu duduk bersila di sudut gerbong, sambil sekali-kali memegang kepala mayat yang ditutup kain batik hitam itu. Anehnya, tidak tercium bau busuk dari mayat itu, juga dari laki-laki itu. Padahal, sudah menjadi hal yang lumrah, bau keringat dan bau busuk lainnya cukup menyengat ketika orang-orang mulai berjubelan masuk, ada yang duduk, tetapi lebih banyak yang berdiri. Bahkan banyak juga yang tidak mendapat tempat, hanya sekedar berpegangan. Namun tetap ada tempat untuk laki-laki dan mayat di dekatnya itu. Paling tidak, hampir semua orang yang menggunakan jasa kereta api dari kota itu untuk bekerja di Jakarta,  setiap hari pasti melihat lelaki tua dan mayat itu tetap di  situ. Tentu mereka yang mendapat tempat di gerbong itu. Hanya posisinya saja yang kadang berubah. Kalau tidak di sudut kanan, pasti di sudut kiri.&lt;br /&gt; Lelaki itu hanya diam, memandang ke orang-orang yang selalu berebutan tempat ketika pagi menuju Jakarta, dan sore ketika pulang. Barangkali juga ketika siang hari penumpang kereta agak lengang. Dia tidak pernah melakukan aktifitas apa-apa selain sekali-kali memegang kepala mayat di dekatnya, atau meletakkan kepala mayat itu ke pahanya, seperti memberi bantal. Dia tidak meminta-minta seperti banyak pengemis yang turun-naik di setiap stasiun, atau banyaknya orang yang meminta sumbangan macam-macam, baik untuk pesantren, membangun masjid atau untuk anak yatim. Biasanya mereka menggunakan peralatan elektronik yang dirakit secara manual. Bahkan ketika kakinya nyaris terinjak oleh sekelompok anak muda yang dengan bangganya mengamen dengan peralatan musik lengkap sebagaimana kelompok musik terkenal, dengan asesoris yang rumit --ada rantai yang ditalikan di saku yang dihubungkan dengan tempat ikat pinggang, gelang di tangan yang jumlahnya banyak dan warna-warni, telinga ditindik bahkan lebih dari satu, cincin dan asesoris lainnya--- lelaki tua itu tetap diam. Memang, kadang-kadang anak-anak muda yang mengamen itu bertindak kasar dan mengganggu penumpang, bukannya menghibur. Pernah seorang pedagang ayam marah-marah di suatu pagi, karena tumpukan keranjang berisi ayamnya ditabrak oleh sebuah kelompok musik di kereta api itu, hanya karena menghalangi jalan mereka.  Namun, lelaki tua itu tetap tidak bergeming, tetap tenang tanpa melakukan apapun. Selain memegang kepala mayat di dekatnya, dia juga kadang minum air putih dari dalam botol air yang sudah nampak menguning.&lt;br /&gt; Mula-mula, memang para penumpang lebih memperhatikan lelaki tua dan mayat itu ketimbang pengamen, penjual koran, peminta bantuan atau pengemis yang lalu-lalang. Karena, pasti aneh ada mayat ditunggu seorang laki-laki tua, berhari-hari tidak membusuk dan selalu menebarkan bau wangi. Logikanya, semakin lama daging mati dibiarkan, pasti akan membusuk dan menebarkan bau yang tak sedap. Namun ini tidak, bahkan orang-orang yang biasanya menutup hidung karena bau keringat bercampur bau lainnya, kini mereka justru menghirup dalam-dalam.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; AWALNYA seorang gadis cantik yang juga berpakaian serba hitam --yang ini seragam di sebuah kantor swasta— yang bertanya kepada lelaki itu, di suatu pagi.&lt;br /&gt; “Mayat ini saudara Bapak?”&lt;br /&gt; Laki-laki itu menggeleng.&lt;br /&gt; “Mengapa tidak dikuburkan saja?”&lt;br /&gt; Lelaki tua itu hanya memandang gadis cantik itu. Tanpa jawaban.&lt;br /&gt; “Saya ingin menolong, apa yang bisa saya bantu?”&lt;br /&gt; Tetap tidak ada jawaban.&lt;br /&gt; “Saya hanya punya uang ini, barangkali bisa membantu membeli kain kafan…” Gadis cantik itu memasukkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan ke saku baju yang lusuh itu. Tidak ada rasa canggung dalam gerakannya sehingga justru mengundang perhatian hampir semua penumpang. “Tidak baik membiarkan mayat begitu lama tidak dikubur, Bapak. Kita semua akan menanggung dosanya. Nanti bawalah pulang, barangkali di luar kota masih ada tempat pemakaman yang murah…” Gadis cantik itu kemudian turun di Stasiun Gambir.&lt;br /&gt; Sore harinya, seorang ustad dengan pakaian serba putih yang mendekati laki-laki tua itu. “Pak Tua, tidak baik kita membiarkan orang yang sudah meninggal. Rohnya akan tersiksa, kita harus lekas-lekas membumikannya, karena asalnya dari bumi. Bukan hanya Bapak yang menanggung dosa kepada Allah, kita semua. Tolonglah Pak, biarkan kami menguburnya di kampung kami kalau memang Pak Tua tidak bisa menguburkannya.”&lt;br /&gt; Namun lelaki tua itu tetap diam.&lt;br /&gt; Pagi berganti siang. Siang menjadi senja dan terbitlah malam. Pagi-pagi, kembali para penumpang kereta api mendapati lelaki tua itu tetap di gerbong pertama, menunggu mayat yang hanya nampak telapak kaki dan kukunya yang kelihatan menghitam. Lama-lama, karena mayat dan lelaki tua itu malah menyebarkan bau yang wangi, para penumpang tidak merasa terganggu dengan kehadirannya. Yang mengganggu mereka tetap saja pengemis yang lalu-lalang, peminta sumbangan yang turun-naik atau kelompok pengamen yang merasa lebih hebat dari grup musik manapun. Namun, kadang-kadang, tetap saja ada yang membicarakannya.&lt;br /&gt; “Kasihan Pak Tua itu. Apakah mayat itu bagian dari keluarganya?” Seseorang bertanya, entah kepada siapa.&lt;br /&gt; “Tetapi mengapa gosong? Seperti habis terbakar?” Terdengar yang lainnya.&lt;br /&gt; “Mungkin korban perkosaan.”&lt;br /&gt; “Korban perkosaan tak mungkin gosong. Pasti dia dibunuh dan kemudian dibakar.”&lt;br /&gt; “Tepatnya diperkosa dulu, kemudian dibunuh dan dimasukkan ke dalam api. Supaya tak berjejak.”&lt;br /&gt; “Mungkin juga bukan korban perkosaan dan pembunuhan. Mungkin benar-benar terbakar karena kecelakaan.”&lt;br /&gt; “Mungkin korban kerusuhan yang membakar Jakarta dulu.”&lt;br /&gt; “Ah, itu sudah lama. Sudah berganti tahun. Tak mungkin-lah…”&lt;br /&gt; “Siapa tahu?”&lt;br /&gt; “Tapi kok baunya wangi, ya?”&lt;br /&gt; “Hiii… bulu kudukku berdiri…”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; HINGGA di suatu siang yang agak lengang, datanglah seorang lelaki muda, duduk di kursi dekat lelaki tua itu duduk di lantai gerbong. Wajahnya tampan, bersih, seperti habis bercukur karena di janggut dan di antara bibir dan hidungnya terlihat warna agak membiru. Rambutnya hitam tebal, terlihat basah dan disisir kelimis ke belakang. Dia memakai jas warna hitam yang melapisi baju putih bersih. Celana yang dipakainya juga sewarna dan sejenis dengan jasnya. Di tangannya ada sebuah biola dan penggeseknya. Semua penumpang –jumlahnya tidak lebih dari 20 orang di gerbong itu— melihatnya dengan seksama.&lt;br /&gt; “Siapapun mayat yang Bapak tunggui, saya tidak peduli. Tetapi saya tahu, Bapak pasti lelah berhari-hari, bahkan mungkin telah berbulan-bulan, duduk, hanya minum air putih, tidak melakukan gerakan yang berarti dan tak menghiraukan apa dan siapapun di gerbong kereta api ini. Padahal manusia hidup butuh makan, minum, bergerak dan berhubungan dengan orang lain. Tetapi saya tahu, Bapak pasti terluka atas kematian orang ini. Dan saya yakin orang ini pasti pernah begitu berarti dalam kehidupan Bapak…”&lt;br /&gt; Semua orang dengan seksama mendengarkan kata-kata lelaki muda tampan itu. Sementara lelaki tua itu tetap diam dengan tatapan lurus searah mukanya. Kosong.&lt;br /&gt; “Bapak, kita orang-orang terluka, tetapi jangan lihat pakaian dan alat yang saya bawa. Percayalah, kita sama-sama terluka. Oleh nasib, dan barangkali oleh ketidakberuntungan. Kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa, karena memang tidak ada yang salah. Jika luka membuat Bapak tetap duduk di sini berhari-hari, berminggu bahkan hampir genap tiga bulan ini, luka juga yang membuat saya berkeliling memainkan biola ini, menghibur siapa saja yang mau mendengarkannya. Kita dipermainkan oleh nasib, dan saya mempermainkan biola ini, dan orang-orang mendengarkan. Bapak, saya ingin memainkan untuk Bapak…”&lt;br /&gt; Kemudian terdengar sebuah komposisi yang aneh. Mula-mula gesekan itu datar, namun tiba-tiba menukik dan tak beraturan, naik-turun. Seterusnya, terdengar sebuah rintihan perih. Perih yang muncul dari sebuah luka. Luka yang datang karena sebuah cinta, dan cinta itu menyisakan ngilu. Terbayang sebuah pertemuan, kindahan, kegelisahan dan perpisahan. Di sebuah kota kecil bersalju. Entah di mana.  Beberapa saat kemudian, semua orang di gerbong itu tak sadar kalau air mata mereka sudah mengalir. Ada yang terasa luka di dada mereka masing-masing, entah luka apa. Ada yang terbayang pada masa lalu, pada luka karena kemiskinan; luka dikhianati; luka ditinggalkan; luka perpisahan; luka kehilangan kasih sayang; luka yang kadang tak bermakna apa-apa, namun terasa menyayat: luka semua orang.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; AKU kisahkan ini kepadamu, Ira, sebab aku merasa terasing di  sini, di sebuah kota pelarianku sekian tahun ini, hanya karena ketakutan bertemu kembali denganmu. Sebab, bertemu kembali denganmu hanya akan menyisakan perih dan ngilu: sebuah luka yang selalu basah, tidak kering oleh betadin dan tidak sembuh oleh balutan perban sutra, sekalipun. &lt;br /&gt; Mulanya, aku tidak percaya dengan cerita dari mulut ke mulut itu. Bahwa ada seorang lelaki tua yang setiap hari menunggui mayat menghitam berbau wangi, di sebuah gerbong kereta api, setiap hari. Ketika kemudian aku penasaran dan naik kereta api itu, ternyata aku tidak menemukan apapun, juga lelaki tampan yang memainkan komposisi aneh itu. Yang kutemui tetap sama: penumpang yang berdesakan, pengamen yang kadang egois, pengemis yang tidak pernah habis, pencari sumbangan yang tak kenal lelah, penjual teh botol yang sering kehausan atau penjual koran yang malas membaca. Selalu itu. Aku menjadi kecewa.&lt;br /&gt;Dari mulut ke mulut pula, beberapa bulan kemudian,  tersiar kabar, bahwa  di sebuah kampung di pinggir kota, terdapat tiga gundukan tanah yang masih memerah. Penduduk kampung itu menjelaskan, mereka menemukan seorang lelaki tua memegang botol minuman, seorang lelaki muda memegang biola dan seorang wanita yang gosong dan telanjang, terlempar dari gerbong sebuah kereta yang sedang melaju kencang. Mereka semua sudah mati, dan kemudian dikuburkan di kampung itu. Aku tidak ke sana, karena aku yakin, seperti yang terjadi sebelumnya, bahwa aku tidak akan menemukan apa-apa. Karena kabar itu kudapatkan dari mulut ke mulut. Namun, kabar yang lain mengatakan, mayat yang ditunggui lelaki tua itu --juga sering didatangi pemuda tampan pemain biola itu— masih berada di salah satu gerbong sebuah kereta hingga sekarang.&lt;br /&gt;Ira, jangan percaya dengan kabar yang datang dari mulut ke mulut. Dan jika pun engkau membaca cerita ini, jangan cepat percaya. Sebab, saat ini aku memang menjadi tukang kabar, profesi baru yang kujalani di kota ini. Karena aku tidak punya teman untuk bercerita lagi setelah sekian tahun aku pergi menjauhimu. Dan jika suatu saat kamu datang ke kota ini, berkesempatan  naik sebuah kereta api jurusan luar kota, jangan terkejut kalau kamu ketemu lelaki tua yang sedang menunggui mayat itu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, Maret 2005-November 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-797255471094496901?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/797255471094496901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=797255471094496901' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/797255471094496901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/797255471094496901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/06/mayat-di-kereta-api-dan-lelaki-tua-yang.html' title='Mayat di Kereta Api dan Lelaki Tua yang Selalu Menunggu'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-3521503005761790444</id><published>2007-06-12T11:10:00.000-07:00</published><updated>2007-06-12T11:11:56.051-07:00</updated><title type='text'>Wanita dengan Pisau Menancap di Dadanya</title><content type='html'>Cerpen Hary B Kori’un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MEMANG, aku sendiri semula tidak percaya dengan cerita dari mulut ke mulut yang berkembang begitu luas di seluruh kota. Bahwa wanita itu benar-benar ada, benar-benar hidup dan selalu menyanyikan lagu sedih, kadang lagu populer, jazz, kadang juga dangdut. Dia selalu mendatangi tempat-tempat di mana ada musik dimainkan; mulai dari panggung organ tunggal di tempat-tempat kawinan, sampai ke pub-pub yang berada di pusat kota. Suaranya merdu dan mengundang ngilu bagi yang mendengarkannya. Namun, bukan itu yang membuat aku dibuat penasaran.&lt;br /&gt; “Dia cantik. Wajahnya segar dengan pipi bersemu merah, tatapan mata yang sendu, bibirnya merah muda dan membasah, bodinya tinggi langsing dengan buah dada yang seimbang: tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu rata, betisnya seperti kaki belalang, rambutnya panjang sepunggung. Tapi…”&lt;br /&gt; “Tapi kenapa?” tanyaku antusias dan tak sabar ketika mendengar cerita itu dari temanku.&lt;br /&gt; “Dia terluka.”&lt;br /&gt; “Terluka? Luka betulan?”&lt;br /&gt; “Ya. Luka betulan, di dadanya…”&lt;br /&gt; “Di dadanya?”&lt;br /&gt; “Ada pisau kecil yang menancap di dadanya, persis di antara dua payudaranya. Ada warna merah darah yang membasahi gaunnya, dan meskipun dia berganti-ganti gaun, pisau itu tetap menancap di sana…”&lt;br /&gt; “Mengapa tidak dicabut?”&lt;br /&gt; “Entahlah. Menurut kabar yang kuperoleh, dia sudah berusaha sendiri mencabut pisau itu, namun tidak bisa. Puluhan bahkan ratusan bidan di puskesmas dan dokter-dokter bedah hebat juga tak bisa mencabutnya, meski dilakukan operasi bedah sekalipun. Mungkin rasa sakit karena pisau itu yang membuat dia selalu menyanyikan lagu-lagu sedih setiap dia bernyanyi di manapun. Suaranya sangat merdu, tetapi menyayat hati. Sekali-kali, kamu harus melihat wanita itu sendiri, lihatlah dadanya, dengarkan suara sedihnya yang membuat hati kita ngilu…”&lt;br /&gt; “Oooo…”&lt;br /&gt; Aku benar-benar penasaran. Suatu malam yang gerimis, aku pergi ke sebuah kafetaria yang tidak terlalu ramai di pusat kota. Ketika aku masuk, suasana cukup meriah, meski tak ada suara yang keras terdengar. Banyak pasangan muda-mudi yang berada di sana. Ada yang duduk berhadapan sambil berpegangan tangan dan cerita tentang mawar yang indah, segar, sambil sesekali berbisik. Aku mendengarnya, “Semoga cinta ini tidak berakhir, Sayang…” Di sudut lain, sepasang kekasih yang sangat serasi –yang lelaki gagah dan ganteng dan si wanitanya mirip Luna Maya-- juga sedang menaburkan bunga  melati dengan aroma cinta yang menebar ke mana-mana, “Semoga cinta kita abadi. We don’t say goodbye… With all my love for you…”  Aku benar-benar iri. Hampir seluruh yang ada di pub tersebut berpasangan: lelaki dan wanita, dan hampir tak ada yang datang sendirian. Aku yang sendirian. &lt;br /&gt;Teman-temanku mengatakan, dia pernah melihat wanita itu menyanyi di kafe itu. Dia menyanyikan lagu cinta yang patah. Cinta yang remuk  dan hancur, yang selalu dibawanya ke manapun pergi, dengan darah yang selalu menetes di dadanya, karena sebuah luka akibat pisau kecil yang selalu menancap di sana.&lt;br /&gt; Tiba-tiba, di atas panggung yang nampak remang-remang karena cahaya yang dibuat sedemikian rupa, seorang wanita duduk di sebuah  kursi yang agak tinggi dengan membawa sebuah gitar akustik. Aku tidak tahu apakah wanita ini yang sering dikatakan teman-temanku; wanita yang selalu menyanyikan lagu sedih, dengan pisau kecil menancap di dadanya. Namun, dari bisik-bisik banyak orang di situ, aku berkesimpulan, mungkin benar wanita ini. Tetapi, adakah benar ada pisau kecil yang menancap di dadanya? Dari jarak pandang sekitar sepuluh meter dan cahaya lampu yang remang-remang, aku tidak bisa melihat hal itu. Namun, bisikan-bisikan mereka yang sepertinya pernah melihat wanita itu bernyanyi, benar mengarah ke situ. &lt;br /&gt; “Kasihan dia, sepanjang hidupnya dilalui untuk membawa lukanya,” kata seseorang dengan suara pelan, nyaris berdesis, yang berada di samping kananku.&lt;br /&gt; “Lelaki yang mengkhianatinya sungguh keterlaluan. Kurang apa baiknya dia?” kata yang lainnya.&lt;br /&gt; “Mungkin dia bukan dikhianati kekasih atau suaminya. Mungkin dia kehilangan pegangan hidup karena keluarganya menjadi korban peristiwa kerusuhan yang pernah membakar kota…”&lt;br /&gt; “Ah, itu sudah lama sekali. Tak mungkin…”&lt;br /&gt; “…”&lt;br /&gt; Aku mendengarkan semua bisik-bisik itu, hingga kemudian semuanya diam ketika suara wanita itu terdengar di mikrofon. “Saya berdiri di sini, bukan hendak mengajak Anda semua ikut bersedih. Ini mungkin garis nasib saya…” Suaranya sangat indah, merdu dan segala yang indah lainnya yang tak dapat kucari padanannya. Kemudian terdengar sebuah lagu sendu keluar dari mulutnya. What can I do about it, now it's all over… &lt;br /&gt; Semua yang ada di kafe itu, juga aku, terasa tersihir dengan lagu yang sangat populer itu. Bahkan ketika kemudian wanita itu pergi dan tak ada lagi di panggung, aku –juga orang-orang itu— masih belum menyadarinya. Hingga kemudian, kami sama-sama seperti dibangunkan dari kelenaan, kami seperti dibangunkan dari tidur, dari mimpi muram, namun terasa indah. Anehnya, kami semua, juga aku, hampir bersamaan mengusap air yang meleleh di pipi kami masing-masing. Kami menangis, tetapi tak tahu untuk apa dan karena apa.&lt;br /&gt;Ya, aku tak menemukan wanita itu ada di panggung, sehingga aku tidak bisa memastikan apakah benar wanita itu wanita yang diceritakan oleh temanku. Dari jarak sepuluh meter dari tempat dudukku dan cahaya lampu yang remang-remang, aku benar-benar tidak bisa memastikan apakah wanita itu benar-benar terluka dengan pisau kecil menancap di dadanya, persis di antara dua payudaranya yang seimbang: tidak terlalu besar dan tidak terlalu rata itu, meski aku juga tidak bisa melihat jelas seberapa besar ukuran ‘tidak terlalu besar dan  tidak terlalu rata’ itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; SIAPA yang percaya dengan cerita ini? Kamu pasti tak percaya, sebab aku sendiri masih belum percaya sepenuhnya meski aku melihat dan mendengarkan sendiri wanita dengan pisau menancap di dadanya itu. Dan ketika bertahun-tahun kemudian aku menjauh dari kota tempat wanita itu, kenangan dan ingatan tentangnya juga tak pernah hilang. Aku tidak tahu, mengapa ingatan itu begitu lekat, bahkan secara detil aku masih ingat persis –meski ketika itu aku melihatnya dari jauh dan dari remang cahaya lampu pub— bahwa benar-benar ada yang luka pada wanita itu.&lt;br /&gt; Suatu pagi, seorang teman di kantor mengabarkan bahwa dia melihat wanita dengan pisau yang menancap di dadanya dan suka menyanyikan lagu sedih itu. “Benar. Ketika kamu pernah becerita tentang wanita itu, dulu aku tak percaya. Tapi tadi malam, ketika aku minum di bar, wanita itu benar-benar ada dan menyanyikan lagu sedih yang membuat semua yang hadir di situ meneteskan air mata. Suaranya seperti menyihir, merogoh jantung dan hati seluruh yang hadir dan membuat semuanya bersedih...”&lt;br /&gt; “Kamu mengarang. Wanita itu berada di kotaku, Pekanbaru, beberapa tahun lalu, dan jaraknya dari sini ribuan kilometer. Tak mungkin dia berada di kota ini sekarang,” kataku.&lt;br /&gt; “... dan meneteskan air mata. Di dadanya ada pisau kecil yang menancap di antara payudaranya, dan selalu meneteskan darah segar. Tetapi dia tidak menghiraukannya, dan dia masih terlihat cantik meskipun dengan pisau dan darah itu. Tetapi aku tahu, bukan hanya dadanya yang sakit, pasti seluruh hidupnya selama ini juga dirudung kesakitan...”&lt;br /&gt; Ingatan tentang wanita itu semakin lekat di kepalaku dan membuat aku kemudian keluar rumah menuju stasiun. Entah mengapa, tiba-tiba aku ingin pergi menjauh dari kota ini, dari cerita tentang wanita itu. Aku merasa tak mampu mendengarkan cerita tentangnya,  apalagi melihat wajahnya lagi. Aku pergi ke kota lain dan menetap di sana. Namun, selalu saja di kota baru yang kusinggahi, aku selalu mendengar cerita tentang wanita dengan pisau yang menancap di dadanya dan selalu mengeluarkan darah segar itu.&lt;br /&gt; Hingga akhirnya aku memilih berhenti mengembara menjauhinya dan kembali ke kotaku di mana cerita awal tentang wanita itu muncul beberapa waktu lampau. Namun, ketika kembali ke sana, cerita tentang wanita itu tak pernah berhenti keluar dari mulut orang-orang di kotaku. Hampir semua orang yang kutemui bersedih dan meneteskan air mata: mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mereka semua mengatakan merasa teriris hatinya ketika mendengarkan wanita itu menyanyi, lagu apa saja.&lt;br /&gt; Aku merasakan, kotaku tiba-tiba berubah menjadi kota yang sedih dan penuh air mata. Tidak ada orang yang tertawa atau tersenyum, semuanya bersedih, menangis dan air matanya tumpah. Ini jelas sebuah bencana. Mengapa kesedihan menular ke mana-mana, dan mengapa semua orang harus menangis ketika mendengarkan ia menyanyi, sedang dia sendiri tidak menangis dan sepertinya kuat dengan penderitaannya itu?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; KOTAKU kemudian menjadi sebuah kota yang aneh. Dan anehnya, wabah kesedihan ini juga menjalar di kota-kota lain, kota-kota yang pernah disinggahi oleh wanita itu. Dan yang membuat sangat aneh, semuanya dalam saat yang bersamaan. Apakah wanita dengan pisau menancap di dadanya itu lebih dari satu orang?&lt;br /&gt; “Tidak, dia cuma satu orang. Dia tidak ke mana-mana, tetapi dia  berada di mana-mana,” kata seorang kyai yang sempat bercerita denganku di sebuah masjid.&lt;br /&gt; “Kesedihannya sudah menjadi kesedihan semua orang,” kata seorang pastor ketika aku lewat di depan sebuah gereja.&lt;br /&gt; “Di setiap tempat di mana dia menyanyi dan darahnya sempat menetes di sana, dipastikan masyarakatnya pasti bersedih...” yang ini kata seorang ahli sosiologi yang aku sendiri tidak peduli siapa namanya.&lt;br /&gt; “Jika dibiarkan dan tak ada penanganan secara sungguh-sungguh, seluruh dunia akan bersedih karena hampir semua televisi menyiarkannya. Orang yang melihat di televisipun akan menangis dan bersedih. Dan jika itu terjadi, dampaknya akan lebih dahsyat dari Perang Dunia atau krisis ekonomi dunia,” kata seorang ahli politik nasional ketika berpidato di televisi.&lt;br /&gt; Banyak komentar lagi dari berbagai kalangan, mulai dari rohaniawan, politikus, olahragawan, musisi, ekonom, psikolog dan lain sebagainya. Intinya, mereka menyerukan agar kesedihan wanita itu dihentikan, dan dia tidak diberi izin untuk bernyanyi dan darah yang menetes dari dadanya tidak boleh menyentuh tanah. Tetapi, bukankah ini akan melanggar hak asasi wanita itu? “Tidak, ini tidak melanggar HAM karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” kata salah seorang pakar HAM.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; SUATU ketika, aku menemui wanita itu dan berbicara dengannya beberapa saat setelah dia bangun pagi dan aku sengaja menungguinya di depan pintu rumahnya.&lt;br /&gt; Aku heran, dia terkejut ketika melihat wajahku dan mengatakan untuk apa aku datang lagi. “Kita memiliki kehidupan masing-masing. Aku tidak menggangu kehidupanmu lagi, dan jangan ganggu kehidupanku...” katanya dengan suara sedih. Aku melihat, memang pisau kecil itu benar-benar menancap di dadanya, tetapi dia tetap segar dan tidak pucat sebagaimana orang yang darahnya bertahun-tahun menetes.&lt;br /&gt; “Kita? Bukankah kita  tak pernah saling jumpa?” Aku benar-benar dibuatnya terkejut karena tak menyangka dengan apa yang dikatakannya.&lt;br /&gt; “Kau pernah mengatakan kepadaku bahwa cintamu akan kau berikan kepada semua orang saat aku mengatakan jatuh cinta kepadamu. Dan setelah itu aku mencoba bunuh diri dengan pisau ini. Tetapi pisau ini tak bisa membunuhku, hanya melukaiku, dan aku tak bisa mencabutnya kembali. Aku sedih, sepanjang hidupku kuisi dengan caraku...”&lt;br /&gt; “Pasti bukan aku laki-laki yang membuatmu jatuh cinta itu...”&lt;br /&gt; Dia mengamati wajahku. Dia memegang telinga kiriku dan kemudian melihat bagian belakangnya. “Kaulah lelaki itu. Ada tahi lalat di belakang telingamu, dan aku juga masih merasakan bau tubuhmu hingga kini...”&lt;br /&gt; “Bukan aku! Sepanjang hidupku aku tak pernah bisa membuat seorang wanita jatuh cinta! Aku juga tak pernah bisa jatuh cinta kepada siapapun...”&lt;br /&gt; “Kau memang selalu mengatakan itu kepadaku, dulu...”&lt;br /&gt; Ketika aku membalikkan badan dan keluar dari pintu pagar rumahnya, aku mendengar isaknya. Tetapi aku tetap pergi dan merasa aku tak pernah mengenalnya kecuali hanya pernah melihatnya bernyanyi di pub malam itu...&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; BEBERAPA bulan kemudian, wanita itu tak terdengar lagi kabarnya. Dia tidak lagi menyanyi dan lambat-laun wabah sedih yang melanda beberapa kota pun terhenti. Aku tak tahu apa sebabnya, tetapi seorang dokter yang merawatku mengatakan bahwa wanita itu memang telah berhenti menyanyi dan pisau kecil di dadanya sudah bisa dicabut oleh seseorang yang tak pernah diketahui identitasnya.&lt;br /&gt; “Mungkin laki-laki yang dicintainya itu yang membuat dia bersedih. Tapi tidak ada yang tahu siapa laki-laki itu. Pastilah dia laki-laki hebat, karena selama ini tidak ada dokter yang bisa mencabutnya, meski di meja bedah sekalipun.  Menurut kabar lagi, wanita itu sudah hidup normal lagi dan mengajar sastra di sebuah universitas, pekerjaannya dulu sebelum dia mengembara dengan pisau di dadanya...”&lt;br /&gt; Aku tak ingin bercerita apa-apa lagi tentang wanita itu. Ketika aku mendengar kehidupannya sudah normal, aku sangat senang. Kata beberapa perawat yang menjagaku, katanya beberapa kali seorang wanita cantik datang menjengukku saat aku tertidur, dengan ciri-ciri yang bisa kupahami mirip ciri-ciri wanita itu. Tapi aku tak percaya karena aku tak pernah mengenalnya. Sungguh, aku tak pernah mengenalnya dan kami memang benar-benar tak pernah saling mengenal. Bahkan ketika kemudian dokter memvonis umurku hanya tinggal beberapa bulan lagi setelah penyakit aneh yang bersarang di tubuhku ini, aku tetap yakin bahwa aku benar-benar tidak mengenalnya. Tapi, benarkah aku memang sudah melupakan semua masa laluku ketika penyakit aneh itu menyerang otakku dan membuat aku harus terdampar di rumah sakit ini sejak beberapa bulan lalu?&lt;br /&gt; Entahlah. Aku ingin meyakinkan itu sebenarnya, sebelum aku benar-benar tak ingat apapun seperti saat ini.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, Juli 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-3521503005761790444?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/3521503005761790444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=3521503005761790444' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/3521503005761790444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/3521503005761790444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/06/wanita-dengan-pisau-menancap-di-dadanya.html' title='Wanita dengan Pisau Menancap di Dadanya'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-321042877969916300</id><published>2007-06-10T12:34:00.000-07:00</published><updated>2007-06-10T12:36:07.898-07:00</updated><title type='text'>Wanita Penunggu Kayutanam</title><content type='html'>Cerpen Hary B Kori’un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; SEBENARNYA SAYA tidak pernah yakin tentang cerita Yusrizal, teman dekat yang tahu bagaimana budaya Minangkabau dilahirkan, dan selalu mengatakan bahwa di tanah itu wanita begitu mendapat kehormatan dan dikultuskan. Katanya, negeri Minangkabau di zaman dahulu kala, diperintah oleh seorang ratu yang bernama Bundo Kanduang di Istana Pagaruyung (saat ini di Batusangkar). Sang Ratu, menurut ceritanya lagi, tidak pernah menikah, tetapi bisa melahirkan anak hanya karena meminum air kelapa yang –tanpa sepengetahuannya—telah disabda oleh dewa.&lt;br /&gt; Cerita Yusrizal pun lebih panjang lagi. Siti Nurbaya, katanya, adalah salah satu contoh betapa wanita Minang ditakdirkan untuk menjadi terkenal. “Kamu tahu, meskipun hanya sebuah fiksi Marah Rusli, tetapi Siti Nurbaya dianggap hidup, dibuatkan makamnya berdekatan dengan kekasihnya, Samsul Bahri, dan macam-macam lagi yang menggambarkan kehidupannya yang sangat terkenal itu. Kamu tahu ‘kan, dermaga Teluk Bayur tempat Siti Nurbaya melepas Syamsul ke Batavia dalam suasana yang amat romantik dan dramatis? Kamu besok kuajak ke sana…”&lt;br /&gt; Benar. Saya diajak ke Teluk Bayur. Tetapi saya tidak melihat bentuk kapal yang dalam cerita digambarkan sangat megah. Yang saya lihat di sana hanya kapal-kapal barang, perahu-perahu nelayan dan satu kapal Kambuna yang sedang berlabuh. “Masih banyak orang Padang yang pergi ke Jakarta naik kapal, Yus?” tanya saya.&lt;br /&gt; Yusrizal diam. Kemudian katanya, “Itulah yang aneh. Sangat jarang sekarang. Bahkan jadwal keberangkatan pun hanya sekali sepekan. Itu pun tidak pasti. Mereka tidak menghormati sejarah.”&lt;br /&gt; Sejarah? Saya tertawa dalam hati. Benarkah Siti Nurbaya memang pernah benar-benar hidup sehingga saya harus  melihat kuburannya di Gunung Padang? Kata teman-teman saya –dan juga dari buku-buku yang saya baca— Siti Nurbaya hanya tokoh fiktif, begitu juga dengan Bundo Kanduang atau dongeng Malin Kundang. Namun, ketika Yusrizal bercerita meyakinkan tentang  kehebatan wanita Minangkabau, saya menjadi ragu. “Bayangkan. Tidak ada di dunia ini sistem matrilinial dipakai oleh sebuah etnis manapun. Hanya di sini…” &lt;br /&gt; Saya mendengarnya dengan tersenyum. Maklumlah, saya tidak tahu banyak tentang Minangkabau.&lt;br /&gt; Tetapi ketika saya tanya mengapa di Minangkabau ada seorang ibu yang rela menjadikan anaknya sebagai batu seperti dalam dongeng Malin Kundang --Saya juga diajaknya ke Pantai Air Manis, tempat kapal Malin Kundang pecah karena menabrak karang dan kemudian menjadi batu--, Yusrizal bingung. “Kalau anaknya keterlaluan, wanita manapun akan rela menghilangkan kasih sayangnya, termasuk ibu Maling Kundang,” jawabnya.&lt;br /&gt; “Lho, bukankah kasih sayang ibu sepanjang jalan dan tak berbatas?”&lt;br /&gt; “Semua manusia punya batas kesabaran. Dan tidak ada manusia yang sempurna,” jawabannya diplomatis lagi. Saya diam, berusaha mengerti.&lt;br /&gt; Dalam saat-saat seperti ini, mengingat cerita Yusrizal ketika saya punya kesempatan ke Padang –dia selalu mengatakan bahwa Padang hanya sebuah kota, bukan sebutan resmi untuk etnis Minangkabau karena orang luar Minang selalu mengatakan orang Minang adalah orang Padang—dan diajak keliling Sumbar, memang sangat menyenangkan. Terutama pada saat-saat saya begitu kangen kepada Vera Olivia Danea, gadis cerdas yang selalu mengingatkan saya kepada sebuah wilayah bernama Kayutanam, tidak jauh dari Lembah Anai di lereng Gunung Singgalang.&lt;br /&gt; Saya juga sering berpikir,  benarkah Olivia benar-benar hidup dan nyata seperti yang  saya jumpai hampir satu pekan selama acara itu? Sebab, jika saya ingat-ingat cerita Yusrizal tentang wanita Minangkabau yang banyak  fiksinya,  saya menjadi ketakutan: jangan-jangan  Olivia hanya sebuah fiksi. Atau, jangan-jangan perjalanan saya ke ranah Minang itu juga hanya sebuah fiksi atau mimpi. Keraguan itu menjadi menguat, sebab hingga hari ini setiap saya berkirim surat ke alamat yang dia berikan, tidak pernah datang balasannya. Saya juga ingin dengar suaranya, tetapi dulu ketika saya meminta nomor teleponnya, dia bilang tidak punya.  Ingin kembali ke sana, saya menjadi serba ragu. Jangan-jangan… Ya, jangan-jangan Olivia memang hanya sebuah fiksi. Bahkan beberapa kali saya menghubungi Yusrizal dan menanyakan tentang Olivia, dia juga tidak pernah bertemu dan tidak tahu di mana rumahnya. Padahal jelas-jelas tertulis: Jl. Bagindo Azis Chan nomor 14, depan Lapangan Imam Bonjol, Padang.&lt;br /&gt; Jangan-jangan. Ah, tidak.  Saya pikir otak saya masih kompak. Tetapi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; SAYA TIDAK  ingin Olivia hanya sebuah fiksi atau seperti dongeng-dongeng berbau mistis tentang wanita Minang yang memiliki kekuatan luar biasa seperti cerita Yusrizal itu. Sebab, ketika saya berada di Kayutanam Olivia adalah sosok hidup yang tidak akan pernah saya lupakan sampai kapan pun.&lt;br /&gt; Waktu itu, saya begitu terkejut ketika tiba-tiba ia duduk di samping kanan saya ketika saya makan, dan ia mengatakan bahwa ia hanya ingin duduk, tidak hendak makan. Dia memang cantik dengan rambut sebahu dengan potongan tubuhnya yang ramping dan tinggi.&lt;br /&gt; “Dari Jakarta?” ia bertanya.&lt;br /&gt; Saya menghentikan makan sebentar dan menoleh kepadanya. “Tahu dari mana?”&lt;br /&gt; “Tampangmu mirip orang Jakarta…” Saya membatin, orang Jakarta memang seperti apa?&lt;br /&gt; Saya tersenyum, kemudian benar-benar menghentikan makan malam pertama di acara teresebut. Saya tertarik untuk bercakap-cakap panjang dengannya. Maklumlah, acara seperti ini sepi dengan perempuan cantik. Banyak perempuan yang datang, tetapi rata-rata mereka sudah berumur. Saya tidak suka gadis yang sudah berumur.&lt;br /&gt; “Dari Padang?”&lt;br /&gt; Dia mengangguk, kemudian memperlihatkan tanda pengenalnya. “Sejak pagi tadi ingin sekali saya duduk di sini,” katanya datar.&lt;br /&gt; “Maksudmu,  meja ini kesukaanmu?”&lt;br /&gt; “Iya.”&lt;br /&gt; “Oh, maaf. Saya tidak sengaja.”&lt;br /&gt; “Tidak apa-apa. Saya memang sedang butuh teman.”&lt;br /&gt; Ia kemudian mengajak saya berjalan-jalan keliling lokasi. Kami nonton teater anak-anak Unand yang dilatih Wisran Hadi sebentar, kemudian duduk di tempat orang-orang membaca puisi. Dia ikut membaca puisi dan saya memotretnya –hasilnya terpampang di pojok kamar saya dalam ukuran besar yang saya bingkai dengan rapi. Hampir tengah malam, ia mengajak naik ke bukit di belakang gedung INS. Di puncak bukit itu terdapat tugu kecil yang tingginya kira-kira tiga meter. Katanya, tugu itu dibuat untuk menandai hancurnya tempat pendidikan terkenal itu ketika dibumihanguskan tentara republik agar tidak dimanfaatkan oleh Belanda yang kembali ingin berkuasa.&lt;br /&gt; “Tempat ini sangat bersejarah,” katanya antusias. “Banyak orang Minangkabau yang kemudian menjadi orang besar, bersekolah di sini. Logika dan ketrampilan serta ketaatan diajarkan. Saya beruntung pernah sekolah di sini.” Dia seperti berpromosi dan saya sering hanya mengangguk. Dari bukit itu, terlihat INS seperti pasar malam, karena hingga menjelang fajar, banyak orang-orang yang tidak mau tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; PAGI-PAGI SEKALI  ia sudah berada di depan penginapan saya ketika saya akan mandi. Saya tersenyum dan kemudian mengatakan padanya bahwa saya lebih baik mandi dulu. Ia tersenyum sambil mengangguk.&lt;br /&gt; Ia mengajak ke Bukittinggi. Saya mau saja meski acara pembukaan sehari sebelumnya dilangsungkan di sana. “Bukittinggi adalah kota paling unik di dunia,” katanya sambil tertawa ketika kami sampai di sana. Dia berpromosi lagi.&lt;br /&gt; “Berapa kamu dibayar untuk promosi ini?” saya berkelakar.&lt;br /&gt; “Cukup untuk makan dan minum sebulan,”  katanya masih sambil tertawa. “Kamu lucu.”&lt;br /&gt; Saya memandangnya tapa kedip. Olivia sangat cantik. Wajahnya seperti perpaduan konservatifisme Jawa dan agresifitas Barat. Kulitnya bersih, seperti susu. Tatap matanya tajam dan bening. Hidungnya tidak terlalu mancung dan bibirnya memerah: terlihat garis-garis kecantikannya. Tatap matanya tajam dan bening, namun terlihat luruh kadang-kadang.&lt;br /&gt; “Kamu sudah pernah menikah?” tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul dari mulut saya dan saya terlambat menyesalinya.&lt;br /&gt; Ia tidak terkejut. “Siapa yang berani menikah dalam kondisi seperti ini? Susu menjadi mahal dan seluruh biaya hidup sangat tinggi.  Dengan apa anak-anak nanti bisa tumbuh sehat dan bergizi?”&lt;br /&gt; Kami berada di bibir Ngarai Sianok waktu itu.&lt;br /&gt; “Susu ibu dan segala kasih sayangnya lebih dari cukup jika dibandingkan dengan semua yang serba instant. Anak-anak akan terlindungi karena ibunya sangat memperhatikannya. Alat mainan modern hanya merangsang anak untuk tumbuh menjadi kerdil dan tidak kreatif. Apakah betul seperti itu? Saya tidak terlalu banyak tahu, hanya membaca beberapa buku saja. Hahaa…”&lt;br /&gt; “Kuno kamu. Dari zaman dulu orang selalu mengatakan bahwa sentuhan wanita  bisa mengalahkan segalanya, baik untuk anak-anaknya maupun suaminya. Padahal itu hanya kalimat lain bagi laki-laki untuk menghilangkan hak perempuan untuk hidup sejajar dengan wajar. Kamu tahu? Di sini wanita adalah simbol kekuatan. Wanita-wanita perkasa lahir di sini, bukan wanita cengeng seperti Kartini yang dijadikan simbol emansipasi wanita Indonesia. Saya tidak setuju itu.”&lt;br /&gt; Ternyata dia selalu marah jika ada orang yang menempatkan wanita tidak seperti yang ada dalam keinginannya. Katanya lagi, sebenarnya orang hidup saling membutuhkan dan tidak ada kasta yang membatasinya. Tetapi, “Banyak laki-laki yang selalu memperlakukan wanita seenak perutnya.” Dia emosi.&lt;br /&gt; Malam harinya ketika sampai lagi di Kayutanam, ia bercerita tentang ibunya. Ibunya lahir sebagai gadis Pariaman yang terkungkung dengan tetek-bengek adat. “Ibu harus menikah dengan ayah. Adat kami, laki-laki dijemput oleh wanita dengan uang, emas atau benda-benda berharga lainnya. Hal itu membuat laki-laki besar kepala meski sebenarnya yang memiliki kekuasaan di rumah adalah perempuan. Tetapi, apakah kehidupan sebuah perkawinan hanya untuk saling menguasai satu dan yang lainnya? Lelaki cenderung poligami. Ayah kemudian menikah lagi dengan dua wanita lain selain ibu. Tahu apa yang dirasakan oleh ibu? Hatinya pedih. Tercabik.  Tetapi ia tidak bisa berontak karena tatanan adat memperbolehkan. Ibu kemudian membesarkan saya dan dua adik saya tanpa peduli ayah. Ayah sibuk dengan istri-istri mudanya dan setiap malam selalu keluar masuk rumah, seperti seorang gigolo yang mendapat banyak kontrak. Tetapi ibu tidak menangis atau mengeluh. Dia tetap berhasil meski tanpa laki-laki itu…”&lt;br /&gt; Yang terjadi kemudian, di balik kecerdasannya yang luar biasa –kadang dengan referensi yang entah diambil dari buku apa—dia melihat laki-laki dari sisi negatif. Katanya, ibunya meninggal dalam usia muda, dan ayahnya menikah lagi dengan gadis belia seusianya. “Ayah sekarang masih hidup, dan hanya mencari kepuasaan dari istri-istrinya setiap malam. Pagi sampai sore ia berjudi di lapau. Ia seperti pengemis, meminta nafkah lahir dan batin dari istri-istrinya. Saya akan selalu melihat laki-laki bukan dari sisi yang benar. Karena laki-laki telah membuat ibu mati dengan hati patah meski itu tidak pernah diperlihatkannya…”&lt;br /&gt; Saya diciumnya ketika malam terakhir dan kami akan berpisah. “Saya tidak tahu bagaimana menilai kamu. Mungkin kamu sebuah kekecualian,” bisiknya malam itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; SURAT YUSRIZAL datang beberapa saat setelah saya  shalat Zuhur. Katanya: Kabarmu tentu baik-baik saja, Bung, aku di Padang juga begitu.  Kali ini mungkin mungkin pendek saja  aku menulis surat padamu. Aku hanya ingin bercerita sedikit, barangkali kamu masih mau membacanya. Beberapa hari yang lalu aku pergi ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Padangpanjang –tidak jauh dari Kayutanam—untuk mencari referensi tentang artikel yang dulu kamu pesan. Secara tidak sengaja, aku menemukan kliping sebuah koran tentang kematian seorang gadis berusia 28 tahun, lima tahun lampau, di kelokan dekat air terjun Lemban Anai. Dia seorang dosen di Fakultas Sastra Unand yang kemudian memilih mengajar di INS Kayutanam. Katanya, ia bosan di kota dan ingin mengabdi di sekolah tua itu.&lt;br /&gt; Dalam berita itu ditulis mobil mewah yang dikemudikannya ditabrak truk pengangkut batubara dan remuk. Bahkan tubuhnya pun tidak ditemukan utuh. Aku terkejut Bung, karena nama wanita itu persis dengan nama wanita yang kamu kenal di Kayutanam, yang hingga kini aku tak pernah tahu wajahnya serupa apa. Mungkin juga kebetulan, ketika alamatnya yang kamu ingin aku mencarinya itu kutemukan, pemilik rumah itu langsung terkejut dan mengatakan tidak tahu…&lt;br /&gt; Saya mengambil rokok beberapa batang, membakarnya dan kemudian menghisapnya. Hati saya kalut, padahal saya ingin meyakinkan bahwa cerita Yusrizal tentang wanita Minangkabau yang sering berbau mistis dan fiktif, adalah sebuah kebohongan. Juga ceritanya dalam surat itu. Tidak mungkin saya meragukan pikiran normal saya. Tentang perkenalan dengan Vera Olivia Danea, kecerdasannya, semua ceritanya tentang laki-laki dan seluruh perjalanan kami yang hanya sepekan itu. &lt;br /&gt;Saya tetap tidak percaya dengan segala mitologi wanita Minangkabau itu. Karena saya ingin Olivia bukan dongengan berbau mistis seperti yang sering diceritakan Yusrizal serta banyak literatur yang saya baca itu. Saya tetap ingin bertemu dengan Olivia Danea.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang, Januari 1999-Pekanbaru Februari 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-321042877969916300?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/321042877969916300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=321042877969916300' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/321042877969916300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/321042877969916300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/06/wanita-penunggu-kayutanam.html' title='Wanita Penunggu Kayutanam'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-813971203012151246</id><published>2007-06-10T12:32:00.000-07:00</published><updated>2007-06-10T12:34:11.202-07:00</updated><title type='text'>Laksmi</title><content type='html'>Cerpen Hary B Kori’un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“JIKA kamu nanti ke Jogja mampirlah ke Solo, temui Laksmi, bawa dia ke Jakarta…”&lt;br /&gt;Begitu pesan ibu ketika aku mengatakan akan ke Jogja untuk sebuah urusan percetakan buku dari kantorku. Sejak harga kertas melambung tinggi, penerbitan buku tempatku bekerja memilih mencetak buku di Jogja yang masih agak murah harganya. Terus terang, aku tidak suka dibebani tugas seperti ini, menjemput seorang perempuan yang tak kukenal, akan berada satu kereta api hampir sehari atau semalam dengannya sementara aku memang ingin melakukan perjalananku sendirian.&lt;br /&gt;“Kalau terlalu lama perjalananmu naik kereta, naik pesawat saja pulangnya,” kata ibu lagi seolah-olah tahu jalan pikiranku.&lt;br /&gt;“Apakah aku memang harus membawanya ke Jakarta, Ibu?” kataku mencoba menawar.&lt;br /&gt;“Iya. Katakan padanya kalau tempatnya bukan di Solo. Tinggi-tinggi sekolah, hanya menjadi guru di desa. Ndak memper ! Dia bisa menjadi apa saja di Jakarta asal dia mau. Nanti biar Ibu yang memasukkan dia kerja di perusahaan kolega ayahmu. Pokoknya katakan padanya kalau Ibu yang nyuruh dia ke Jakarta…”&lt;br /&gt;“Kenapa Ibu tidak langsung telpon dia saja, biar nanti saya langsung menjemput dia kalau urusan saya sudah selesai di Jogja…”&lt;br /&gt;“Walah Cah Bagus… Dia itu ngajarnya di Bekonang, dan desanya sangat terpencil. Ndak ada telpon di sana…”&lt;br /&gt;Aku tak punya kata-kata lagi yang akan kujadikan alasan kepada ibu. Ketika aku akan pergi ke Gambir, ibu kembali berpesan. “Jangan lupa ya. Dia tidak akan menolak keinginan Ibu. Dia anak yang patuh…”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;DIA anak yang patuh, kata ibu. Ketika aku sampai di desa tempat dia mengajar, aku dibawa oleh salah seorang tukang ojek ke sebuah sekolah dasar yang bangunannya terlihat ringkih. Atap gentengnya sudah banyak yang pecah, dindingnya yang terbuat dari semen sudah kelihatan mulai melapuk. Air masih menggenang terlihat di halaman sekolah itu. Ada enam kelas di bangunan itu, dan hampir semua kursi dan mejanya terlihat lusuh dan banyak yang patah. Lantainya memang terbuat dari semen, tetapi terlihat sudah rusak di sana-sini.&lt;br /&gt;Dia muncul dengan senyumnya ketika aku sudah duduk di ruangan guru yang sempit, satu ruangan dengan kepala sekolah yang tadi menerimaku. “Anda mencari saya?”&lt;br /&gt;Kukatakan bahwa aku disuruh oleh ibuku untuk mampir ke sini. Dia kemudian paham bahwa aku anak budenya. Kami memang tidak pernah saling kenal. Aku hanya numpang lahir di Solo dan kemudian ketika keluargaku pindah ke Jakarta, aku jarang pulang. Sementara dia, sejak lahir hingga SMA di Solo dan melanjutkan kuliahnya di Jogja sebelum kembali ke Solo untuk menjadi guru. Cerita terlalu jauh tentang dirinya, aku tidak tahu. Yang sedikit itupun aku tahu dari ibu. Hanya, aku tahu bahwa dari kecil hingga menamatkan kuliahnya, ibu yang membiayai karena ibu sangat sayang kepadanya dan kebetulan keluarganya –bapaknya adik kandung ibuku— memang secara ekonomi kurang menguntungkan.&lt;br /&gt;“Bude menyuruh saya ke Jakarta?” katanya dengan suara yang halus.&lt;br /&gt;“Begitu katanya. Dan sore nanti kita bisa berangkat ke Jakarta. Saya sudah membeli dua tiket kereta…”&lt;br /&gt;Dia terlihat terperangah. “Secepat itu? Saya di sini kan bekerja, dan tidak secepat ini saya mendapatkan izin untuk pergi…”&lt;br /&gt;“Ibu bilang, kamu tinggal di Jakarta saja. Toh kamu mengajar di sini kan tidak permanen…”&lt;br /&gt;“Tetapi saya harus menghormati orang-orang di sekolah ini; guru-guru, murid bahkan orang tua mereka. Mereka harus tahu saya pergi. Mosok saya harus pergi seperti maling, tidak pamitan…”&lt;br /&gt;“Serumit itu?” kataku.&lt;br /&gt;“Tidak rumit. Ini desa, seperti itulah adat yang harus kita ikuti…”&lt;br /&gt;“Saya bisa menunggu sampai jam 4. Kamu bisa pamitan dan kita langsung berangkat. Kalau tidak, kita bisa ketinggalan kereta…”&lt;br /&gt;“Tetap tidak bisa. Minimal baru besok saya bisa, dan itupun sangat mepet.”&lt;br /&gt;Dalam hati, saya heran. Pembawaannya santun dan halus, tetapi dari apa yang dikatakannya, ada karakter keras dalam dirinya. Kukatakan bahwa aku tak bisa menunggu sampai besok karena besok saya sudah harus masuk kantor. “Saya tak mungkin menunggu…”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, saya akan berangkat ke Jakarta sendiri.”&lt;br /&gt;“Lalu, apa yang harus saya katakan pada ibu?”&lt;br /&gt;“Sampaikan salam saya, katakan bahwa saya bisa ke Jakarta sendirian…”&lt;br /&gt;Keras kepala! Aku menggerutu dalam hati.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;HARI itu saya berangkat ke Jakarta sendirian dengan hati jengkel. Jauh-jauh saya ke Bekonang, ke desa pedalaman lagi, tapi dia tidak mau berangkat. Kukatakan pada ibu bahwa perempuan bernama Laksmi itu sangat keras kepala. “Saya jadi jengkel dibuatnya, Bu…”&lt;br /&gt;“Dia itu adikmu, Wahyu. Kamu tidak boleh bicara begitu. Dia tadi nelpon, katanya dia akan berangkat dari Solo dengan kereta malam nanti. Besok pagi-pagi betul kamu harus ke stasiun untuk menjemputnya.”&lt;br /&gt;“Menjemputnya?!”&lt;br /&gt;“Ya. Siapa lagi? Mosok ayahmu yang harus ke stasiun…”&lt;br /&gt;“Suruh saja dia naik taksi, Bu. Kan tinggal ngasih alamat saja sama sopir taksi, dan dia sampai di sini. Kenapa saya harus repot-repot menjemput?”&lt;br /&gt;Ibu mendekatiku. Kemudian dengan wajah serius bicara padaku. Tidak biasanya ibu bicara seserius begitu. “Wahyu, hargailah dia. Meskipun dia orang desa, tetapi dia saudaramu. Jangan menjadi sombong seperti itu…”&lt;br /&gt;“Bukan sombong, Bu. Tapi besok saya kan harus masuk kantor pagi-pagi…”&lt;br /&gt;“Jangan mencari alasan. Kamu bisa menjemputnya setelah Subuh dan kamu tak akan telat sampai ke kantormu…”&lt;br /&gt;Itu titah. Dan saya tidak bisa menjawab apa-apa lagi.&lt;br /&gt;Dan pagi-pagi benar saya sudah di stasiun sebelum kereta datang. Ketika kereta datang dan dia melihatku terkantuk-kantuk di ruang tunggu, dia mengatakan minta maaf karena merepotkan. “Saya sebenarnya bisa naik taksi dan tidak usah dijemput…”&lt;br /&gt;Aku diam dan membukakan bagasi untuk barang-barangnya. Tidak banyak, hanya dua tas berisi pakaian dan dia sendiri membawa tas sandang. Sepanjang perjalanan dari Gambir sampai ke Kembangan, kami tak banyak bicara. Hingga akhirnya saya berangkat lagi ke kantor, aku tak menegurnya dan aku tahu ibu memperhatikan sikapku itu.&lt;br /&gt;Nampaknya ibu benar-benar ingin saya direpotkan oleh Laksmi. Ketika beberapa kali tes dan interview untuk pekerjaan-pekerjaan di mana dia dipanggil sebagai pelamar, harus aku yang mengantarkannya. “Dia kan baru di Jakarta. Dia tidak tahu utara-selatan, dia bisa tersesat,” begitu kata ibu. Padahal pekerjaanku di kantor menumpuk dan aku harus menjadi sopir baginya.&lt;br /&gt;Sebenarnya dia tidak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan karena teman-teman ayah bersedia menerimanya. Tetapi dia tidak mau membuka jilbabnya sebagai syarat pekerjaan itu dan aku menjadi jengkel dibuatnya. “Apa susahnya sih membuka jilbab?”&lt;br /&gt;Dia mengatakan, biarlah dia tidak mendapatkan pekerjaan itu kalau syaratnya itu.&lt;br /&gt;“Ini Jakarta, Laksmi. Di sini orang yang mencari pekerjaan ribuan orang untuk satu lowongan. Sementara kamu, menolaknya hanya gara-gara tidak mau membuka jilbab. Toh kamu tetap bisa beribadah dan tetap tidak akan murtad kalau harus membuka jilbab?”&lt;br /&gt;Dia tetap menggeleng. Dan akhirnya aku benar-benar tidak mau mengantarkannya mengikuti tes lagi. Hingga suatu hari aku membiarkan dia harus naik-turun oplet dan bus untuk mengikuti tes di beberapa tempat. “Kamu tega, Wahyu. Kalau dia tersesat bagaimana?”&lt;br /&gt;“Dia kan punya otak, Bu. Biar dia rasakan sendiri capeknya…”&lt;br /&gt;Setelah itu beberapa hari saya tak bertemu dia. Pekerjaan saya benar-benar menumpuk. Banyak buku yang harus kuedit karena ada seorang editor yang cuti dan buku yang ditanganinya harus cepat dikirim ke percetakan. Aku sering pulang tengah malam dan pagi-pagi harus ke kantor. Hingga beberapa hari kemudian aku tahu dari ibu kalau dia mendapat pekerjaan di sebuah yayasan anak-anak cacat sebagai tenaga guru. “Hormatilah pilihannya. Di sana semua guru harus pakai jilbab dan yayasan itu sangat bersimpati padanya…”&lt;br /&gt;Aku termenung. Dia lebih memilih menjadi guru di yayasan anak-anak cacat dengan gaji kecil ketimbang bekerja di kantor perusahaan asing milik relasi ayahku dengan gaji yang berlipat-lipat? Benar-benar gadis aneh…&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;KAMI sampai di sini beberapa hari yang lalu, tetapi aku belum juga menemukan dia. Sudah dua hari ini aku mencarinya, berharap menemukan berita tentang dirinya dari siapapun. Aku tak ingin menemukannya menjadi mayat seperti yang dalam dua hari ini kulakukan, mengevakuasi mayat-mayat yang betebaran di sana-sini.&lt;br /&gt;Aku menyesali segala apa yang terjadi. Sudah lama aku tahu ibu ingin menjodohkan aku dengan Laksmi. Ketika aku disuruh mampir ke Solo saat ke Jogja, itu sebenarnya salah satu cara ibu agar aku bisa bertemu langsung dengannya. Waktu itu aku tidak tahu, dan ibu baru memberi tahu ketika hampir setahun dia tinggal di rumah saat dia bekerja di yayasan anak cacat itu. Aku marah besar ketika itu, seolah-olah aku tidak bisa mencari pendamping hidup sampai harus dijodohkan seperti itu.&lt;br /&gt;Mungkin pertengkaranku dengan ibu didengarnya malam itu, meski paginya ketika aku mengantarkannya ke yayasan itu, sikapnya terhadapku masih seperti dulu, penuh sopan-santun dan bersahaja. Sampai akhirnya aku mendengar dari ibu bahwa dia ikut program relawan guru yang akan dikirim ke Aceh. Mulanya aku merasa tidak peduli, tetapi akhirnya aku menanyakan juga kepadanya kenapa dia memilih ke sana.&lt;br /&gt;“Tidak ada apa-apa, Mas. Saya cuma ingin tahu Aceh itu seperti apa,” katanya ringan ketika itu.&lt;br /&gt;“Di sana perang masih terus terjadi, Laksmi.”&lt;br /&gt;“Saya tahu. Tetapi saya yakin Tuhan akan melindungi kita kalau niat kita tulus. Saya tahu, di beberapa daerah konflik tidak ada guru yang mau dikirim ke sana, dan yayasan kami mendapat jaminan keamanan dari pemerintah terhadap guru-guru yang dikirim ke sana. Kasihan anak-anak di sana tidak ada yang sekolah karena tidak ada yang mengajar mereka…”&lt;br /&gt;Ketika itu, aku baru menyadari kebaikan hati wanita itu. Tetapi aku tetap tidak bisa mencegah kepergiannya. Aku yang mengantarkannya ke bandara ketika itu dan dia mengatakan terima kasih karena selama di Jakarta aku banyak membantunya. Aku tersenyum kecut merasa disindir meski aku tahu kata-katanya tulus. “Hati-hati, jaga dirimu di sana ya…” kataku sambil menyalaminya.&lt;br /&gt;Dia hanya tersenyum dan kemudian membalikkan badan tanpa menoleh lagi. Itulah setahun lalu untuk terakhir kalinya aku bisa melihat Laksmi karena setelah itu dia hanya berkabar kepada ibu lewat surat maupun telepon bahwa dia baik-baik saja ketika berada di Pidie, Aceh Jaya, Kota Cane maupun saat terakhir dia ditarik ke Banda Aceh. Dan baru sebulan dia di kota itu, kabar dahsyat itu datang pada kami: kota itu, bersama beberapa kota dan daerah lainnya, disapu gelombang tsunami dengan korban puluhan ribu orang.&lt;br /&gt;Aku panik. Ibu, ayah dan orang-orang di rumah semuanya panik. Dia tak bisa dihubungi. Nomor telepon rumah di mana dia tinggal yang dikirimkannya, tidak bisa dihubungi. Hari Senin aku memutuskan untuk terbang ke Medan dan kemudian berebutan pesawat menuju Banda Aceh. Aku masuk tim relawan, tetapi aku membiayai semua perjalananku sendiri. Aku akan mencarinya, dan aku akan mendapatkannya.&lt;br /&gt;Aku baru menyadari betapa mulianya hati Laksmi. Gadis sederhana yang tidak banyak bicara, tetapi begitu perasa dan mempedulikan orang lain sampai dia tak mempedulikan dirinya sendiri. Tetapi sesampai di Banda Aceh, aku hanya bisa menangis melihat rumah-rumah, toko-toko, mobil-mobil dan semua infrastruktur lainnya hancur. Mayat-mayat bergelimpangan di sana-sini, ada yang mengambang di air, terjepit di reruntuhan, mencantol di atas pohon. Tuhanku, cobaan apa yang Engkau berikan ini?&lt;br /&gt;Aku mencari rumah yang alamatnya dituliskan Laksmi dalam suratnya kepada ibuku. Jangankan rumahnya, seluruh kompleks di mana rumah itu berada, sudah rata dengan tanah dan lumpur. Seorang teman bertanya apakah aku punya kawan di sana, kujawab gelengan, tetapi air merembes dari mataku. Aku tetap mencarinya dan selalu berdoa kepada Tuhan bahwa Dia akan menyelamatkan orang-orang yang memiliki ketulusan dan niat baik.&lt;br /&gt;Aku jadi ingat kata-katanya dulu. “Saya tahu. Tetapi saya yakin Tuhan akan melindungi kita kalau niat kita tulus. Saya tahu, di beberapa daerah konflik tidak ada guru yang mau dikirim ke sana, dan yayasan kami mendapat jaminan keamanan dari pemerintah terhadap guru-guru yang dikirim ke sana. Kasihan anak-anak di sana tidak ada yang sekolah karena tidak ada yang mengajar mereka…”&lt;br /&gt;Aku benar-benar menangis ketika berhari-hari mengevakuasi mayat-mayat dan saat tidur di masjid di Pendopo Gubernuran. Aku selalu berdoa semoga Tuhan benar-benar menyelamatkannya di manapun dia kini berada. Aku berharap semoga saat air itu menghancurkan rumah yang ditinggalinya, dia sedang berada di Seulawah, Blang Bintang atau sedang bertamasya di bukit-bukit. Aku ingin Tuhan benar-benar menyelamatkannya, karena aku menyadari bahwa aku sangat mencintainya…***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh-Pekanbaru, Januari 2005-Januari 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-813971203012151246?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/813971203012151246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=813971203012151246' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/813971203012151246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/813971203012151246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/06/laksmi.html' title='Laksmi'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-3492615067331589731</id><published>2007-06-07T12:54:00.000-07:00</published><updated>2007-06-07T12:55:38.812-07:00</updated><title type='text'>Solitude</title><content type='html'>Cerpen Hary B Kori’un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; AKU masih menunggunya di sini; orang-orang berjalan kaki lalu-lalang, gedung-gedung tinggi, pohon-pohon yang teduh di sebuah kota yang dibangun dengan pikiran maju. Menunggunya, barangkali bukanlah sebuah pekerjaan yang berat bagiku. Burung-burung tetap beterbangan dan hinggap di dekatku: di depan sebuah plaza di pusat kota. Di sekitarku, banyak orang duduk-duduk sambil bercanda dengan teman-temannya, atau pasangan kekasih yang saling berpelukan, juga seorang ibu yang berkejaran dengan anaknya dan ayahnya memandang dengan senyuman, duduk di bangku tidak jauh dari situ.&lt;br /&gt;Memang, menunggunya bukanlah pekerjaan yang sulit bagiku. Aku sudah sering menunggu kedatangannya di manapun kami berjanji untuk berjumpa; di sebuah kafe di pinggir kotaku, di sebuah hotel di pusat kota di kotanya, sebuah cottage di pinggir sebuah danau di Sumatera Barat, di coffeeshop di pinggir jalan di sebuah senja yang basah saat gerimis di Jogja, atau seperti saat ini, di depan sebuah plaza di negri asing yang membuat aku memang merasa asing. Tetapi dengan harapan bisa bertemu dengannya, aku menjadi sabar dan percaya bahwa ketika bertemu dengannya nanti, semuanya akan lebih baik dan semua kepenatan menunggunya akan hilang berganti dengan beribu rasa yang indah. Dia memang membuat semuanya menjadi indah dalam kehidupanku. &lt;br /&gt;  Seorang gadis kecil berkulit kuning bersih dengan mata sipit dan rambut lurus, memandangku sambil tersenyum seakan dia ingin bertanya, untuk apa aku berada di sini menunggunya. Dia tetap tersenyum sambil berdiri di hadapanku dan  aku membalas senyumnya. Aku tahu, dia mungkin tidak tahu apa yang kukatakan, namun perasaan barangkali tidak memerlukan bahasa ucap yang verbal. Ingin kukatakan padanya bahwa aku sedang menunggu seseorang yang selama ini membuat aku memiliki semangat hidup yang berlebih, kekuatan yang dahsyat yang membuat aku ingin hidup lebih lama lagi. Sejak mengenalnya, aku merasa dunia ini terang, semua menjadi lebih baik dan penuh warna.&lt;br /&gt; Seorang wanita cantik, mungkin umurnya sebaya denganku, datang dan mengatakan sesuatu dengan bahasa Inggris beraksen Melayu,  dia minta maaf kalau anaknya mengganggu kesendirianku. Kukatakan bahwa aku tidak merasa terganggu. Perempuan berkulit kuning itu memandangku dan kemudian tersenyum sambil mengangguk. Setelah itu, keduanya berlalu.  Aku melihat lalu-lalang orang berjalan kaki di trotoar begitu ramai. Dan aku tetap menunggunya, menunggu untuk sebuah pertemuan yang dia janjikan dulu.&lt;br /&gt; “Tunggulah aku di  Orchard Road. Di depan Plaza Singapura, tidak jauh dari Istana Park dan Takashimaya, ada tempat duduk di antara pohon-pohon teduh. Banyak orang duduk di sana, engkau akan melihat burung-burung dengan bebas beterbangan. Bayangkan, di sebuah kota yang besar dan modern itu, burung-burung bebas beterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya, dan kadang datang kepadamu. Di negri kita, engkau masih bisa melihat burung gagak bebas terbang? Burung gagak yang selalu mengantarkan aroma kematian itu, bebas hidup di sana, juga burung jalak dari segala jenis. Tunggulah aku di sana...” katanya dalam e-mail.&lt;br /&gt; “Kita bukan orang-orang bebas seperti burung-burung itu, kan? Mestinya kita tidak berjanji di tempat yang sangat jauh seperti itu,” jawabku.&lt;br /&gt; Beberapa saat setelah itu, aku membaca jawabannya. “Dari awal kita sudah tahu, kita memang bukan orang bebas karena kita punya komitmen dengan orang lain dalam sebuah ikatan. Tetapi aku mencintaimu...”&lt;br /&gt; “Mestinya kita tidak melakukan ini, kita menyakiti orang-orang yang pernah kita cintai...” kali ini aku mengirimkannya lewat sms.&lt;br /&gt; “Sejak kita bertemu, aku merasa menjadi remaja lagi dengan segala vitalitasnya....”&lt;br /&gt; “Tetapi semestinya kita tidak melakukannya.”&lt;br /&gt; “Tetapi aku mencintaimu...”&lt;br /&gt; “Bodohnya, aku juga mencintaimu, meski aku selalu risau...”&lt;br /&gt; Aku memang selalu menunggunya di tempat-tempat di mana kami berjanji bertemu. Seperti angin, dia selalu datang seperti yang direncanakan dan tepat waktu. Dia mengatakan, sangat bahagia bisa bertemu denganku. Katanya, dia suka melihat ceruk di antara dua tulang di leher bawahku. “Setiap aku rindu padamu, aku selalu mengingat tahi lalatmu ini,” katanya sambil meraba ceruk  itu. Aku memang memiliki tahi lalat yang terlihat menonjol di sana. “Bisa bertemu denganmu saja sudah sebuah anugerah yang besar bagiku, meski harus melewati laut dan pulau-pulau, dan jauh seperti ini...”&lt;br /&gt; Suatu waktu, dia mengatakan bahwa di saat pikirannya suntuk, dengan mengingatku semuanya akan menjadi lebih baik. “Aku muak dengan banyak hal. Orang-orang munafik, bicara masalah keadilan di sembarang tempat, sementara dia menginjak kaki orang-orang yang semestinya mendapatkan kepastian apa yang mereka ucapkan itu. Mereka menghisap darah, dan menjadikannya kekuatan untuk melakukan penghisapan yang lain...” katanya yang membuatku kadang bingung. Dia selalu bicara tentang kebebasan berpikir, kemakmuran bersama, ide-ide pembebasan yang kadang membuatku ngeri.&lt;br /&gt; “Aku bukan orang yang paham dengan semua itu...”&lt;br /&gt; “Tetapi kamu telah membuat aku yakin bahwa kebaikan yang sedang kami perjuangkan akan tercapai.”&lt;br /&gt; “Kamu sedang berjuang untuk apa?”&lt;br /&gt; “Untuk kebaikan semua orang.”&lt;br /&gt; “Jangan-jangan kamu anggota jaringan teroris yang dicari itu...” kataku sambil bercanda.&lt;br /&gt; Dia hanya tersenyum seulas. “Teroris berjuang untuk sesuatu yang tak pasti, aku berjuang untuk kebaikan. Seandainya aku teroris, kamu masih mau bertemu denganku?”&lt;br /&gt; Entah mengapa, tiba-tiba aku memeluknya dari belakang dan mengatakan bahwa aku ingin tetap mencintainya, meskipun dia seorang pembunuh bayaran dan aku adalah targetnya saat ini. “Aku akan tetap mencintaimu, meski di belakang punggungmu kau simpan belati atau pistol...”&lt;br /&gt; “Itu mirip kata-kata Khalil Gibran...”&lt;br /&gt; “Aku suka Gibran...”&lt;br /&gt; “Dia bukan contoh yang baik seseorang untuk memperbaiki keadaan. Dia hanya bisa bersyair dan menangisi nasib. Laki-laki harus melakukan sesuatu lebih dari sekedar menangis dan bersyair...”&lt;br /&gt; “Tetapi syair-syairnya menjelaskan bahwa dia seorang lelaki romantis,  tabah, baik hati...”&lt;br /&gt; “Kebaikan tidak bisa dilihat dari syair. Banyak penyair yang suka membunuh...”&lt;br /&gt; “O ya, siapa?”&lt;br /&gt; Dia hanya tersenyum sebelum mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Aku sudah lupa entah berapa kali dia mengatakan itu di setiap pertemuan kami, karena setelah itu aku baru sadar ketika  terbangun di pagi hari saat sinar matahari mulai menyusup lewat sela-sela gorden dan sering aku sudah mendapatinya sedang berada di depan note book yang memang selalu dibawanya ke mana dia pergi.&lt;br /&gt; “Sedang membuat syair cinta untukku?” kataku sambil mendekatinya.&lt;br /&gt; “Aku tidak bisa membuat syair...”&lt;br /&gt; “Sedang menulis apa?”&lt;br /&gt; “Artikel untuk mencerahkan manusia...”&lt;br /&gt; “Untuk dikirim ke koran mana?”&lt;br /&gt; “Di manapun yang mau memuatnya, di manapun orang mau membacanya...”&lt;br /&gt; Kemudian aku membaca sejenak. Aku tak kenal nama-nama yang dikutipnya seperti Ayatullah Khomeini, Ali Syariati, Mohammed Arkoun dan sederetan nama lainnya yang tak pernah kutemui di buku-buku atau diktat manajemen yang kudapatkan ketika masih kuliah dulu. Ketika kutanya siapa mereka itu, dia mengatakan bahwa orang-orang itu adalah pemikir pembebasan muslim yang pikirannya sangat berpengaruh. Setelah itu aku tidak bertanya lagi dan masuk ke kamar mandi. Siraman air pada tubuhku membuat semuanya segar dan indah. Aku benar-benar mencintainya yang terbebas dari apapun.&lt;br /&gt; Suatu waktu, dalam pertemuan lain, kata-katanya terasa perih dan pesimis. “Esok atau kapan, jika engkau melihat fotoku di koran sedang dikerubungi lalat di tong sampah atau parit, katakan kepada penulis beritanya, atau fotografernya,  bahwa aku memang pantas mati seperti itu...”&lt;br /&gt; “Kamu sedang bicara tentang apa?”&lt;br /&gt; “Tentang cinta dan kematian...”&lt;br /&gt; “Cinta untuk siapa dan kematian bagi siapa?”&lt;br /&gt; “Cinta untukmu dan kematian bagiku...”&lt;br /&gt; “Jangan bicara seperti itu, aku tak ingin kamu mati...” Aku menangis.&lt;br /&gt; “Kadang-kadang, aku ingin hanya berpikir bagaimana merasakan mati...”&lt;br /&gt; Aku memang sering tidak mengerti pikiran-pikirannya, juga keinginan-keinginannya. Dia bicara tentang keadilan yang carut-marut, kebodohan dan kemiskinan yang tetap menjadi hal yang dominan dan jadi bahan proposal, juga anak-anak yang mati karena kolera dan malaria, padahal pemerintah memiliki uang untuk membangun rumah sakit dan membayar dokter, juga membuat sekolah-sekolah dan menggaji guru dengan layak. “Tetapi semua tidak dilakukan. Orang-orang banyak yang hanya berpikir tentang dirinya tanpa berpikir bahwa banyak orang di luar lingkupnya memerlukan kehidupan yang lebih layak dari hanya sekedar bisa makan...”  &lt;br /&gt; Di setiap pertemuan kami, dia memang selalu bercerita tentang semua itu, kadang sambil memandang kosong ke depan, dengan menangis sesenggukan dan kemudian memelukku dengan sangat erat, kadang juga dengan kemarahan yang sangat yang membuat giginya gemerutuk dan tatapan matanya setajam harimau.&lt;br /&gt; Hingga senja, aku masih duduk di bangku di depan Plaza Singapura itu. Orang-orang berjalan bergegas; banyak yang berpasangan dengan bergandeng tangan atau berjalan sambil berpelukan mesra, juga ada yang sendirian tetapi menikmati dengan riang. Mereka bisa bebas seperti itu, sementara di setiap pertemuan kami, kami harus melihat kiri-kanan apakah ada orang yang kami kenal. Di kota-kota di setiap kami berjumpa, tidak pernah kami bisa bebas berjalan bergandengan tangan atau berpelukan atau bahkan berciuman seperti banyak pasangan muda-mudi di sini. Aku baru sadar, kami sudah bukan remaja lagi. Tetapi di sini, meski banyak yang bukan remaja lagi, tetapi mereka juga bisa bebas melakukan seperti yang dilakukan anak-anak muda, juga seperti burung-burung yang hinggap dari satu pohon ke pohon lain di sebuah negeri kota yang sangat maju ini. Aku iri kepada mereka, juga pada burung-burung itu. Tetapi, burung gagak itu, selalu lalu-lalang dengan suara koaknya, terbang dari satu pohon ke pohon lain, tidak jauh dari tempat dudukku.&lt;br /&gt; Hari sudah malam dan suasana di depan plaza itu tetap ramai, namun aku mulai merasa kesepian, meski aku yakin dia akan datang. Ketika menyeberang dari Batam pagi tadi, ada rasa sumringah dalam dadaku karena akan bertemu kembali dengannya setelah sekian waktu kami tak saling jumpa. Aku selalu rindu padanya, meskipun aku sadar, kami bukan lagi orang-orang bebas. Adakah ini benar-benar cinta?&lt;br /&gt; Hampir tengah malam ketika toko-toko dan pusat shopping mulai menutup diri, aku berjalan gontai, ke hotel yang disebutkannya dan ketika sampai di sini pagi tadi, aku langsung ke sana dan memesan kamar. Aku hampir patah arang, tetapi aku tetap yakin dia akan datang karena sebelumnya dia tidak pernah mengingkari janji untuk bertemu, barang sekalipun. Tapi, suara gagak berkoak itu tetap terdengar di telingaku, entah di pohon mana dia hinggap.&lt;br /&gt; Aku jadi serba resah. Aku ingat kata-kata terakhirnya ketika dia menyebut tentang kematian itu; tentang rasa pesimisnya memandang hidup dan semua paradoks yang ada di kepalanya. Keresahan itu semakin membuatku gamang ketika kuhidupkan televisi dan sebuah berita menjelaskan tentang meledaknya sebuah bom mobil di depan sebuah kedutaan asing di Jakarta yang membuat puluhan gedung di sekitarnya ikut rusak. Ada puluhan korban jiwa dan ratusan lainnya luka-luka dan aku membayangkan dia berada di antara orang-orang yang mati atau terluka tersebut. Aku meyakinkan diri bahwa dia akan tetap datang ke negeri kota ini menemuiku, mengatakan rindu padaku. &lt;br /&gt; Namun, dia memang tidak pernah datang tanpa kabar dan aku benar-benar tidak bisa menghubunginya. Sampai pagi aku menunggunya di depan jendela, namun hingga kemudian aku berkemas, dia belum datang juga. Ketika aku mengatakan kepada resepsionis bahwa aku akan cek out, aku masih berharap dia datang. Dan sampai aku akan masuk ke dalam feri penyeberangan yang akan membawaku kembali ke Batam,  dia juga tidak pernah datang dan tanpa kabar apapun. Namun, jantungku terasa berhenti ketika aku membeli sebuah koran berbahasa Inggris yang memberitakan tentang peledakan di Jakarta tersebut. Aku mengamati sketsa wajah itu, dan aku terduduk dengan debar jantung tak karuan. Koran itu mengatakan, lelaki yang sketsa wajahnya dibuat oleh polisi dan disebarkan ke publik itu, diduga adalah pelaku bom bunuh diri yang meledakkan sebuah gedung kedutaan di Jakarta. Aku mengenal goresan sketsa itu, sangat mengenalnya.&lt;br /&gt; Aku ingat kata-katanya ketika terakhir kali kami berjumpa. “Esok atau kapan, jika engkau melihat fotoku di koran sedang dikerubungi lalat di tong sampah atau parit, katakan kepada penulis beritanya, atau fotografernya, bahwa aku memang pantas mati seperti itu...”&lt;br /&gt; Aku benar-benar mengenal sketsa itu, tetapi aku tetap berharap itu tidak benar. Aku tetap ingin dia datang padaku dan kami bertemu seperti masa-masa sebelumnya. Meski sebenarnya, itu tidak boleh terjadi. Tapi, adakah pertemuan-pertemuan itu kembali di masa datang? Air mataku terus mengalir, benarkah dia lelaki yang kukenal selama ini, yang selalu berjanji bertemu di tempat yang jauh?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura, September 2004-Pekanbaru, Maret 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-3492615067331589731?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/3492615067331589731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=3492615067331589731' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/3492615067331589731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/3492615067331589731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/06/solitude.html' title='Solitude'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-9100606965496009912</id><published>2007-06-07T12:50:00.000-07:00</published><updated>2007-06-07T12:52:46.297-07:00</updated><title type='text'>Pulang</title><content type='html'>Cerpen Hary B Kori’un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BAPAK masuk rumah sakit tadi malam. Stroke-nya semakin parah. Kami semua berharap kamu bisa pulang. Kami memang memerlukan bantuanmu untuk biaya rumah sakit, tetapi kehadiranmu juga sangat penting bagi bapak. Siapa tahu...”&lt;br /&gt; Hujan deras. Jalanan tertutup butir-butir air. Sepi. Hutan lebat hampir sepanjang perjalanan tadi mengingatkanku pada sebuah masa ketika aku masih berada di kampung. Hutan lebat yang kemudian oleh keluargaku --juga keluarga-keluarga lain yang menjadi pendatang di sana— dibabat dan dijadikan ladang. Hingga lima tahun, kami masih bisa menanam padi ladang karena humus masih tebal. Tetapi tahun keenam dan selanjutnya, kami harus membeli pupuk, itupun hasilnya tak seperti yang kami harapkan. Dan kemudian, kami menjadikannya kebun karet yang hingga kini menjadi penopang hidup keluargaku.&lt;br /&gt; Sudah lama aku tak pulang ke kampung.  Kampung keduaku  tepatnya, karena keluargaku pindah dari Jawa lewat program transmigrasi. Lima belas tahun yang lalu aku meninggalkan kampung dan tak pernah pulang setelah itu. Hingga aku menyelesaikan kuliah di Padang, berpindah ke Jakarta, Palembang dan kemudian menetap di Pekanbaru, aku memang tak pernah pulang. Aku tahu jalan pulang, tahu bus mana yang akan mengantarkanku ke rumah, atau membawa mobil sendiri, tetapi aku tak melakukannya. Aku masih ingat tiga kakak yang tinggal di kampung, ibuku, juga bapak. Beberapa kali mereka datang ke Pekanbaru, kecuali bapak,  tetapi aku memang tak pernah pulang.&lt;br /&gt; Istriku selalu menyuruh aku pulang, minimal saat lebaran, namun aku tak pernah melakukannya selama lima belas tahun ini. “Tidak bagus menyimpan dendam. Tuhan mengutuk orang yang menyimpan dendam, apalagi dendam pada keluarga sendiri,” kata istriku.&lt;br /&gt; Kukatakan padanya bahwa aku tak dendam pada siapapun. Aku hanya tak ingin pulang. “Aku telah membangun hidupku di sini. Aku ingin mengubur masa lalu...”&lt;br /&gt; “Keluargamu adalah masa lalumu yang tak akan bisa pernah kamu kubur. Mereka adalah bagian dari darahmu, ada darah mereka mengalir di tubuhmu. Tak akan ada yang namanya mantan bapak, mantan ibu, mantan kakak atau mantan adik. Ke manapun kamu berada, mereka adalah bagian dari hidupmu. Sedangkan aku, istrimu ini, jika kita bercerai misalnya, maka aku akan menjadi mantan istrimu dan kita  tak punya ikatan apa-apa lagi. Sedang mereka, tidak...”&lt;br /&gt; Aku sudah melewati Teluk Kuantan dan sebentar lagi sampai ke Bukit Betabuh. Hujan masih deras dan jalanan basah.  Ketika mendapat sms dari Mas Handoko bahwa bapak sakit, aku tak banyak bereaksi dan seperti sebelum-sebelumnya, Mas Handoko juga selalu bilang begitu setiap bapak masuk rumah sakit. Namun istriku mengingatkan bahwa umur bapak sudah sangat sepuh, sudah lebih 76 tahun. “Pulanglah. Jika kamu tak mau membawa aku dan Abimanyu pulang, pulanglah sendiri. Mungkin bapak memang ingin bertemu denganmu. Aku menikahimu karena aku mencintaimu dengan segala yang ada padamu. Aku juga mencintai seburuk apa masa lalumu...”&lt;br /&gt; Berkali-kali istriku mendesak agar aku pulang. Bahkan dia sampai menangis ketika aku tetap diam tanpa reaksi. “Aku tak pernah berpikir untuk menjadi pemisah hubunganmu dengan keluargamu. Ayolah, pulanglah, siapa tahu...”&lt;br /&gt; “Siapa tahu ini kesempatan terakhirku ketemu bapak? Dulu Mas Handoko juga mengatakan begitu, tetapi bapak juga tetap hidup dan panjang umur...”&lt;br /&gt; Aku memang akhirnya berangkat dan menyetir mobil sendiri. Abimanyu dan istriku tak ikut, aku sengaja tak mengizinkan mereka ikut. Aku tak tahu, setiap yang berhubungan dengan masa lalu dan keluargaku, aku selalu mencoba menjauhkan dari orang-orang, juga anak dan istriku. Tapi kini, ketika mobilku sudah masuk perbukitan dengan jalan berkelok, tikungan tajam, turunan curam dan hujan yang tak pernah berhenti, aku merasakan gelisah yang luar biasa.&lt;br /&gt; Tiba-tiba aku rindu bapak, juga saudara-saudara yang lain. Mungkin bapak benar-benar sudah sepuh, berbeda dengan lima belas tahun yang lalu, atau masa sebelumnya ketika dia masih kuat, baik fisiknya maupun suaranya yang menggelegar dan sering membuat aku mati ketakutan dan bersembunyi di kolong tempat tidur atau di kandang ayam...&lt;br /&gt;     ***&lt;br /&gt;AKU ingat persis ketika itu. Di sebuah sore yang hujan lebat dengan petir menyambar, aku ketakutan di dalam rumah. Bapak, ibu dan tiga kakakku berada di ladang. Aku disuruh menjaga rumah, juga  menunggui  gabah yang dikeringkan. Namun, ketika tiba-tiba hujan lebat, aku menjadi ketakutan. Aku memang takut petir. Dan aku meringkuk di tempat tidur sambil menutup kepala dengan bantal ketika petir itu menyambar-nyambar.&lt;br /&gt;Bapak, ibu dan ketiga kakakku pulang ketika hari hampir gelap dan hujan sudah berhenti. Ketika aku belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi, tiba-tiba bapak sudah datang dengan sapu lidi di tangannya. “Anak setan! Tugasmu di rumah adalah menjaga gabah supaya tidak kehujanan. Lihatlah!” katanya sambil menyeret tubuhku yang kurus dan ringkih keluar rumah, dan aku melihat gabah yang dikeringkan kini sudah tak berbentuk lagi. Banyak yang dibawa aliran air. Aku menangis sejadi-jadinya dan minta ampun. Ketiga kakakku tak berani menolong, juga ibuku. Aku menggapai-gapai meminta tolong, tetapi bapak memang tak bisa dibantah siapapun dan aku diseret ke halaman. Beberapa saat kemudian tubuhku lebam-lebam karena pukulan sapu lidi dan raunganku tak berarti apa-apa karena memang tak ada yang berani menolongku.&lt;br /&gt;Tidak sampai di situ, ketika hari sudah benar-benar gelap, bapak memerintahku agar mengangkat buah-buah pepaya yang pohonnya tumbang akibat angin dan hujan tadi. Pohon pepaya itu buahnya memang banyak dan segar-segar, dan mungkin karena kebanyakan buah itulah saat angin datang gampang tumbang. “Angkat buah-buah itu, bawa ke dapur!” suaranya terdengar menggelegar.&lt;br /&gt;Dengan sisa tenagaku, aku berjalan menuju pohon pepaya yang tumbang itu, sekitar lima puluh meter dari rumah.  Satu-satu aku mengangkat pepaya itu dan lama-lama getahnya membuat gatal di tubuhku. Mungkin juga akibat luka memar karena pukulan sapu lidi bapak itu, dan terkena getah kental berwarna putih itu. Aku menangis sepanjang pekerjaan itu dan ketika ibuku akan membantuku, bapak membentaknya. “Biarkan! Biarkan dia merasakan beratnya perjuangan untuk hidup! Ini hukuman, kita yang di ladang bekerja, tetapi dia malah melalaikan tugasnya menjaga gabah. Kita harus banting tulang untuk menanam padi, dan dia tinggal menjaga saja malah lalai!” &lt;br /&gt;Ibuku pun surut dan hanya memandangku dari dalam rumah dengan tangisnya. “Dia masih kecil,” katanya.&lt;br /&gt;“Dari kecil dia harus tahu sulitnya hidup!”&lt;br /&gt;Aku benar-benar tak tahan dengan gatal di tubuhku dan memohon kepada bapak agar boleh istirahat. Namun bapak memang tak boleh ditawar. Hingga kemudian aku  benar-benar tak memiliki tenaga lagi dan seluruh badanku terasa gatal, sakit dan aku tak ingat apa-apa lagi. Mungkin tengah malam, aku terbangun dan melihat ibuku memelukku sambil menangis. Ketiga kakakku juga di kamar, tetapi aku tak melihat bapak. Suhu badanku tinggi dan aku benar-benar merasa tak kuat menahan rasa sakit dan gatal di kulit.&lt;br /&gt;Aku selalu ingat peristiwa itu, juga peristiwa-peristiwa lainnya yang kemudian memunculkan kesimpulan dalam pikiranku, bahwa bapak tidak menyukaiku, tidak menginginkan kelahiran dan keberadaanku. Aku merasakan perbedaan bagaimana dia memperlakukan ketiga kakakku. Tapi aku berusaha membuang jauh-jauh perasaan iri itu, yang ada dalam pikiranku –dan ternyata itu tertanam dalam jiwaku hingga aku dewasa—adalah bahwa bapak memang tidak menyukaiku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;HUJAN tetap deras dan air mengalir di jalanan. Sepi, tidak banyak mobil yang datang dari arah berlawanan dan Lintas Sumatera seperti jalan hantu. Hantu di musim hujan, hitam, lengang dan aku semakin merasa bahwa perjalananku bukan semakin dekat, tetapi justru semakin jauh. Padahal, dari Koto Baru ini, tinggal dua jam lagi akan sampai ke rumah. Sampai ke rumah yang pernah menjadi kenangan masa kecilku yang sekian waktu berusaha kukubur.&lt;br /&gt;“Kenapa bapak tidak suka dengan saya, Bu?” tanyaku suatu saat kepada ibuku.&lt;br /&gt;“Dia mencintaimu, juga kakak-kakakmu. Tetapi seperti itulah caranya mencintai, suatu saat nanti kalau kamu besar, kamu akan tahu bahwa dia begitu mencintai kita...” Ibuku berkata begitu sambil berjalan menuju dapur. Aku tahu dia menangis.&lt;br /&gt;Ketika kembali lagi ke tempat tidurku dengan segelas air putih, aku melihat matanya sembab. “Begitukah cara laki-laki mencintai, Bu?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;Ibuku mengangguk. “Iya, itu cara bapakmu mencintai. Tidak semua laki-laki begitu cara mencintai...”&lt;br /&gt;Aku sakit berhari-hari sejak peristiwa itu. Badanku lemas, mulut dan perutku tak enak diisi makanan dan aku selalu kehausan. Tapi bapak tak pernah melihatku ke kamar, juga tak pernah menyuruh kakak-kakakku membawaku ke mantri kesehatan atau dokter di  Puskesmas. Aku hanya minum pil malaria dan beberapa jenis pil penghilang demam lainnya.&lt;br /&gt;Hampir lima hari, dan akhirnya aku juga sembuh. Tetapi sejak itu aku menjadi ketakutan setiap melihat bapak dan sebisa mungkin menghindarinya. Ketika malam hari tiba, aku menjadi risau, bagaimana nanti kalau ketemu dengan bapak. Untungnya, sering teman-teman mengajakku pergi mengaji ke langgar dan kami ramai-ramai tidur di langgar tidak jauh dari rumah. Paginya aku pulang, mandi dan langsung pergi ke sekolah. Ketika aku pulang pagi itu, bapak sudah pergi ke ladang, sehingga aku tak sempat bertemu dengannya. Ketika pulang sekolah siang hari, aku juga sebisa mungkin menghindarinya. Biasanya ketika aku sampai di rumah, bapak sedang tidur siang. Dan sebelum bapak bangun, aku cepat-cepat makan lalu pergi ke sungai memancing ikan atau membantu membersihkan semak di sela pohon karet yang masih muda. Sore ketika sampai di rumah aku cepat mandi dan langsung pergi ke langgar. &lt;br /&gt;Hingga kemudian aku tamat SMP, hal seperti itu selalu kulakukan. Meski memang masih sering dia memarahiku dan memukul atau bahkan menyiksa karena alasan-alasan yang bagiku kesalahanku tidak seberat hukumanku. Aku berusaha untuk tidak dendam dengan itu semua, tetapi lama-lama aku merasa bahwa semuanya tidak adil bagiku. Kesalahan sekecil apapun selalu menghasilkan hukuman bagiku, sementara tidak bagi kakak-kakakku. &lt;br /&gt;“Bapak memang tidak menyukai saya, Bu...” kataku ketika kemudian aku tamat SMA dan ingin pergi dari rumah.&lt;br /&gt;“Kamu mau pergi ke mana?”&lt;br /&gt;“Saya ingin bekerja ke kota, Bu. Siapa tahu saya bisa bekerja dan sekolah lagi...”&lt;br /&gt;Bapak tidak mencegahku ketika aku pergi tanpa pamit padanya meskipun dia ada di ruang tamu ketika aku membawa tas kecil berisi beberapa helai pakaian dan ijazahku. Ketiga kakakku juga tak bisa menahanku.  Mas Handoko sudah menikah, juga Mbak Harmini. Keduanya sudah tinggal di rumah sendiri, tidak jauh dari rumah. Hanya Mas Budi yang masih tinggal di rumah. Kami berdualah yang membantu di kebun karet. Mas Budi selalu mengatakan bahwa hidup harus diteruskan, dan tak perlu mencari tahu mengapa seseorang begitu marah dan kadang seperti membenci kita. “Tak perlu kita membenci bapak. Kehidupan kerasnya di masa lalu membentuk jiwanya seperti itu,” kata Mas Budi beberapa kali ketika kami istirahat sehabis menakik getah atau mengangkutnya sampai di rumah. &lt;br /&gt;Aku tidak menjawabnya, tetapi aku selalu mengatakan kepadanya bahwa aku ingin kuliah. Aku tidak mengatakan itu kepada bapak, tetapi aku tahu bapak tahu keinginanku itu. Namun hingga aku membawa tas dan pamit kepada ibu akan pergi ke kota, bapak tidak bicara sepatah katapun kepadaku.&lt;br /&gt;Aku keluar pintu dan tak menoleh lagi meski aku tahu ibu menangis. Sejak itu, aku tak pernah kembali ke rumah tetapi mereka selalu tahu di mana aku berada selama lima belas tahun ini...&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tak tahu, mengapa sepanjang perjalanan hujan tidak mau berhenti. Setengah jam lagi aku akan sampai ke rumah dan aku melihat banyak yang berubah sepanjang perjalanan menuju rumah. Dulu, lima belas tahun yang lalu, tak ada instalasi listrik di sepanjang jalan, jalan belum diaspal dan tak banyak orang yang punya mobil. Kini, banyak rumah bagus berdiri, mobil lalu-lalang dari dan menuju kota kecamatan, dan jaringan telepon seluler juga sudah ada di sini.&lt;br /&gt;Namun hujan benar-benar tidak mau berhenti, dan aku menghentikan mobil, menepi ke sebuah warung kecil tidak jauh dari simpang yang jaraknya sekitar tujuh kilometer lagi dari rumah, ketika mendengar ada nada pesan pendek di ponselku. “Kami tahu,  mungkin memang berat bagimu untuk pulang. Tetapi bapak selalu berharap suatu saat kamu mau pulang ke rumah, karena ini juga rumahmu...” &lt;br /&gt;Ketika hanya beberapa menit lagi akan sampai ke rumah, tiba-tiba petir menyambar dengan keras dan aku terkejut. Peganganku pada stir nyaris terlepas dan mobil oleng ke kanan, keluar dari aspal. Aku berhenti dan kembali melihat ada pesan pendek di ponselku. “Bapak tidak sempat menunggumu untuk pulang. Kami semua sudah merelakannya dan kami berharap kamu mau memaafkannya. Kata bapak, kamu tetap anaknya, tidak seperti yang selalu ada dalam pikirannya sejak kamu lahir karena kecemburuannya pada seorang laki-laki lain yang pernah mencintai ibu kita. Bapak bilang, kamu anak terbaik dan dia bangga dengan apa yang kamu dapatkan selama ini. Relakan dan maafkan bapak...”&lt;br /&gt;Seakan ada yang lepas dari tubuhku. Badanku terasa ringan seperti kapas, mataku berair, hatiku pedih... hanya beberapa menit lagi, mengapa bapak tidak mau menungguku? Hanya beberapa menit lagi, tidak lebih dari satu kilometer lagi. Tidak lebih. Tetapi jarak dan waktu itu seperti bentangan lima belas tahun lamanya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 23 Februari 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-9100606965496009912?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/9100606965496009912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=9100606965496009912' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/9100606965496009912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/9100606965496009912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/06/pulang.html' title='Pulang'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-5290757478128707227</id><published>2007-06-07T12:47:00.000-07:00</published><updated>2007-06-07T12:49:13.322-07:00</updated><title type='text'>Lelaki Mumi</title><content type='html'>Cerpen Hary B Kori’un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LELAKI itu lebih mirip mumi. Seluruh wajahnya dibalut perban berwarna putih, juga kepala bagian belakangnya. Tak ada lagi rambut di sana. Yang terlihat dan masih memperlihatkan dia berwujud manusia adalah dua matanya yang masih terlihat mengerjap. Dua lubang hidungnya pun tertutup perban tipis yang masih bisa digunakan untuk menghirup udara agar dia tetap hidup. Perban tipis juga menutup mulutnya, namun bisa dibuka jika akan memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya, misalnya air putih. Dia sering kehausan, dan seorang suster yang selalu menjaganya, siap memberikan air putih yang disedotnya melalui pipet.&lt;br /&gt;Tidak hanya bagian kepala, seluruh badannya juga diperban warna putih yang sudah tercampur warna kuning, warna obat luka yang digunakan untuk mengeringkan lukanya ketika dia masuk ke ruang gawat darurat rumah sakit ini dua hari yang lalu. Dia tak bisa bergerak. Seluruh kegiatannya dari membuang air kecil, air besar dan minum, semuanya dikerjakan oleh suster yang berjaga bergantian. Dia tidak makan karena cairan nutrisi yang bercampur dengan zat makanan, sudah dimasukkan melalui pembuluh darah di punggung tangannya dari botol infus yang digantung di sebelah tempat dia dibaringkan.&lt;br /&gt;Sungguh, dia lebih mirip mayat yang sudah dipungkus kain kafan ketimbang seseorang yang masih dianggap hidup. Namun, dia tetap bernafas, bisa melihat lurus dari dua lubang perban di kedua matanya, dan bisa menyedot air ketika haus dengan pipet, meski cairan nutrisi dan sari makanan sudah dimasukkan ke dalam tubuhnya.&lt;br /&gt;Tidak ada yang tahu siapa lelaki itu sebenarnya; seluruh perawat yang selalu menjaganya, juga beberapa dokter yang menanganinya. Ketika dia ditemukan dan kemudian dibawa ke rumah sakit ini, kondisinya sudah hampir gosong; seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya sudah habis terbakar, kecuali celana dalam berwana coklat dan sudah tersengat api. Barangkali, dari seluruh tubuhnya, hanya kemaluannyalah yang tak terbakar karena terlindung celana dalam itu. Itu juga yang membuat perawat dan dokter yang ada di rumah sakit ini mengenali jenis kelaminnya.&lt;br /&gt;Tak ada identitas yang tertinggal yang menjelaskan siapa laki-laki ini. Tidak juga dompet yang berisi KTP, SIM, paspor dan tanda pengenal lainnya. Juga tidak ada kertas apapun yang tertinggal di tubuhnya ketika regu penyelamat berhasil mengeluarkannya dari kamar sebuah hotel yang terbakar dua hari lalu. Tak ada penjelasan apapun.&lt;br /&gt;Hingga berhari-hari dan berminggu-minggu kemudian, tetap tak ada yang bisa mengenali siapa laki-laki itu. Dia tak bisa bicara dengan bibirnya, tak bisa bicara dengan bahasa isyarat karena tidak ada bagian tubuhnya yang bisa digerakkan. Dia hanya bisa &lt;br /&gt;menggerakkan bola matanya ke kanan, kiri, atas atau bawah, tetapi siapa yang tahu isyarat seperti itu? Dan, mungkin, telinganya juga sudah tidak berfungsi untuk mendengarkan kata-kata orang lain, kecuali matanya yang mungkin masih bisa melihat gerak bibir seseorang ketika mengatakan sesuatu padanya. Tetapi dengan apa dia akan membalas lawan bicaranya itu?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;DIA ingin aku menunggunya di sebuah cafe di pinggir kota. Dia mengirim e-mail eberapa hari sebelumnya, juga sms  dan mengatakan  akan datang ke kotaku. Hanya aku yang dikasih tahu, katanya ini tugas rahasia. Aku tahu, jika dia mengatakan rahasia, pasti ada yang serius.&lt;br /&gt;"Aku akan menginap di sebuah hotel yang masih rahasia. Nanti setelah sampai di Pekanbaru, aku akan beri tahu. Tunggulah aku di kafe tempat kita sering ketemu dulu," katanya dalam e-mail.&lt;br /&gt;Besoknya, dia kirim sms dan mengatakan sudah sampai. Katanya dia tak ingin mengatakan di mana dia menginap. "Aku tak bisa mengatakan di mana aku menginap," tulisnya di sms.&lt;br /&gt;"Kepadaku engkau juga tak percaya?"&lt;br /&gt;"Hanya engkau satu-satunya orang yang kupercaya. Tetapi lebih baik kamu tidak tahu. Tunggulah aku di kafe itu..."&lt;br /&gt;"Tidak, selama ini engkau tak pernah mempercayaiku..."&lt;br /&gt;"Aida, aku mencintaimu, bagaimana mungkin aku tak mempercayaimu?"&lt;br /&gt;"Kamu tidak pernah mencintaiku..."&lt;br /&gt;"Hanya karena aku tak memberi tahu di mana aku menginap, engkau tidak mempercayai cintaku?"&lt;br /&gt;"Bukan itu masalahnya."&lt;br /&gt;"Engkau mulai bosan dengan cinta seperti ini?"&lt;br /&gt;"Tidak. Ketika aku memutuskan untuk mencintaimu, aku sudah siap untuk semua ini. Aku sudah siap untuk tidak bertemu denganmu dalam waktu lama; atau tidak mendengar kabarmu berbulan-bulan. Aku selalu resah setiap waktu, tetapi aku percaya kamu selalu &lt;br /&gt;baik-baik..."&lt;br /&gt;"Aku sedang berjuang..."&lt;br /&gt;"Perjuanganmu itulah satu-satunya yang tidak kupahami dari seluruh kehidupanmu..."&lt;br /&gt;Aku menunggunya berjam-jam, dari siang hingga menjelang senja. Kami memang sering seperti ini, berjanji untuk ketemu dan dia datang setelah beberapa jam aku sampai di kafe ini. Sering minuman yang sudah kupesan sudah habis dan dia belum datang juga. &lt;br /&gt;Pernah aku sampai memesan minuman lagi, dan dia juga belum datang. Namun aku tetap menunggu sampai dia datang. Ketika dia sampai, minta maaf dan mengatakan bahwa dia harus menyamar untuk sampai ke kafe. Dia memang selalu berpenampilan berbeda-beda; &lt;br /&gt;kadang memakai sebo untuk menutupi rambutnya, kadang memakai topi pet, memakai kacamata seperti yang sering dipakai selebritis, memakai kumis palsu dan banyak lagi.&lt;br /&gt;Dan kini, aku masih menunggunya di sini, ketika hari sudah senja dan matahari sudah benar-benar tenggelam. Dia belum datang juga, tetapi aku yakin dia akan datang, meski entah kapan. Namun, tiba-tiba semua orang di kafe itu terkejut ketika terdengar ledakan dahsyat yang membuat semuanya bergetar. Ledakan dari arah pusat kota, dan semua orang yang ada di kafe itu berhamburan keluar. Aku juga. Seseorang mengatakan, sebuah hotel di pusat kota meledak. Dia mendapat sms dari temannya.&lt;br /&gt;Aku berdoa kepada Tuhan, semoga apapun nama hotel itu,  bukanlah hotel tempat dia menginap. Tetapi aku benar-benar resah dan panik. Pikiranku kalut dan dadaku terasa kosong, namun berat. Hingga kemudian, aku benar-benar yakin dia tak akan datang --karena seterlambat apapun, biasanya dia datang sebelum kafe tutup, namun kini ketika kafe akan tutup, dia belum juga datang-- dan ini untuk pertama kalinya dia mengingkari janjinya. Kukirim sms, report-nya tertulis pending. Berkali-kali aku mengirim tetapi jawabannya selalu begitu. Kutelpon ke nomornya meskipun dia selalu bilang aku tak boleh menelponnya karena bisa dilacak intel, namun HP-nya tidak aktif, berkali-kali. Aku benar-benar kalut dan hampir putus.&lt;br /&gt;Ketika aku meninggalkan kafe, masuk ke mobil dan pulang ke rumah, berusaha tidur tapi tak bisa-bisa hingga pagi, aku tak menemukan jawaban apa-apa. Hingga kemudian ayah datang dan mengatakan bahwa ada bom meledak di sebuah hotel yang meluluh-lantakkan hotel tersebut dan 123 orang penghuni hotel itu dinyatakan mati, tidak ada yang hidup. Di koran itu ditulis, seorang penghuni hotel berhasil diselamatkan regu penyelamat, tetapi belum sampai di rumah sakit sudah meninggal dunia. Siangnya aku ke rumah sakit, dan petugas rumah sakit itu mengatakan bahwa yang ada di situ adalah mayat-mayat yang gosong dan sudah tak bisa dikenali.&lt;br /&gt;Tetapi aku tidak yakin kalau dia adalah salah satu mayat di rumah sakit itu. Aku selalu ingat kata-katanya, "Aida, aku tak pernah bersalah meskipun aku diburu seperti anjing," katanya suatu kali.&lt;br /&gt;"Kalau engkau tak bersalah, mengapa lari dari kejaran mereka?"&lt;br /&gt;"Karena kalau aku menyerah, mereka tetap tidak percaya kalau aku tak bersalah. Aku sudah menjadi target yang harus dihabisi..."&lt;br /&gt;"Menyerahlah, aku akan membantumu meyakinkan mereka..."&lt;br /&gt;"Aku tidak akan menyerah," dan dia kemudian pergi dalam waktu yang lama hingga akhirnya kami berjanji untuk bertemu yang kemudian tak terlaksana itu.&lt;br /&gt;Aku berharap akan menemukannya lagi, tidak hari ini, mungkin besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan atau entah kapan. Aku selalu menyimpan harap dia akan mencariku dan kami bertemu kembali...&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; “PERINTAH yang kuberikan padamu hanya untuk satu orang, bukan untuk meledakkan hotel dan membunuh ratusan orang itu.” Suaranya dingin, namun cukup membuat lelaki yang sedang berdiri di hadapannya menggigil.&lt;br /&gt; “Siap, Ndan!”&lt;br /&gt; “Jika ada seribu prajurit seperti kamu, negeri ini akan cepat hancur…”&lt;br /&gt; “Siap, Ndan!”&lt;br /&gt; “Buat laporan, ini salah prosedural, tulis file-nya ‘rahasia’”&lt;br /&gt; “Siap, Ndan!”&lt;br /&gt; “Tapi semuanya rapi dan tanpa jejak, kan?”&lt;br /&gt; “Siap, Ndan! Semuanya rapi dan tanpa jejak.”&lt;br /&gt; “Undang semua wartawan siang ini juga. Siapkan jumpa pers…”&lt;br /&gt; “Siap, Ndan!”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; PERAWAT yang menjaga lelaki yang lebih mirip mumi itu membaca koran pagi.  Terlihat judul besar di halaman utama koran itu:  Dipastikan, Kelompok Militan di Balik Peledakan Hotel…&lt;br /&gt; Lelaki yang lebih mirip mumi itu mendengar suara perawat itu. Dia menggeleng lemah, air matanya mengalir…***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 1 Desember 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-5290757478128707227?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/5290757478128707227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=5290757478128707227' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/5290757478128707227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/5290757478128707227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/06/lelaki-mumi.html' title='Lelaki Mumi'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-4592990626238366566</id><published>2007-06-07T12:46:00.000-07:00</published><updated>2007-06-07T12:47:04.402-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-4592990626238366566?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/4592990626238366566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=4592990626238366566' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/4592990626238366566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/4592990626238366566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/06/blog-post.html' title=''/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391537518290239180.post-934667007680374174</id><published>2007-06-07T12:40:00.000-07:00</published><updated>2007-06-07T12:42:51.658-07:00</updated><title type='text'>Tentang Lelaki dan  Hujan</title><content type='html'>Cerpen Hary B Kori’un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            KEMUDIAN hujan menjadi cerita tentang   kengerian-kengerian bagimu. Itu yang kau katakan di pertemuan terakhir kita sebelum kereta api membawamu pergi menembus gelap dan hujan, dan dengan berangsur meninggalkan padanganku. Kemudian gelap, dan para pengantar mulai pulang. Kau tak menjanjikan apa-apa. Tidak tentang kepulangan. Bukan tentang perjumpaan. Tetapi malam tetap menyisakan catatan-catatan yang mungkin tercecer dalam wujud yang berbeda-beda. Kita jarang bertemu, dan kalaupun bertemu harus di tempat yang jauh dan sangat jauh, kadang aku merasa berada di ujung paling utara, paling selatan, paling barat dan segala ujung lainnya. Namun, sering tiba-tiba waktu membuat kita amat sering berjumpa dengan mudah, ketika kudapati kau sudah berdiri di muka pintu saat hujan.&lt;br /&gt;            Aku sudah berlajar tentang itu semua. Tentang hari-hari yang penuh dengan ceritamu, yang penuh senyummu, penuh keinginan-keinganmu yang katamu hanya kamuflase. Yang katamu penuh paradoks, penuh kengerian, kegamangan, kesunyian, kesepian, ketakutan... Juga hari-hari yang penuh dengan keheningan bagiku ketika bahkan kabarmupun bertahun-tahun tak pernah kudengar lagi.&lt;br /&gt;            “Aku tiba-tiba berubah menjadi laki-laki penakut,” katamu suatu kali.&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba aku melihat kau menggigil seperti kedinginan yang paling dingin. Aku cepat-cepat mencarikan selimut ke kamar dan ketika kembali lagi, aku melihat bibirmu sudah pucat, wajahmu pucat dan seluruh tubuhmu pucat. Kemudian, dengan gemetar kau berkata bahwa selimut itu tak akan bisa memanaskan tubuhmu. Kemudian aku bertanya, apakah yang bisa menghangatkan tubuhmu? Jiwamu, katamu. Kemudian aku mendekapmu, sangat erat, sangat erat. Tetapi kau tetap menggigil. Gigil yang menusuk tulang, katamu. Aku tetap mendekapmu dan kau masih tetap menggigil dan tiba-tiba air mataku merembes, membasahi kelopak dan mengalir pelan di pipiku. Aku menangis, dan dekapanku padamu semakin erat. Hingga beberapa saat kemudian aku merasakan kau mulai berkeringat dan pelan-pelan segala pucat di tubuhmu berubah segar.&lt;br /&gt;“Jiwamu. Jiwamu yang membuat segala hidupku menjadi kuat...”&lt;br /&gt;Kemudian, malam itu, dalam gelap dan gerimis, kau keluar pintu dan hilang. Ditelan gelap dan hujan dan aku tak bisa melakukan apa-apa untuk sekedar menahanmu beberapa detik saja untuk tinggal. Kemudian dalam hitungan musim yang selalu berganti, kau tak pernah muncul lagi. Juga kabarmu, seperti sebelum-sebelumnya. Malam dan hujan benar-benar membawamu entah ke mana, seperti kereta api yang juga sering membawamu menjauhiku.&lt;br /&gt;“Tetapi jiwamu selalu berada dalam setiap pengembaraanku...” katamu, di hampir setiap kau akan pergi –aku tak mau mengatakan ini sebuah perpisahan. Aku benci perpisahan...&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;AKU sering bertanya padamu tentang dingin dan gigil yang sering tiba-tiba menyerangmu tanpa alasan apa-apa. Tapi kau sering diam. Aku pernah membawamu ke dokter untuk memeriksakan semuanya, tetapi dokter mengatakan bahwa tak ada yang aneh dalam tubuhmu, tak ada penyakit yang menjadi alasan kau kedinginan tiba-tiba dan menggigil seperti berada dalam bongkahan es. Namun segala pertanyaan itu kemudian cepat kulupakan dan kita bercerita tentang yang lain. Tentang masa kecilmu di sebuah kampung yang jauh dari kota besar dan segala keramaian, tentang cita-cita anak-anak di sana yang hanya ingin memiliki sepeda motor, tentang pernikahan usia muda yang sering terjadi karena mereka tak mementingkan yang lain selain keturunan. Dan tentang banyak hal lainnya yang bagiku sangat menyenangkan mendengarkan cerita-ceritamu itu.&lt;br /&gt;Hingga pada malam yang juga hujan, tiba-tiba kau sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian basah. Kali ini kau tidak kedinginan, namun cepat-cepat aku ke dalam mengambilkan handuk dan beberapa pakaian kering yang pernah kau tinggalkan untuk mengganti pakaianmu yang kulub basah itu. Kau ingin cerita sesuatu, katamu. Dan aku kemudian membuatkan teh hangat dan kita duduk di dekat jendela yang terbuka, sambil menyaksikan hujan di luar yang membasahkan kota.&lt;br /&gt;Katamu, kau rindu bau getah karet. Kukatakan, bukankah itu bau bacin seperti air got yang menghitam atau kotoran binatang. Ya. Tetapi kau tetap merindukannya. Kau merindukan saat remaja di sebuah kebun karet di pedalaman. “Aku melarikan diri dari sana, dari masa laluku, dari duniaku yang sesungguhnya. Aku merindukannya...”&lt;br /&gt;Kau memang lelaki yang lahir dan kemudian lari dari masa lalu. Tetapi kemudian aku mengatakan bahwa semua manusia lahir dari masa lalu, sebab tidak ada masa kini dan masa depan kalau tidak ada masa lalu. Itu hukum waktu. “Tetapi aku benar-benar merindukan pohon-pohon karet yang terjajar rapi, bau bacin getahnya yang sudah berhari-hari, saat hujan yang mengerikan...”&lt;br /&gt;“Hujan yang mengerikan?” sergahku.&lt;br /&gt;“Hujan yang mengerikan...”&lt;br /&gt;“Ceritakanlah padaku tentang hujanmu yang mengerikan itu...”&lt;br /&gt;Tiba-tiba, seperti sebelum-sebelumnya, kau kedinginan dan dalam waktu yang sangat cepat berubah menjadi gigil yang membuat seluruh tubuhmu memucat: bibirmu, pipimu, dan seluruh tubuhmu dan tiba-tiba aku menangis. Bibirmu berkali-kali ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak terucap apa-apa dan aku kemudian memelukmu, mendekapmu dengan sangat erat. “Aku membutuhkan jiwamu, cintamu...” dan untuk pertama kalinya, kau pingsan di hadapanku. Kau pingsan dan aku panik. Kuambil minyak angin, kompres dan kulakukan segala apa yang bisa kulakukan. Hingga menjelang subuh kau terbangun setelah tubuhmu berkeringat. Malam itu, aku menjagamu dalam diam, dan menangis juga dalam diam. Aku merasa tak mengerti apa-apa tentang dirimu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;KEMUDIAN aku memanggilmu lelaki hujan. Aku tak memaknai apa-apa dengan nama panggilan itu sebelum aku akhirnya memahami semuanya tentang satu cerita yang ingin engkau ceritakan tentang hujan yang mengerikan bagimu itu. Hujan yang mengerikan, katamu, tetapi kemudian membuatmu tumbuh menjadi pengembara yang belajar kuat meneruskan semua mimpi-mimpimu.&lt;br /&gt;“Bau bacin getah itu lama-lama menjadi seharum mawar seperti yang sering kuberikan padamu,” katamu suatu kali.&lt;br /&gt;“Mawar yang kau berikan padaku sering sudah layu meskipun sudah basah oleh hujan.”&lt;br /&gt;“Maafkan, aku harus naik-turun kereta api untuk sampai rumahmu. Dan mawar itu kubeli pada penjual bunga di dekat stasiun, ketika kubeli, dia masih segar...”&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa. Aku suka apapun pemberianmu...”&lt;br /&gt;Lalu kau cerita tentang bau bacin getah karet yang sudah direndam di dalam air berhari-hari itu. Bau bacin yang katamu berubah menjadi seharum mawar  atau sakura –aku tak peduli pada bunga yang terbawa dari kekasih masa lalumu itu di mana bunga sakura itu tumbuh—  dan membuatmu selalu tekenang pada masa lalumu, pada tanah kelahiranmu, pada masa kanak-kanak dan remaja yang kemudian kau tinggalkan.&lt;br /&gt;Aku masih ingat persis ceritamu:  “Senja itu hujan lebat Flo. Tetapi aku harus keluar rumah tanpa payung atau mantel hujan...” Bapakmu menginginkan kau jadi laki-laki kuat dan harus tahan segala cuaca. Kau pergi ke hutan karet saat hujan lebat dan petir menyambar-nyambar untuk mengangkut getah yang beku, bau dan masih basah itu. Malam nanti toke getah akan menimbangnya dan getah itu sudah harus ada di rumah sebelum malam.&lt;br /&gt;“Tapi hujan deras sekali, Bapak...”  katamu mencoba menawar kepada bapakmu.&lt;br /&gt;“Kau tak akan mati oleh hujan.”&lt;br /&gt;Dan kau kemudian berlari ke belakang rumah, mengikuti jalan setapak yang masuk ke belukar di hutan karet yang sudah tua dan tidak terawat itu. Tapi itulah sumber kehidupan keluargamu. Kau memang masih sangat remaja ketika itu, dan harus menapak pada jalan licin menurun dan mendaki untuk sampai ke rawa di mana getah bacin itu berada. Getah itu sudah dicetak menjadi bantalan dan ditenggelamkan di lumpur yang berair untuk menjaga kadar airnya yang akan mempengaruhi timbangan, dan kau harus mengangkatnya satu persatu sejauh hampir 400 meter dengan pundak atau punggungmu sampai di belakang rumah. Ibumu menangis menyaksikan itu dan dua adikmu hanya memandang sedih dari dapur rumah kayu itu ketika dalam hujan yang lebat kau bekerja keras.&lt;br /&gt;“Biar dia belajar bertanggung jawab sebagai lelaki,” kata bapakmu kepada ibumu, sempat terdengar di telingamu.&lt;br /&gt;Kau mengaku tidak dendam dengan semua itu. Sebab bapakmu sudah ringkih, terlihat tua sebelum waktunya karena beban hidup dan tembakau yang membuatnya selalu terbatuk. Kau tetap mengaku tidak dendam, karena laki-laki memang harus bertanggung jawab di kondisi apapun.&lt;br /&gt;Hujan benar-benar semakin deras dan senja sudah hampir penghujung, dan bantalan getah bacin itu masih beberapa yang belum kau angkat. “Aku sudah menggigil ketika itu Flo, dan tenagaku sudah semakin lemah...”&lt;br /&gt;Hingga kemudian ketika bantalan bacin basah itu tinggal satu, kau benar-benar tidak memiliki tenaga dan hari sudah benar-benar gelap. Kau tetap mengangkatnya dan harus berjalan di pendakian yang licin, sementara kakimu tanpa sepatu, hanya telanjang dan menggigil. Dan tiba-tiba, ketika tenagamu benar-benar habis, kau terpeleset, bantalan bacin itu menimpa tubuhmu yang telanjang tanpa baju dan kau bergulingan hingga sebatang pohon karet menahan tubuhmu. Kau kesakitan, tetapi tidak ada yang menolong. Kau ingin berteriak tetapi suaramu tak keluar. Kau akhirnya benar-benar kedinginan, juga kesakitan, dan menggigil seperti berada di dalam bongkahan es, sebelum bapakmu menemukanmu dalam keadaan pingsan di bawah pohon karet, saat hujan mulai reda dan malam sudah benar-benar menggelapkan kampung.&lt;br /&gt;Kau tetap mengaku tidak dendam dengan masa lalu itu. Hingga kemudian kau memilih pamit pada bapak, ibu dan dua adikmu untuk pergi jauh mengembara. Kau merasa dunia di luar kebun karet itu memberikan harapan-harapan dan pengalaman hidup yang lebih baik. “Biarlah dia pergi, laki-laki harus punya pengalaman hidup untuk menguatkannya,” kata bapakmu kepada ibumu yang terdengar ke telingamu ketika langkahmu menyeberang pintu. Kau kemudian pergi saat hujan dan malam gelap. Meninggalkan kampungmu, rumah kayu, hutan karet, bau bacin dan segala kenangan tentang masa kecil dan remajamu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;AKU tak tahu mengapa segala yang berhubungan denganmu juga berhubungan dengan malam dan hujan. Ketika aku mendengar kabar itu, juga sedang hujan dan badai. Kabar  yang selalu memberikan kepedihan meski aku bahagia ketika mengenang segala saat bersamamu. Aku tak percaya ketika itu, saat seseorang yang aku sendiri tak mau tahu siapa namanya, datang ke rumah saat hujan dan mengabarkan tentangmu. Seorang laki-laki ditemukan mati di pinggir rel kereta api dekat stasiun dan di tangannya masih memegang bunga mawar yang sudah mulai layu meski basah oleh hujan yang deras. Tak ditemukan apa-apa di kantongnya, selain alamat rumahku.&lt;br /&gt;Mulanya aku tak percaya, tetapi kemudian aku menangis diam dan air mataku mengalir deras  saat melihat tubuhmu memucat di ruang  mayat rumah sakit itu. Kata dokter yang mengotopsimu, paru-parumu sudah rusak. Di mulut dan bajumu tersisa bercak darah. Mungkin kau batuk dan muntah darah sebelum ajal menjemputmu. Dokter juga mengatakan bahwa mawar yang ada di genggamanmu tak ada yang bisa mengambilnya. Dan ketika kubuka genggaman tanganmu, dengan mudah aku bisa mengambilnya.&lt;br /&gt;“Mungkin dia ingin memberikan bunga mawar itu kepada Nona,” kata dokter itu.&lt;br /&gt;Malam dan hujan selalu menyimpan segala cerita tentangmu, bahkan ketika kini rambutku mulai memutih dan usiaku semakin bertambah tua.  Namun segala yang pernah hidup denganmu tetap berada di sini: hujan, malam, mawar yang hampir layu dan bau bacin getah karet yang sering tiba-tiba datang dan tak tahu berasal dari mana...***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391537518290239180-934667007680374174?l=harybk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harybk.blogspot.com/feeds/934667007680374174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5391537518290239180&amp;postID=934667007680374174' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/934667007680374174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391537518290239180/posts/default/934667007680374174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harybk.blogspot.com/2007/06/tentang-lelaki-dan-hujan.html' title='Tentang Lelaki dan  Hujan'/><author><name>harybk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10623302116730683822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
